My Bule Husband

My Bule Husband
Part 75


Kedua pasang mata hijau itu masih saling memandang wajah satu sama lain, yang terlihat sangat mirip di setiap guratan sudut wajah keduanya. Ya, gen dari Reygan lebih mendominasi, membuat Giselle terlihat berbeda dari anak-anak lainnya. Hanya satu gen yang turun dari Naina, yaitu tubuhnya yang mungil dan pendek, membuat setiap orang gemas melihatnya.


"Papa..." panggil gadis kecilnya dengan suara yang nyaring.


Reygan masih terpaku, perlahan menyamakan tingginya dengan putrinya.


"Giselle..." suara Reygan bergetar, penuh kerinduan.


Giselle tersenyum lebar, "Ini Papa Giselle kan?" tanya anak itu lagi membuat hati Reygan dipenuhi kehangatan yang luar biasa. Dia tidak menyangka putrinya mengenalinya meski belum pernah bertemu sama sekali.


Reygan mengangguk pelan, air matanya tidak bisa ditahan lagi. "Iya sayang, ini Papa."


Pria itu membuka tangannya lebar, ingin mendekap sang putri kecilnya. Dan Giselle yang juga dipenuhi kerinduan yang mendalam, tanpa pikir panjang berhambur ke dalam pelukannya.


Reygan memejamkan matanya, merasakan kelegaan hatinya akan rindu dan rasa penasaran yang selama ini bersarang di hatinya. Tangannya mengusap penuh kasih sayang kepala putrinya.


"Papa..." sepertinya Giselle merasakan hal yang sama. Setelah sekian lama akhirnya dia bertemu dengan ayah kandungnya.


"Iya sayang... Ini Papa..." tidak cukup sampai di situ, Reygan melabuhkan kecupan hangat di kening dan sekujur wajahnya. "Papa merindukanmu sayang. Papa sangat merindukanmu." rapal pria itu dengan penuh haru.


Naina tidak bisa membohongi perasaannya saat ini. Melihat putri kecilnya bahagia tak urung juga membuatnya senang.


Justru saat ini, ada penyesalan dalam dirinya. Melihat betapa Giselle ternyata sangat merindukan Ayahnya, membuatnya menyesal karena telah memisahkan mereka.


Naina segera menghapus air matanya yang tanpa sadar mengalir di wajah cantiknya. Dia sadar, hanya karena egonya, dia telah membuat dua orang yang dia cintai menderita karena tersiksa oleh kerinduan.


Reygan melepas pelukannya, menatap lekat manik putrinya. "Kamu mengenali Papa sayang?"


Jelas Reygan bertanya-tanya, bagaimana bisa Giselle mengenalinya sebagai ayahnya, padahal mereka tidak pernah bertemu sama sekali.


Rupanya Naina masih menyimpan fotonya. Dan itu artinya, namanya masih bertahta di dalam hati wanita itu.


Sedangkan Naina mengalihkan wajahnya, mengabaikan Reygan yang mencuri pandang dengannya.


"Pekerjaan Papa banyak ya sampai tidak bisa pulang ke rumah?" tanya Giselle lagi membuat Reygan menjadi bingung.


Melihat Reygan hanya diam, Giselle kembali berkata, "Karena Papa tidak pernah pulang, Mama selalu nangis tiap malam, sambil liatin foto Papa. Mama kangen sama Papa." beber anak itu.


Dan yang menjadi topik pembicaraan melebarkan matanya. Giselle telah membongkar semua rahasianya di depan Reygan.


"Giselle..." Naina memberikan peringatan melalui sorot matanya.


Namun Giselle tidak mengerti, justru malah semakin memperburuk keadaan. "Papa jangan pergi-pergi lagi ya. Kasihan Mama Pa..."


Naina tersenyum hambar, secepat itu Giselle akrab dengan Reygan. Sehingga putrinya sanggup membeberkan rahasianya.


Reygan merasa mendapat angin segar setelah mendengar penuturan Giselle. Besar kemungkinan kesempatannya untuk memenangkan hati Naina lagi, karena ternyata memang namanya masih tersimpan rapat di hatinya.


"Iya sayang. Papa janji nggak akan ninggalin kalian lagi. Papa sayang Giselle, Mama dan juga Kakak Steve." ucap Reygan.


Naina dan Steve kompak membuang mukanya dengan kesal sambil mencibir. Rupanya Steve juga masih kesal pada Reygan karena telah menyakiti hati Naina, ibu sambung yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Papa janji?" Giselle memberikan jari kelingkingnya, yang disambut Reygan dengan hal yang sama.


"Janji. Papa berjanji tidak akan pergi lagi. Papa janji akan tetap bersama dengan Giselle, Kakak Steve dan juga Mama." janji pria itu.


TBC