
Hari ini tidak seperti biasanya, Zhaoling pergi untuk mengurus sekelompok bandit yang menamai dirinya sebagai 'Perampok Bertopeng'.
Biasanya, Jendral Hui atau Jendral Jun yang mengurus masalah pemberontak atau para bandit yang mengacau wilayah kekuasaannya. Tapi, menurut laporan Jendral Hui sebelumnya, bahwa para Perampok Bertopeng itu memiliki kemampuan bertarung cukup hebat, serta sangat licik.
Tak ada yang bisa menghentikan mereka yang selalu berbuat onar, kecuali Zhaoling sendiri yang turun tangan. Karena, kemampuan Zhaoling dalam ilmu bela diri sangat tinggi, sehingga akan mudah bagi mereka meringkus semua penjahat yang selalu mengacau tersebut.
Tok ... tak ... tok ... tak ...
Suara langkah kuda terdengar berlari cukup kencang. Bukan hanya satu, tapi tiga kuda sekaligus dengan ditunggangi oleh tiga pria dewasa juga. "Hiyaaaaa,"
Ketiga orang tersebut menuju arah yang ditunjukan prajurit yang memberi laporan kepada Zhaoling, bahwa ada perampok yang menghadang Bangsawan di daerah itu.
Cukup lama mereka berlari, akhirnya sampai juga di daerah tempat Bangsawan di rampok. Tapi, sesampainya di sana, tak ada siapapun di tempat tersebut. Bahkan, tempat itu bersih dari segala bentuk tindak kejahatan yang seharusnya tak bisa dihilangkan dalam sekejap. Seolah, tak pernah terjadi apapun di tempat itu sebelumnya.
Ketiganya kebingungan melihat lokasi yang ditunjukan prajurit itu. "Apa kita salah tempat?"
Mereka memeriksa sekeliling untuk mencari bukti atau petunjuk yang ditinggalkan, namun tak ada sedikitpun yang tersisa. "Gak ada apapun disini!"
Akhirnya, mereka menyerah dan akan pergi meninggalkan tempat ini. Namun, sesuatu tertangkap oleh Indra Penglihatan Zhaoling, sehingga dia melambaikan tangan menyuruh kedua temannya berhenti. "Sssttt, ada sesuatu!" desisnya seraya menempelkan jari di bibir.
Liu Wei dan Yu Xuan pun diam mengikuti perintah Zhaoling. Ketiganya bergerak perlahan dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar karena, mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh. Hanya menahan sedikit tenaga dalam saja, tubuhnya bergerak leluasa tanpa terdengar langkah kaki.
Perlahan, mereka bergerak kearah sumber suara yang di dengar Zhaoling sebelumnya. Karena, dialah yang bisa mendengar suara bahkan paling kecil sekalipun.
Sreeeeettt
"Hhhmmmpphhh," terihat seorang pria menggelengkan kepala saat pedang Zhaoling diarahkan padanya. Mulut, serta tangan dan kakinya terikat kain, sehingga membuatnya tak bisa melakukan apapun walau hanya berteriak minta tolong.
Pria itu sengaja ditinggalkan di semak-semak belukar oleh seseorang, agar tidak terlihat orang lain. "Hhhmmpphhh," dia meronta meminta pertolongan ketiga pria dihadapannya.
Yu Xuan bergerak maju untuk membukakan tali dan membantunya berdiri. Namun, tetap dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Siapa tahu ini jebakan. Pikir ketiganya.
"Tuan, tolong saya!" ucap pria itu memelas, setelah semua ikatannya dilepaskan.
Liu Wei berdiri didepan Zhaoling untuk melindunginya. "Katakan! Siapa kau?" sebilah pedang diarahkan kepadanya.
Pria itu langsung mundur sambil mengangkat tangannya. "Ampuni aku, Tuan! Aku hanyalah pelayan kecil keluarga Tuan Tang. Kami baru saja dirampok dan Tuan Tang dibunuh, serta harta bendanya di ambil mereka." tutur pria itu.
"Rampok?" ketiganya saling pandang, kemudian menatapnya kembali. "Dimana para perampok itu sekarang?" tanya mereka bersamaan.
"Mereka baru saja pergi kearah sana, Tuan!" tangannya menunjuk arah pegunungan Tai Kowthok. Seringai di wajah pria itu tak terlihat oleh ketiganya, karena wajah mereka menghadap kearah yang ditunjuk pria ini. Namun, saat ketiganya menoleh lagi, pria itu segera merubah mimik mukanya menjadi bersedih kembali.
"Sudah berapa lama mereka pergi?" tanya Zhaoling.
"Belum lama, Tuan." sahutnya seraya menundukkan kepala.
Ketiganya saling pandang, kemudian mengangguk bersamaan. "Ayo, kita kejar mereka!"
Mereka dengan sengaja menunjukan arah yang salah kepada orang yang melintasi jalan tersebut. Dengan berpura-pura menjadi korban perampokan, mereka menunjukan jalan yang salah agar para Bangsawan masuk ke dalam jebakan. Hal itu mempermudah bagi mereka untuk beraksi tanpa diketahui.
Setelah memastikan ketiga pria itu masuk kedalam jebakan yang dibuat, dia langsung memberikan sinyal pada teman-temannya untuk beraksi. Dia tahu, bahwa ketiga pria tadi adalah seorang Pendekar yang datang dari Kerajaan. Maka dari itu, ia menggiring mereka untuk masuk ke dalam jebakan yang telah disiapkan.
Saat memasuki daerah Pegunungan Tai Kowthok. Zhaoling maupun kedua pengawal bayangannya tak menemukan apapun di tempat tersebut. Mereka kebingungan karena, daerah tersebut hanya sebuah bukit berbatu, serta tak ada jejak dari kaki Manusia ataupun Binatang.
Setelah cukup jauh memasuki area tersebut, mereka baru menyadari bahwa mereka telah ditipu dan dijebak oleh pria yang mengaku menjadi korban tadi. "Sialan!" umpat ketiganya geram. Namun, mereka sudah terlambat untuk menyadari hal tersebut.
Dari tanah yang dipijak, muncul retakan yang membuat mereka jatuh ke lubang yang dalam. Tapi, dengan cepat ketiganya langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga mereka melayang di udara dan naik kembali keatas.
Saat kaki ketiganya sudah mendarat lagi di tanah. Tiba-tiba sebuah bongkahan batu besar terlempar kerah mereka. Beruntung mereka cepat menghindar, sehingga batu besar itu tak mengenainya dan jatuh menabrak pepohonan di belakangnya.
"Syukurlah!"
Tapi, jebakan belum berhenti di sana. Sebuah potongan kayu besar bergerak dengan cepat kearah ketiganya dari segala arah. Mereka tak dapat menghindari potongan kayu tersebut, dan hanya bisa mengeluarkan tenaga dalam untuk memukulnya.
Brakk ...
Kayu gelondongan itu langsung hancur menjadi serpihan sebelum jatuh ke tanah. Tapi, sebuah kurungan yang terbuat dari besi tiba-tiba jatuh menimpa ketiganya. Akhirnya, mereka terkurung seperti Hewan buruan yang dimangsa di Hutan.
"Ada apa ini?" ketiganya panik karena tiba-tiba saja mereka terkurung di sangkar besi.
"Hahaha," terdengar suara tawa dari beberapa orang . Kemudian, orang-orang itu menunjukan diri dihadapan ketiganya dengan wajah tertutupi topeng sepenuhnya. "Ckk, ini Panglima Xili yang terkenal itu?" ejek mereka masih dengan tawanya.
Zhaoling menggertakan gigi sembari mencengkram kuat jeruji besi itu. "Siapa kalian?" walaupun ia sudah tahu bahwa orang-orang ini adalah perampok bertopeng, tapi Zhaoling tetap bertanya. "Untuk apa kalian mengurung kami seperti ini?" tanya-nya lagi.
Seorang wanita memakai pakaian serba hitam, dengan menggunakan topeng yang sama seperti kelompoknya, menatap Zhaoling sinis. Bahkan, tangannya terkepal menandakan amarah dan kebencian yang begitu besar. Tapi, wanita itu tak mengeluarkan sepatah katapun.
Zhaoling memperhatikan satu persatu orang-orang ini. Namun, matanya tiba-tiba menangkap sosok wanita yang berdiri tak jauh dari kurungan besi tersebut. Zhaoling tak dapat mengalihkan perhatiannya, dan hanya fokus kepada sorot mata yang terpancar dari balik topeng itu. "Aku seperti mengenal tatapan tajam itu!" gumamnya seraya terus memperhatikan dengan seksama.
Tapi, lamunannya harus buyar karena teriakan ejekan mereka. "Kalian tidak akan bisa keluar dari sini untuk beberapa hari. Mungkin juga ... untuk selamanya. Hahaha,"
"Kurang ajar! Lepaskan kami," teriak Liu Wei dan Yu Xuan marah. "Jika kalian berani, maka kita bisa bertarung sekarang juga!" tantang keduanya.
Mereka hanya tersenyum miring menanggapi teriakan kedua pengawal bayangan Zhaoling. Jika berniat bertarung, maka dari awal mereka akan melawan ketiga orang ini dan tak kan menggunakan beberapa jebakan untuk menangkapnya. Karena mereka tahu, bahwa tak mudah untuk bisa mengalahkan Pendekar dari Perguruan Naga Bayang itu. Apalagi, nama Zhaoling sudah terkenal di seluruh penjuru daratan Benua Jhajhanan.
"Maaf, kalian harus berada di sini. Karena, kami akan melaksanakan tugas yang penting!" ujar salah seorang sebelum mereka meninggalkan ketiganya yang terus berteriak meminta di keluarkan.
"Aaaarrrgghhh. Brengsek mereka," umpat Liu Wei dan Yu Xuan kesal. Mereka berdua sudah mencoba untuk bisa keluar dari jeruji besi ini, namun tetap usahanya gagal.
Sedangkan Zhaoling hanya diam tanpa melakukan apapun. Dia terus memikirkan sorot mata tajam yang menatapnya penuh kebencian. Tatapan tajam mata itu mengeluarkan rasa rindu yang mendalam, sekaligus rasa benci yang sangat besar untuknya. Zhaoling mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak mungkin!"
...Bersambung ......