My Bule Husband

My Bule Husband
Kejutan


Wajah Naina seketika menjadi kaku setelah mendengar jawaban Reygan. Tidak percaya Reygan mau menerima kesepakatan yang dia ajukan.


Naina menyipitkan matanya, tidak akan mau kalah dari manusia es di hadapannya.


"Bapak serius setuju dengan keputusan itu?" ucapnya untuk meyakinkan Reygan.


"Tentu saja. Aku tidak pernah main-main dalam sebuah keputusan."


"Tapi itu artinya, Alena tidak boleh berada di sekitarmu dan kalian tidak bisa bertemu?"


Reygan tersenyum, "Aku tidak mempermasalahkan hal itu." sahutnya dengan mudah, tanpa ragu sedikit pun, membuat Naina bungkam.


Pria itu merasa menang, Reygan terlihat menikmati wajah kesal sang istri.


"Tepati janjimu Naina. Kamu harus keluar dari perusahaan itu setelah kamu sembuh." tuntutnya tegas. Reygan mempertajam sorot matanya, "Aku paling tidak suka seseorang yang tidak menepati janji." kecamnya.


Setelah membuat keputusan dengan istrinya, Reygan keluar dari kamar. Meninggalkan istrinya yang diam seperti patung.


Reygan benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik. Dan dia benar-benar akan kehilangan pekerjaannya. Naina tidak percaya, akan secepat ini kehilangan pekerjaannya.


Dan yang paling memberatkan adalah, bagaimana nanti dirinya menjelaskan pada Chris? Chris pasti curiga dengan alasan apapun yang dia berikan.


Pintu kamar diketuk oleh seseorang.


"Masuk saja." ucapnya.


Elisa datang, "Nyonya, sudah waktunya mandi." ujar wanita paruh baya tersebut. Memang selama ini Elisalah yang membantunya mandi dan berpakaian.


Naina mengangguk tanpa semangat, "Steve sudah selesai belajar?" tanyanya sambil mencoba berdiri dari tempat tidur.


"Baru saja Nyonya. Guru privat Tuan Muda baru saja pulang." jawab Elisa.


Naina sudah bisa berjalan meski punggungnya yang masih saja sakit.


Di kamar mandi Elisa memulai pekerjaannya. Naina duduk tenang di atas sebuah kursi yang telah disediakan sebelumnya.


"Bagaimana kabar anak-anakmu Elisa?" Naina bertanya untuk mengisi keheningan.


"Mereka baik-baik saja Nyonya. Putra sulung saya akan masuk SMP semester depan." jawab Elisa.


Sejauh ini Naina sudah mengetahui latar belakang Elisa. Meski di awal Elisa sangat susah bercerita padanya. Elisa memiliki suami dan dua anak. Putra dan putrinya yang sudah besar-besar saat ini. Sedangkan suaminya merantau ke Malaysia, bekerja sebagai TKI. Dan suaminya itu akan pulang sekali setahun.


"Baguslah. Apa kamu sudah membelikan seragam barunya? Oh, ya. Siapa nama putramu?"


Elisa sambil memijat pelan punggung Naina yang sakit. Dan Naina sangat menyukai pijatan itu.


"Mungkin bulan depan Nyonya. Karena pendaftaran masih dua bulan lagi." jawab Elisa seadanya.


"Tidak apa-apa Nyonya, katakan saja."


"Ehmm itu... Apa kamu tidak papa suami kamu jauh dan hanya pulang sekali setahun?" Naina bertanya, karena dia memang penasaran.


Elisa diam sebentar, "Saya sudah terbiasa Nyonya."


"Anak-anak? Apa mereka tidak merindukan Ayah mereka?"


"Mau bagaimana lagi Nyonya. Kalau suami saya tidak bekerja, anak-anak tidak akan bisa sekolah. Kalau hanya mengandalkan upah saya dari rumah ini, itu tidak akan cukup Nyonya. Sama masih memiliki seorang Ibu di rumah yang sedang sakit." jelas Elisa panjang lebar.


Ini kali pertama Elisa bicara sebanyak ini. Biasanya wanita ini hanya menjawab seadanya saja. Itu artinya Elisa memang benar-benar merasakan sedih yang mendalam.


Disela keheningan itu, Elisa bicara. "Maaf Nyonya. Saya lupa kalau sabun Nyonya sudah habis." ucapnya sambil memegang botol sabun yang sudah kosong.


"Pakai punya Reygan saja." ujarnya.


"Tapi Tuan Reygan juga memakai sabun yang ini juga. Kalau begitu Nyonya tunggu sebentar, saya akan mengambil stok sabun dari bawah."


"Ya sudah. Jangan lama-lama ya. Aku kedinginan."


Naina mengangguk, lalu bergegas pergi.


Saat ini Naina sudah telanjang bulat, dan tubuhnya juga sudah basah disiram Elisa tadi. Dia kedinginan.


Lima menit berlalu, tapi Elisa belum datang juga.


"Elisa lama banget sih." gerutunya.


Tapi tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. "Kenapa lama sekali Elisa? Aku udah kedinginan."


Namun Elisa tidak menjawab. Yang terdengar hanya suara botol sabun dikeluarkan.


Tiba-tiba sebuah tangan kokoh nan besar menyentuh punggungnya. Tangan itu mulai menggosok sekujur punggung Naina yang terpampang nyata.


Naina mengerutkan keningnya, dia merasa aneh. Tangan ini sangat berbeda dengan tangan Elisa sebelumnya.


Tangan ini sangat besar dan juga kasar saat bersentuhan dengan kulitnya.


Perlahan Naina menoleh ke belakang.


Mulutnya otomatis terbuka lebar. Berteriak sekuat mungkin dengan rasa terkejut.


"Aaaaa..... Dasar mesummmm!!!"


TBC