
Naina terbangun karena merasa sesak di perutnya. Matanya terbuka dan langsung menemukan sosok berwajah tampan berada sangat dekat dengannya.
Naina sadar, dengan sigap menjauh dari pria itu. Dia duduk sambil menyusuri ruangan yang terlihat asing baginya. Seingatnya dia tertidur di sofa yang ada di ruangan Reygan.
Reygan masih tidur di sampingnya, dan tidak ingin membuat pria itu bangun. Naina pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Begitu keluar dari sana, ranjang sudah kosong.
Wanita itu akhirnya menemukan pintu keluar dari kamar itu. Begitu pintu terbuka, Reygan menyambutnya di sofa bersama dengan beberapa menu makanan di atas meja.
"Kemari." perintah pria itu.
Naina melihat makanan yang sangat menggugah seleranya. Dia belum makan sejak siang dan ini sudah pukul empat sore. Perutnya keroncongan sejak tadi.
Naina menurut, membuang segala gengsinya. Dia duduk di sebrang suaminya.
"Makanlah." perintah pria itu lagi. Naina menurut, dia mulai makan dalam diam.
Sejak dibentak oleh Reygan, Naina sedikit takut, hingga enggan membuat suaminya itu marah lagi.
Reygan menghela nafasnya, dia sadar Naina masih syok akibat suara besarnya. Sebenarnya dia juga tidak bermaksud membentak wanita itu. Tetapi perlawanan Naina yang menunjukkan bahwa dia lebih memilih Chris dibanding dirinya yang notabenenya adalah suaminya, membuatnya sangat marah.
Naina menandaskan makanannya, lalu membereskan bekas sisa miliknya.
Suasana menjadi canggung, sekarang dia bingung mau melakukan apa. Naina berdiri, dia ingin pergi ke kamar mandi lagi.
Tetapi, tubuhnya tiba-tiba terhuyung akibat sebuah tarikan dari seseorang. Tubuh Naina jatuh atas pangkuan Reygan dan Reygan menangkap dengan cepat.
Naina ingin protes, tapi Reygan menahannya. Pria itu memeluknya lembut, tidak ada pemaksaan dari gerakan pria itu.
"Maafkan aku." suara pria itu begitu lembut. Membuat Naina bergidik dalam pelukannya. Wanita itu tidak berontak lagi.
"Jadi jangan takut lagi. Aku tidak akan melakukannya lagi." ucapnya penuh kelembutan.
Naina bungkam sejak tadi. Tindakan impulsif pria itu berhasil membuat jantungnya terbang melayang-layang. Pelukan itu menenangkan, dan benar-benar membuatnya tidak ketakutan lagi.
"Naina?" panggilnya.
Naina sadar sedang duduk dimana saat ini. Dia duduk di atas pangkuan Reygan, sementara tangan pria itu melilit pinggangnya dengan posesif.
"Lepaskan aku." pinta wanita itu sambil berusaha melepas tangan Reygan.
Namun Reygan sepertinya enggan melakukannya, dia malah semakin mengeratkan tangannya.
"Pak..." wajah Naina merah padam. Dia tidak ingin berlama-lama di atas sana. Wajahnya terlihat frustasi yang malah membuat sesuatu dalam diri pria itu terbangun.
Wajah Naina yang mungil sangat menggemaskan ketika sedang panik seperti saat ini. Reygan tidak tahan, dia meraih wajah wanita itu, menangkupnya erat lalu menempelkan bibirnya di bibir ranum yang kenyal itu.
Naina membelalakkan matanya, tubuhnya menegang saat benda kenyal itu menguasai bibirnya.
Reygan tidak puas jika hanya menempel begitu saja. Lidahnya dengan lincah menjelajahi bibir wanita yang masih belum sadar sepenuhnya. Pria itu sangat lancang, ******* bibir yang selama ini memakinya.
Beberapa saat kemudian, Reygan melepas tautan bibir mereka. Naina tidak membalas, nampak masih sangat syok akibat tindakannya.
Mata mereka saling memandang, manik pria itu sudah dipenuhi oleh gairah yang ingin berlanjut ke hal yang lebih intim lagi. Dia ingin Naina sekarang juga.
TBC