My Bule Husband

My Bule Husband
Steve Berpaling


Hari ini, Naina, Rudi, Steve dan suami tampannya sedang berada di pemakaman suami dari Elisa. Tidak mengherankan lagi, seorang saudagar kaya seperti keluarga Dos Santos mau menghadiri pemakaman pelayan mereka.


Karena Elisa adalah salah satu pelayan kepercayaan mereka. Wanita itu sudah mengabdikan dirinya sepuluh tahun lebih di keluarga itu.


"Elisa, jangan terus berlarut-larut dalam kesedihan. Ingat kamu masih punya anak-anakmu dan Ibumu." nasihat Rudi setelah pemakaman selesai.


Elisa mengangguk, wanita itu masih enggan bicara. Nampak kesedihan yang mendalam di wajah itu.


"Biaya anak-anakmu, kamu tidak perlu risau. Mereka akan menjadi tanggungan kami." ujar Rudi lagi.


Elisa menatap Rudi dengan sangat dalam. "Terima kasih Tuan Besar." ucapnya dengan sangat tulus.


Rudi mengangguk, "Kalau begitu pulanglah. Tenangkan dirimu. Jangan datang ke rumahku sebelum kamu tenang."


Elisa mengangguk, dia menyusul anak-anaknya yang sudah menunggu di mobil. Sebelumnya Naina tersenyum, memberikan semangat pada pelayannya tersebut.


"Ayo pulang." ajak Rudi.


Naina memegang Steve, keduanya selalu menempel sejak dari rumah Elisa membuat Reygan yang selalu terpisah dari mereka, mendengus kesal. Steve selalu menghalanginya setiap Reygan berencana mengganggu Naina.


Mereka semua memasuki mobil yang sama. Rudi berada di depan bersama supir, sedangkan ayah ibu dan anak itu berada di bangku penumpang. Steve berada di tengah Naina dan Reygan.


Jika ada Reygan, Steve memperketat penjagaannya terhadap Naina. Apalagi Steve pernah menangkap Reygan yang ingin menyentuh Naina, membuatnya menjadi waspada.


Seperti saat ini, Naina tengah memandangi pemandangan luar dari kaca mobil. Steve tengah asik membicarakan sesuatu yang tidak dia mengerti dengan Rudi.


Ketenangan Naina terganggu saat sesuatu tiba-tiba mencolek lengannya. Naina seketika menoleh, dan Reygan menyambut dengan wajah mengesalkannya.


Naina melontarkan tatapan sengit, justru malah membuat Reygan tersenyum. Seolah masih belum puas, Reygan melebarkan tangannya dan sengaja meletakkan telapak tangannya di kepala Naina.


"Papa ngapain?!" sarkasnya.


Reygan terkejut, dia tertangkap basah. Reygan segera memperbaiki posisi duduknya, tidak menjawab pertanyaan putranya.


"Jangan ganggu Mama, Pa!" Steve menatapnya dengan sengit.


Rudi terkekeh, wajah putranya yang terlihat pias adalah sesuatu pemandangan yang langka baginya.


"Steve, biarkan Papamu. Mama Naina juga milik Papamu." ucap Rudi sengaja ingin memprovokasi cucu dan anaknya.


Steve tidak terima dan langsung menyanggah, "Tidak. Mama Naina cuma Mama Steve!" ketusnya mentah mentah.


"Tapi Mama Naina istri Papamu. Papa yang lebih berhak." timpal Rudi. Pria tua itu menikmati percakapan ini.


"Tapi Papa jahat sama Mama. Papa sering buat Mama nangis!" timpal Steve membuat Reygan yang menjadi topik pembicaraan menjadi pias.


"Menangis? Reygan, apa yang kamu lakukan pada menantuku? Kenapa Naina sampai menangis?" kali ini justru Rudi yang malah terpancing.


Reygan hampir menjawab, tapi Steve langsung menyela. "Iya Kakek. Steve sering liat Papa marah-marah sama Mama. Waktu itu Mama sampai pingsan gara-gara Papa. Terus waktu ulang tahun Mama, Mama juga menangis setelah pulang kerja. Waktu Mama tidur, Mama mengigau, teriak-teriak biar panggil Papa sambil nangis." beber Steve terang-terangan membuat semua orang dewasa itu terperangah.


Termasuk Naina, "Steve, bukan seperti itu." Naina mencoba mencela.


"Reygan!" suara Rudi menjadi menyeramkan.


Sedangkan sang pelaku menunjukkan wajah kecut. Putranya kini telah berpaling darinya. Reygan bingung, sebenarnya darah siapa yang mengalir di tubuh anak ini, darahnya atau Naina? Sekarang putra kandung sendiri telah mengolok-oloknya.


TBC