My Bule Husband

My Bule Husband
Menghilang


Wkwk semua pada kesel sama Naina๐Ÿคฃ๐ŸŒš


Dulu aja kalian yg mencak-mencak biar mereka pisah dan nggak usah balikan. Tapi sekarang, kalian juga yang maksa Naina buat balikan sama babang bule. Sebenarnya maunya apasih๐Ÿ˜’๐Ÿ˜


Kan dari awal othor udah bilang, mereka nggak akan balikan lagi. Titik. Mau kalian rayu othor oleng gimana pun. Big No! Mereka tetap pisah!๐Ÿ˜๐Ÿ˜Œ


***


Setelah melampiaskan isi hatinya, Reygan masih mendekapnya. Naina tidak menolak lagi, karena jiwa dan raganya sudah terlalu lelah meronta dari laki-laki itu. Reygan tercipta sebagai sosok pria keras kepala, tapi Reygan juga melupakan bahwa Naina lebih keras darinya. Karena keras kepala keduanya yang saling bertolak, membuat mereka sulit saling memahami.


Naina tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah dia kehilangan kesadarannya, malam itu. Tetapi, satu hal yang pasti, saat dia terbangun di pagi harinya, dia terbangun di ranjang yang baru dua kali ditidurinya. Dan hanya dia sendiri berada di kamar itu.


Naina menyusuri ruangan, mencari laki-laki yang telah mengacaukan hidupnya selama beberapa tahun belakangan. Reygan. Pria itu tidak ada. Naina pikir Reygan sudah bangun lebih dulu dan bermain bersama anak-anaknya.


Sampai sekarang keputusannya belum berubah untuk berdamai dengan pria itu. Hatinya masih sekeras batu.


Sebelum turun, Naina bersiap-siap untuk ke toko. Di kamar ini, Reygan sudah menyiapkan segala keperluannya. Entah kapan pria itu melakukannya. Setelah rapi, wanita itu menuruni anak tangga, dan mencari anak-anaknya.


Dan tepat saat itu, Naina melihat Steve dan Giselle sudah rapi dengan seragam sekolah masing masing.


Steve sudah masuk SMA tahun ini, sedangkan putri kecilnya masih baru masuk sekolah dasar. "Pagi Ma..." seperti biasa Steve menyapa Naina. Begitu juga dengan Giselle.


"Pagi anak-anak Mama." melihat kedua buah hatinya pagi ini seolah melunturkan beban hatinya setelah perdebatannya dengan Reygan. Wanita itu tersenyum cerah, lalu mencium pipi mereka bergantian.


"Mama, dimana Papa?" tanya Giselle sambil melihat ke arah tangga. Menunggu sosok cinta pertamanya muncul.


"Papa?" ulang Naina. "Bukannya Papa udah turun?"


Giselle menggeleng, "Enggak Ma. Dari tadi Giselle belum liat Papa."


"Nyonya, sarapan sudah siap." seorang pelayan datang menyela pembicaraan mereka.


"Iya Bi. Oh ya Bi, apa Bibi lihat suami saya?" tanya Naina pada akhirnya.


"Tuan sudah pergi dari kemarin malam Nyonya, dan saya belum melihat Tuan kembali." jawab pelayan itu langsung.


Jantung Naina seolah akan melayang setelah mendengar itu. Di depan anak-anaknya dia berusaha menahan emosinya.


Naina mengangguk, "Baiklah. Terima kasih Bi." kata Naina.


"Papa pergi ya Ma?" Giselle dengan raut wajah sedih bertanya. Gadis kecil itu takut Reygan pergi lagi, padahal mereka baru saja bertemu. Rindunya bahkan belum terobati dengan sempurna.


Naina menekan perasaannya, dia bersimpuh di depan putri kecilnya. Membelai kepalanya seolah memberikan ketenangan.


"Jangan sedih sayang. Papa nggak lama kok. Paling juga Papa lagi ada urusan mendadak. Nanti Papa pasti pulang. Kan Papa sayang sama Giselle, nggak mungkin Papa tinggalin Giselle lagi." dengan kata-kata itu, setidaknya Giselle tidak sedih lagi.


Senyum bocah itu kembali terbit. "Beneran Ma? Mama nggak bohong kan?"


"Iya sayang. Mama nggak bohong. Papa pasti pulang."


Setelah menenangkan putrinya, Naina menggiring mereka ke meja makan.


Sekilas Naina bertemu pandang dengan Steve. Wajah Steve tadinya dingin, tapi begitu melihat Naina, senyumnya merekah. Tapi dalam senyum itu, Steve tahu semuanya yang terjadi dengan kedua insan yang sama-sama keras kepala tersebut.


TBC