
Sudah tiga hari berlalu, namun Sesil masih belum ditemukan sama sekali. Hal itu membuat Rudi semakin drop dari hari ke hari. Kesehatannya menurun drastis, membuat pria renta itu hanya bisa berbaring di kamarnya.
Naina yang juga merasakan kesedihan pria tua itu, kini turut merawat ayah mertuanya tersebut. Meski ada seorang pelayan yang khusus mengurus Rudi, tetapi Naina tidak ingin hanya berpangku saja. Dia turut merawat dan menyemangati pria itu.
"Aku pulang." suara Reygan yang baru saja pulang dari kantor.
"Hubby." sambut Naina yang kebetulan lewat dari sana. Wanita itu menyambut pelukan suaminya dan menerima ciuman bertubi-tubi di keningnya.
"Dimana anak-anak?" tanya Reygan, berjalan sambil merangkul istrinya.
"Udah pada tidur. Gimana keberadaan Sesil?"
"Belum ada perkembangan." Reygan lesu.
Naina tersenyum kecut, "Jangan sedih. Percaya sama aku. Secepatnya Sesil akan ketemu." Reygan menenangkan.
Wanita itu mengangguk, "Aku khawatir sama Papa. Kondisi kesehatan Papa makin buruk, karena mikirin Sesil dan Stella."
Meski Reygan sedih akan apa yang menimpa keluarganya, tapi dia tetap berusaha tegar di depan mereka.
Tangan lebarnya merangkum wajah Naina lembut, "Istriku yang cantik. Jangan sedih lagi. Nanti cantiknya hilang. Cukup berdoa dan bantu kasih Papa pengertian. Aku yakin, Sesil akan ketemu."
Naina mengangguk, lalu menjinjitkan kakinya agar bisa mencapai pria jangkung itu, kemudian mengecup bibirnya dengan dalam.
"Aku percaya sama kamu." kata Naina.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing, namun malah membuat Naina tersenyum malu.
"Ada apa?" Naina berusaha menutupi rasa malunya. Keduanya baru saja sampai di lantai atas, tepatnya di depan kamar Steve. Entah mengapa keduanya berhenti di sana.
"Kamu nggak kangen aku?" tanya Reygan membuat Naina bingung.
"Kita nggak jadi bikin adik bayi untuk Giselle?" ucap Reygan dan barulah Naina mengerti.
Naina hanya bungkam, bagaimana pun dia masih tetap malu. Bahkan ketika Reygan mulai mendekat, kemudian meraup bibirnya yang ranum dengan ******n lembut, Naina hanya bisa mematung.
Naina baru sadar bahwa mereka saat ini tidak ada di kamar. Wanita itu khawatir ada yang melihat mereka, membuatnya berusaha meronta dari dekapan suaminya. Tetapi Reygan sepertinya enggan, justru semakin menciumnya dengan dalam.
Naina semakin panik, kala terdengar bunyi pintu kamar Steve yang akan dibuka dari dalam. Tanpa pikir panjang, Naina mengerahkan kekuatannya, lalu mendorong Reygan hingga terjerembab di lantai.
"Papa, Mama?" bertepatan saat itu, Steve muncul dari kamar. Keheranan melihat kedua orang tuanya.
"Sayang?" Reygan menatap tidak percaya karena istrinya tega mendorongnya hingga terjatuh.
Naina mengusap bibirnya yang diyakini telah berantakan. Sebelum Reygan pulang Naina memakai lipgloss berwarna merah muda.
"Ah.. sayang, kamu belum tidur?" ucap Naina berusaha menutupi kecanggungan.
Steve menggeleng, "Steve haus. Mama... berantam sama Papa?" tanya Steve.
Reygan berdiri, sementara Naina kebingungan menjawab.
"Tidak. Tadi Papa jatuh sendiri." jawab Reygan.
Steve mengangkat alisnya, "Jatuh? Orang Steve liat sendiri Mama yang dorong Papa sampai kejengkang." sahut Steve membuat Reygan jengkel.
"Udah, nggak usah kepo sama urusan orang tua. Sana, katanya haus." ucap Reygan lalu menarik tangan Naina. "Ayo sayang."
Naina menurut saja, sebab dia sangat malu. Berharap Steve tidak melihat apa yang sebelumnya terjadi.
"Maaf sayang. Namanya juga nggak tahan lagi. Ingat, aku puasa udah mau seminggu loh." ujar Reygan mencari alasan.
"Baru seminggu nggak tahan? Terus delapan tahun kenapa bisa tahan?"
Reygan mengangkat bahunya, "Entah. Soalnya dulu liat foto kamu yang nggak pake baju aja aku udah puas." ucapnya enteng.
"Apa?" Naina speechless. "Foto? Foto yang mana?"
Reygan tersenyum licik, "Ikut aku." menarik istrinya menuju sebuah tempat.
"Kita mau kemana?" tanya Naina karena mereka telah melewati koridor menuju kamar mereka.
"Ikut aja. Kamu pasti suka dengan kejutan aku." terus membawa Naina, hingga akhirnya mereka berada di ujung tangga yang menuju lantai tiga.
Naina berhenti tiba-tiba. Kilasan masa lalu seketika berputar dalam ingatannya.
"Kenapa berhenti?" Reygan pun turut berhenti.
Naina hanya diam, meski semua sudah berlalu, wanita itu tetap saja enggan naik ke lantai tiga. Sudah hampir dua bulan dia kembali ke rumah ini, Naina berusaha agar tidak melewati area menuju lantai tiga. Entahlah, dia masih belum berani.
Reygan mengerti apa yang ada dalam pikiran Naina, membuatnya akhirnya berusaha meyakinkan.
"Sayang, aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Tapi kumohon, ikut aku ke sana, dan aku akan membuat kamu lupa dengan semua masa lalu itu." ucap pria itu penuh keyakinan.
Cukup lama Naina menatap suaminya, hingga akhirnya dia mengangguk.
Reygan tersenyum, "Ayo."
Keduanya akhirnya naik ke lantai tiga. Bagian dari rumah itu, yang paling traumatis dalam hidupnya.
Reygan membuka pintu kamar satu-satunya di lantai itu, membiarkan Naina masuk lebih dulu ke dalam kamar.
Begitu Naina masuk, maniknya membulat dengan sempurna. "Ya ampun. Rey!" teriaknya.
Naina membekap mulutnya, sedangkan maniknya dengan syok melihat foto-foto yang tergantung di setiap sudut dinding kamar. Hampir semua dinding kamar, dipenuhi dengan foto-foto dirinya sendiri dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
"Tadaaa... gimana sayang? Kamu terkejut kan?" kata Reygan tanpa merasa berdosa sedikit pun.
Naina menganga, speechless, tidak bisa berkata-kata akan kekonyolan suaminya.
"Kamu gila?!" bentaknya.
Sangat mengesalkan, pria itu malah mengangguk dengan percaya diri, "Ya, aku sudah gila. Aku gila karena dirimu."
Naina tertawa hambar, wajahnya merah. Dia sangat malu bukan kepalang. Lihat, tubuh polosnya terpampang nyata di setiap sudut kamar.
Dan yang paling membingungkan, kapan pria ini mengambil fotonya dalam keadaan seperti ini? Mengapa dia tidak sadar sama sekali?
"Kamu terkejut kan?" kata Reygan lagi.
"Bukan cuma terkejut, tapi aku udah mau gila!" bentak Naina. Bisa-bisanya laki-laki itu melakukan hal segila ini.
"Jangan gila sayang. Cukup aku yang gila karena kamu." ujar pria itu.
Rasanya Naina ingin menjambak pria menyebalkan di hadapannya ini. Tapi dia sudah speechless duluan melihat foto-foto itu.
TBC