My Bule Husband

My Bule Husband
Trauma


Reygan masih belum melepas tangan Naina. Dia dengan kekuatan penuh menyeret gadis itu menjauh dari mobil, lalu membawa masuk ke dalam mobilnya. Naina meronta, tapi tak sedikitpun kekuatannya menyamai pria bertubuh besar itu.


Pria itu tidak peduli, bahkan ketika Naina berteriak pun. Reygan memaksa, menjejal tubuh Naina masuk ke dalam mobilnya. Lalu buru-buru ikut masuk ke dalam mobil.


"Bapak sudah gila?!" teriak Naina saat Reygan sudah masuk ke dalam mobil.


Naina mencoba keluar, tapi secepat kilat Reygan menariknya, hingga kepala terbentur dashboard mobil. Itu menyakitkan. Tapi Reygan tidak peduli.


"Diam ****** kecil! Jangan coba-coba keluar atau kamu akan merasakan akibatnya!" desis pria itu mencengkeram rahang Naina.


Tatapannya begitu tajam membuat Naina ketakutan. Dalam ketakutannya Naina dapat mencium aroma alkohol yang pekat dari tubuh Reygan. Pria itu mabuk, membuat Naina tidak memasukkan ke hati cemoohan pria itu barusan.


"Anda mabuk! Kontrol emosi Anda!" Naina mendorong dada Reygan sekuat tenaga. Tapi tak sedikitpun Reygan bergeser.


Reygan malah semakin mengungkung tubuh mungilnya. Aroma alkohol dari nafas pria itu menyeruak di indra penciumannya, membuat Naina pusing.


"Aku tidak mabuk perempuan murahan!"


"Pak..." Naina menghindari wajah pria itu yang semakin mendekat. Apalagi ketika Reygan dengan lancang menyentuh bahu kanannya dengan gerakan sensual, membuat Naina bergidik.


"Apa yang bapak lakukan?! Lepas!" Naina meronta. Sangat tidak suka diperlakukan seperti ini.


Di luar dugaan, Reygan malah terkekeh. Pria itu memandang dengan sinis. "Kenapa kamu berlagak seperti perempuan suci Nyonya Dos Santos?" ujar pria itu disertai nada suara mengejek.


Naina diam, tidak bisa bergerak ketika Reygan dengan lancang menyentuhnya. Dia sangat terkejut.


"Bukankah kamu menyukainya hmm?" Reygan tidak peduli. Kamu suka bukan jika aku menyentuhmu seperti ini?" kembali pria itu menyusuri bahu hingga lengan Naina.


"Ehhmm apakah Chris juga melakukannya? Atau lebih dari ini?"


Tanpa disangka lagi, Reygan tiba-tiba menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya. Pria itu brutal, mencium di sana. Naina tersadar, meronta, mendorong Reygan menyingkir dari tubuhnya. Namun sangat disayangkan, dirinya tidak cukup kuat untuk pria sekuat Reygan.


Reygan menyesap kulit leher hingga dada gadis itu dengan kasar. Tangis Naina pecah saat itu juga. Gadis itu merasa direndahkan dengan pelecehan ini. Reygan memang suaminya, tapi bukan seperti ini seharusnya.


Tangan besar pria itu tidak tinggal diam, menyentuh tubuh Naina sesukanya. Naina semakin berteriak, menangis sekuat mungkin.


"Bagaimana? Apakah Chris juga melakukan seperti ini pada tubuhmu? Katakan padaku, siapa yang lebih pandai. Aku atau dia?" pria itu berhenti, memberikan pertanyaan sarkas.


Naina diam, bibirnya bergetar dengan pandangan kosong. Tidak menghiraukan Reygan di depannya. Dia masih syok akan perlakuan tidak senonoh itu.


"Kamu adalah perempuan paling murahan yang pernah kukenal Naina. Disaat kamu masih memiliki suami, dengan sangat lancang kamu bermain api dengan laki-laki lain." sarkas pria itu. Masih menggenggam lengan Naina, meremasnya dengan kuat. Pria itu tidak peduli saat Naina terlihat linglung dengan air mata membanjiri wajahnya.


Reygan melepas Naina dengan kasar, lalu menyingkir dari tubuhnya.


Beberapa saat kemudian Reygan tidak lagi bersuara. Hanya isak tangis Naina memenuhi kesunyian dalam mobil. Naina melihat Reygan sudah tidak sadarkan diri, bersandar di kursi kemudi.


Dengan susah payah Naina melangkahkan kakinya yang lemas untuk turun dari mobil. Namun sebelum itu terjadi, tangan besar itu tiba-tiba menarik tangannya.


"Tinggalkan pria itu." suara Reygan mendera, tetapi mata pria itu masih terpejam.


Naina langsung menarik tangannya, dia jijik. Kemudian segera keluar dari mobil itu.


Naina berjalan menuju mobil sebelumnya yang masih ada di sana, sambil mengeratkan kemejanya yang berantakan tidak karuan.


"Nyonya..." melalui kaca depan wajah supir penuh tanya.


Naina menghapus air matanya, memaksakan senyum sambil berkata, "Aku tidak papa. Kami hanya bertengkar masalah kecil." ucap Naina.


Dan Pak Ahmad tahu Naina berbohong.


Pak Ahmad tidak ingin lancang bertanya lagi, kemudian segera melajukan mobil, melanjutkan perjalanan yang tertunda.


Naina sangat tidak bisa menahan tangisnya selama perjalanan. Dia terisak sepanjang perjalanan.


Naina turun dari mobil setelah memperbaiki tampilannya yang berantakan. Steve pasti masih belum tidur. Dia tidak ingin Steve bertanya-tanya jika melihat dirinya seperti ini.


Naina tidak langsung ke kamar tidurnya. Dia tidak ingin kembali ke kamar milik laki-laki brengsek itu.


Setelah mengetuk pintu kamar, Naina langsung masuk ke kamar Steve.


"Steve." suaranya serak memanggil Steve di kamar yang temaram itu. "Kamu udah tidur?"


"Happy birthday Mama...." tiba-tiba lampu menyala terang. Steve melompat dari atas tempat tidur sambil membaca kue ulang tahun untuknya.


"Steve..." Naina terkejut.


"Happy birthday to you.. Happy birthday to you... happy birthday.. happy birthday.. Happy birthday Mama...." Steve bernyanyi untuknya. Dan itu berhasil memancing tangis Naina.


"Steve..." hanya itu yang bisa Naina katakan.


"Tiup lilinnya Mama...." ucap Steve.


Untuk yang kesekian kalinya Naina meniup lilin angka dua puluh tiga hari ini. Tapi ini yang paling menyesakkan dadanya.


Steve meletakkan kue di meja dekatnya, lalu melebarkan tangannya untuk memeluk Naina.


Naina dengan senang hati menyambutnya, "Selamat ulang tahun Mama. Semoga panjang umur. Sehat dan bahagia selalu."


Naina semakin memeluk erat Steve, tangisnya sangat dalam. Steve bagai obat setelah Reygan melukainya.


"Terima kasih sayang. Mama sangat mencintaimu."


"Mama menangis?" jelas Steve merasakan tangisan Naina.


Naina melepas pelukannya, "Ehmm.. Mama terharu, bahagia dengan kejutan dari Steve. Sudah lama Mama tidak merayakan ulang tahun setelah keluar dari panti."


"Benarkah?"


Naina mengangguk, "Kalau gitu mulai tahun depan Steve akan selalu merayakan ulang tahun Mama. Steve akan minta Kakek buat pesta besar seperti pesta ulang tahun Steve." timpal Steve.


Naina tertawa, "Terima kasih sayang. Mama menyayangimu."


"Steve juga."


TBC