My Bule Husband

My Bule Husband
Panggil Aku Hubby!!


Naina merasa lebih baik setelah mendengar guyonan suaminya yang menurutnya tidak lucu sama sekali. Tapi tidak apa, setidaknya pria itu telah bersusah payah menghibur dirinya yang hanyalah seorang yatim piatu ini.


Suasana hatinya kembali, untuk mulai aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Saat Naina masuk ke kamar Steve, wanita itu terenyuh melihat putra sambungnya tengah berusaha memakai seragam sekolahnya.


"Steve. Maafin Mama. Mama kelamaan bangunin kamu." sambil mendekat.


Steve tersenyum, "Nggak papa kok Ma. Mulai sekarang Steve akan bangun sendiri. Dan memakai seragam sendiri."


Naina tersenyum, "Anak Mama udah besar rupanya." sambil merapikan seragam Steve yang masih kurang rapi.


"Udah? Yuk, kita sarapan sama Kakek."


"Yuk."


Di meja makan, seperti biasa sudah ada suami dan mertuanya. Mereka mulai sarapan dengan suasana tenang dan damai.


Sesekali Steve menanyakan sesuatu yang ingin diketahuinya. Dan Naina, dengan sangat dewasa menjawab setiap pertanyaan itu. Jiwa keibuannya sangat kentara meski masih berusia belia. Entah dari mana Naina mendapat kemampuan itu. Mudah membujuk seorang anak, tanpa adanya pemaksaan sedikit pun.


Sesekali tawa kecil disela obrolan keduanya. Membuat Rudi dan Reygan terpesona akan pemandangan indah ini. Beberapa waktu terakhir, mereka selalu menikmati sarapan mereka dengan suguhan tawa di wajah Steve dan Naina.


Jika saja orang yang tidak tahu melihatnya, mereka pasti tidak akan menyangka bahwa mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


Selesai sarapan Naina pamit mengantar Steve ke sekolah, yang diikuti oleh Reygan dari belakang.


"Steve berangkat sama Papa ya?" ucap Reygan. Memang terdengar aneh bagi keduanya. Mengingat Reygan yang sebelumnya sangat jarang memperhatikan Steve.


Steve mengangguk begitu saja. Meski dia senang diantar oleh Naina, tetap saja kerinduannya akan kebersamaan dengan Reygan sangat berharga baginya. Dan itu adalah momen yang langka.


Reygan tersenyum, beralih pada sang istri. "Mama di rumah ya, baik-baik di rumah." senyum usilnya muncul. Bibirnya tiba-tiba sudah bertengger di kening Naina.


Steve tersenyum girang. Sebuah momen yang bersejarah baginya. Dia senang melihat Papa dan Mamanya akur seperti ini.


Naina berdecih, memutar matanya, meski begitu senyumnya tetap terbit.


"Mama, Steve sekolah dulu ya." pamit Steve sambil mencium tangan Naina.


"Baik-baik di sekolah ya sayang. Kalau teman-teman Steve masih ganggu, kasih tahu Mama."


"Siap Ma. Bye."


"Bye."


Sebelum pergi, Reygan berkata, "Nanti siang siap-siap. Kita akan pergi."


"Kemana?"


"Rahasia." Reygan langsung pergi.


***


Siang harinya Naina sudah bersiap-siap seperti yang suaminya pesankan tadi pagi. Kata Reygan dia tidak perlu menjemput Steve, karena Reygan sendiri yang akan menjemputnya.


Benar saja, keduanya pulang tepat waktu.


Reygan menyuruh Naina masuk ke mobil tanpa mampir ke rumah.


"Kita mau kemana?" tanya Naina pada saat mereka sedang dalam perjalanan.


Naina menurut, lebih memilih diam di samping sang suami.


Beberapa saat kemudian, keduanya sampai di sebuah daerah yang tidak Naina kenali.


"Ini dimana?" tanya Naina.


Mereka turun, tepat di sebuah gedung kecil dengan pekarangan yang tertata rapi. Bukan gedung, tapi tempat ini lebih cocok sebagai kafe atau toko.


"Ayo." Reygan menggenggam tangan Naina memasuki gedung itu.


Keduanya masuk ke dalam, Naina masih bingung melihat isi ruangan tersebut.


"Kamu bisa membuat kue bukan? Di sini kamu bisa memasak kue sesukamu dan sebanyak yang kamu bisa." ucap Reygan.


Membuat Naina kebingungan. Dia ingin mengambil kesimpulan, tapi juga tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.


"Maksud bapak?" Naina menuntut penjelasan.


Reygan mencubit gemas pipi Naina, "Dasar bodoh. Tentu saja ini toko kuemu."


Manik Naina berbinar, diikuti senyumnya yang menjadi lebar.


"Bapak nggak lagi bercanda kan?" ucapnya, masih belum percaya.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk bercanda." memutar bola matanya.


Naina tersenyum cerah, masih belum menyangka. Awalnya Naina mengatakan akan membuka usaha baru dengan uang tabungannya sendiri. Tapi uangnya masih belum cukup, membuatnya menunda rencananya tersebut.


"Besok aku akan mencari pekerja untukmu. Selebihnya kamu urus sendiri. Harusnya aku sudah bisa mempercayakan selebihnya padamu kan? Kalau ada yang kurang katakan padaku." ucap pria itu.


Naina mengangguk cepat, senyumnya tiada luntur. "Em, aku cukup mahir dalam mengelola usaha seperti ini."


"Hem. Awas saja kalau sampai bangkrut. Aku akan menjualmu ke rentenir."


"Bapak tenang aja. Toko kue ini nggak akan bangkrut kok." Naina memastikan.


"Ck, sudah berapa kali kukatakan. Jangan panggil aku seperti itu!"


Reygan kesal karena masih mendengar panggilan menyebalkan itu. Dia merasa seperti bapak-bapak peot dengan panggilan itu.


"Terus, aku panggil apa? Umur kita..."


"Panggil aku Hubby!"



TBC


Buat kalian yg ngebet malam pertama mereka,


sori ya, Babang Reygannya masih sama aku😂🙉🙊


Besok Mas Reygan aku kasih sama Naina 🌚