
Beberapa hari berlalu. Naina menjalani kehidupannya seperti biasa. Mungkin ada sedikit hal baru. Yaitu dengan kegiatannya mengelola toko kue yang baru dirintisnya.
Suatu kemajuan yang pesat, dimana sekarang tokonya sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Dan setiap harinya, selalu ada pesanan untuk dikirimkan ke sebuah instansi.
Di tengah kesibukannya, tentu waktunya bersama Steve, putra sambungnya menjadi sedikit. Oleh karena itu, Naina mengakalinya dengan membawa Steve ke tokonya sesekali.
Setelah mengetahui kenyataan pahit tentang suaminya, Naina kini telah menutup hatinya rapat-rapat. Meski sudah terlanjur, dia tidak akan membiarkan Reygan mempermainkan hatinya lagi.
Saat ini, Naina akhirnya tahu segalanya. Dengan sedikit paksaan pada Elisa, pelayan itu akhirnya menceritakan semuanya. Tentang mantan istri Reygan yang telah meninggalkan Steve dan Reygan beberapa tahun lalu. Hingga yang paling utama, bahwasanya Reygan belum melupakan mantan istrinya.
Naina tertampar dengan kenyataan ini.
Satu hari ini Naina bekerja di toko. Steve tidak ikut karena sedang memiliki kelas dengan guru privatnya. Setelah menyelesaikan semua pesanan, Naina memilih pulang. Memberikan sisa pekerjaan lain pada karyawannya.
Hari ini dia pulang dengan Pak Ahmad, karena Reygan tidak bisa menjemputnya seperti biasa. Selama di perjalanan, entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang. Seperti, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Tapi Naina menepisnya. Dia tetap tenang sampai mobil terparkir di halaman rumah besar itu.
Masih pukul enam sore saat itu. Naina yang mengenakan gaun selutut memasuki rumah. Sebelum benar-benar masuk, samar-samar dia mendengar suara tawa dari ruang keluarga.
Naina penasaran, hingga membawa langkahnya ke sana.
Begitu sampai di sana, langkahnya berhenti tiba-tiba. Jantungnya seperti akan lepas, melihat dua wanita yang selalu ingin dia hindari.
Emma dan Sesil. Dua wanita beda generasi itu kini duduk di sana. Tertawa bahagia tidak kurang sesuatu apapun.
Entah sejak kapan mereka ada di sini.
Keduanya tentu terganggu oleh kehadiran Naina. Mereka berbisik begitu melihatnya.
"Oma, wanita itu pulang." kata Sesil.
Emma melirik Naina sekilas, pandangan angkuh itu masih melekat.
"Biarkan saja." jawabnya sambil menyesap tehnya.
Naina merasa dunianya menjadi suram, kehadiran Emma dan Sesil adalah kesengsaraan baginya.
Naina menggigit bibirnya, sebelum melangkah pergi dari sana.
Naina pikir, dia akan melihat Steve. Dia cukup merindukan putranya itu setelah seharian tidak bertemu.
"Steve." panggilnya begitu membuka pintu kamar Steve.
Lagi, Naina kebingungan melihat pemandangan di dalam kamar.
"Mama." sahut Steve. Bocah itu tengah duduk di pangkuan seorang wanita yang tidak dikenalnya.
Steve tersenyum cerah, "Mami, turunkan aku." katanya.
Wanita yang terlihat sangat cantik itu menurut. Membiarkan Steve berlari ke arah Naina.
Naina menyambut Steve, tetapi matanya tak urung terus melihat wanita yang sepertinya bukan orang lokal. Wanita itu sepertinya satu ras dengan suami dan putranya. Wanita bule.
Wanita itu tersenyum pada Naina, membuat Naina mau tak mau membalasnya.
"Siapa?" tanya Naina lembut. Wajah itu terlihat familiar, tapi sangat susah untuk mengingatnya.
Steve membawa Naina mendekati wanita itu, "Mama, kenalkan ini Mami Steve." ucap Steve dengan semangat.
"Mami?" ulangnya. Keningnya berkerut memikirkan perkataan Steve.
Wanita cantik itu tersenyum manis, menjulurkan tangannya pada Naina. "Natasya, Mami kandung Steve." wanita itu memperkenalkan diri.
Naina mengedipkan matanya beberapa kali. Dia baru ingat wajah itu. Wanita ini sangat mirip dengan foto yang ada di kamar di lantai tiga.
Dia adalah mantan istri Reygan.
TBC