My Bule Husband

My Bule Husband
After a long time


"Tuan, Anda harus melihat ini." kata Doni yang tiba-tiba saja mengganggu ketenangan Reygan. Reygan ingin marah, pasalnya Done telah mengganggunya di hari yang sangat menyiksa batinnya.


Hari ini, adalah hari ulang tahun istrinya tercinta. Naina. Biasanya setiap hari itu datang, Reygan akan mengurung dirinya di kamar mereka dan tidak akan pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali. Merayakan pertambahan umur sang istri sendirian.


Doni harusnya sudah tahu dengan kebiasaannya itu. Mengira bahwa Doni lupa akan hari ini.


Reygan menatap Doni dengan tajam, membuat bawahannya tersebut merasa terintimidasi. Tapi Doni tetap memberanikan diri. Karena apa yang akan dia sampaikan ini pasti akan membuat Reygan tergugah.


"Ada apa?" suaranya begitu dingin.


Doni segera menunjukkan tabletnya pada Reygan. Sebuah rekaman CCTV yang tidak terlalu jelas.


Reygan melihatnya. Dalam hitungan detik wajahnya berubah. Terdiam untuk waktu yang cukup lama, kala melihat sosok berwajah cantik yang selama ini dia rindukan.


"Don, apakah aku salah melihat?" suaranya bergetar. Memastikan apa yang dia lihat bukanlah khayalan saja.


Doni menggeleng dengan pasti. "Tidak Tuan. Itu benar-benar Nyonya Naina." kata Doni, memastikan ucapannya. "Nyonya berada di toko tadi pagi."


Toko yang dimaksud adalah toko milik Naina terdahulu. Sampai sekarang toko itu masih buka. Reygan menggantikan Naina dalam mengelola toko tersebut.


Reygan sepertinya masih belum percaya. Tetapi maniknya terus memandangi wajah yang tidak terlalu jelas itu.


"Ba..bagaimana bisa?" lirihnya. Pria itu terhipnotis akan kecantikan istri tercintanya.


Wajah Doni menjadi muram, "Maafkan saya Tuan. Saya sebenarnya ingin memberitahukan ini pada Tuan. Tapi dari kemarin Tuan mengurung diri."


Reygan masih mematung, dan terpaku. Kerinduan itu hampir melebur melalui rekaman itu.


"Tuan, Ibu Arnita telah meninggal kemarin." ucap Doni.


"Apa?!" Reygan terkejut. Ingin marah tapi dirinya yang jelas-jelas salah. Karena sedari kemarin dia benar-benar mengurung dirinya dan tidak membiarkan Doni menemuinya untuk memberitahukan hal ini.


Reygan tidak tahu harus bersedih atau bersyukur. Jika Arnita memang telah meninggal, itu artinya jalannya untuk bertemu dengan Naina akan semakin terbuka lebar. Tapi, apakah pantas dia senang atas meninggalnya wanita itu?


Setelah Naina pergi, Reygan mengurus semua hal yang berhubungan dengan Naina. Seperti panti maupun toko. Reygan selalu membantu panti dan tidak membiarkan Arnita kesulitan dalam mengelola.


Dalam beberapa tahun terakhir, Arnita sudah sakit parah. Dan Reygan selalu menunggu hari dimana Naina mengunjungi Arnita. Tapi tidak ada sama sekali tanda-tanda mereka akan bertemu.


Naina bersembunyi dibalik perlindungan Chris. Tentu Naina tahu kabar meninggalnya Arnita. Dan bukan tidak mungkin, Naina akan memunculkan batang hidungnya.


"Nyonya sekarang masih ada di panti Tuan." lalu melihat jam tangannya, "Satu jam lagi pesawat Nyonya Naina akan lepas landas." paparnya membuat Reygan melebarkan mata.


"Apa maksudmu Don?"


"Nyonya akan pergi lagi Tuan." jelas Doni.


"Secepat itu?!" lirihnya.


Doni mengiyakan membuat Reygan kalang kabut. "Cepat siapkan mobil! Jangan biarkan istriku pergi lagi!" perintah pria itu.


***


Naina masih memeluk erat sang Kakak. Dua hari ini mereka bertemu ternyata belum membuat kerinduannya luruh sepenuhnya.


"Iya Kak. Kakak juga baik-baik di sini. Naina menunggu kabar baik pernikahan Kakak."


"Nai..." Chris tampaknya tidak suka.


"Kakak itu udah tua. Masa sampai sekarang belum nikah? Di umur Kakak yang sekarang, harusnya Kakak udah punya anak. Dan Nai juga punya keponakan." Naina cemberut karena sampai sekarang Chris belum menikah juga.


"Nai, prioritas Kakak saat ini bukan itu." Chris masih berdalih.


"Terus apa?" wanita itu kesal, "Sampai kapan Kak? Lihat tuh Kak Risa, karena nggak sabar nunggu kepastian dari Kakak, dia malah ninggalin Kakak kan." sewot Naina.


Beberapa tahun lalu, Risa dan Chris sempat menjalin hubungan. Dan itu berjalan cukup lama. Tapi sudah selama itu, Chris masih belum juga memberikan Risa kepastian akan hubungan mereka. Membuat Risa akhirnya menyerah dan menuruti keinginan orang tuanya yang telah memilihkan pria lain untuknya.


Chris terlihat malas membahas hal tersebut. "Udahlah Nai. Kakak bakal nikah kok kalau udah nemu yang tepat."


Naina memutar bola matanya sambil mencibir. Selalu saja Chris berkata seperti itu.


"Ya udah deh. Terserah Kakak aja. Pokoknya dalam enam bulan ini, Naina harus dapat undangan dari Kakak. Kalo enggak, Naina sendiri yang akan carikan calon istri buat Kakak. Dan Kakak nggak boleh nolak." tegas Naina.


Chris hanya menganggap itu sebagai guyonan, "Iya iya. Udah, kamu pergi sana. Pesawat kamu udah mau flight." katanya setelah terdengar pengumuman agar semua penumpang memasuki pesawat.


Naina berdecih, tapi tak urung menurut. "Ya udah, kalau gitu Naina berangkat ya Kak." sekali lagi memeluk Chris.


"Hmm, titip salam buat Steve dan Giselle." balas Chris.


Naina tersenyum manis sebelum akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan Chris.


Beberapa menit kemudian, Naina sudah duduk di kursi first class yang sudah dipesan asistennya. Wanita itu menyandarkan kepalanya. Merasa sedikit pusing karena waktu istirahatnya tidak teratur akhir-akhir ini.


Sebenarnya Naina sedikit heran dengan keadaan pesawat. Pasalnya hanya dirinya seorang yang berada di sana. Naina memang sudah sering naik pesawat dengan kursi VIP, tapi setidaknya pasti ada penumpang lain di sana. Tapi saat ini, benar-benar hanya dia sendirian.


Naina tidak mau ambil pusing. Mungkin saja Chris memesan seluruh kursi VIP. Tidak usah diragukan lagi, Chris memang selalu berlebihan dalam melindungi dirinya.


Naina memejamkan mata saat pengumuman terdengar, pesawat akan segera lepas landas. Dan beberapa menit suasana cukup hening. Sampai terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arahnya.


Naina memicingkan mata dengan malas. Membuka sebelah matanya untuk melihat siapa yang datang.


Hal pertama yang Naina lihat adalah sepasang kaki yang dibalut sepatu kulit berwarna hitam mengkilat, tepat berada di depannya.


Naina penasaran siapa orang ini, hingga membuatnya melanjutkan melihat dari ujung kaki hingga wajah orang tersebut.


Naina termangu untuk beberapa detik setelah melihat sosok tinggi yang menjulang tinggi di hadapannya.


Suaranya tercekat, ingin berteriak. Tapi seolah ada yang menahan di tenggorokannya.


Nafasnya mulai tidak teratur, melihat bagaimana sosok yang sangat dia rindukan selama delapan tahun ini, tersenyum manis kepadanya.


TBC