
Hari ini, hari pertama Naina tidak pergi bekerja lagi. Tapi meski begitu, wanita itu tetap bangun pagi seperti biasa.
Naina kesal, karena ketika bangun dia berada dalam pelukan Reygan. Naina menggerutu pada pria itu, sambil berusaha menjauhkan diri dari Reygan.
Ternyata Reygan terbangun karena pergerakannya.
"Kenapa Bapak tidur di sini?" sembur Naina begitu melihat Reygan bangun.
Reygan mengumpulkan nyawanya, sambil mengucek matanya. "Lalu aku mau tidur dimana? Ini kan kamarku?"
"Tapi kita udah sepakat untuk tidur terpisah." protes Naina.
"Badan aku sakit karena tiap malam tidur di sofa." Reygan mencari alasan membuat Naina berdecih.
"Alasan." katanya lalu beranjak bangun dari tempat tidur.
"Mau kemana pagi-pagi begini? Ingat, kamu enggak kerja lagi." Reygan mengingatkan.
Wajah Naina cemberut, "Iya, aku ingat kok. Aku mau buat sarapan." ucapnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
Karena sudah tidak bekerja lagi, Naina pikir akan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga.
Naina membuat sandwich dan telur omelete pagi ini. Naina ingin memasak makan lokal, tapi lidah penghuni terbiasa dengan makanan barat. Oleh karena itu, Elisa sudah mengajarinya
membuat western beberapa waktu lalu.
Selesai memasak, Naina naik lagi ke atas untuk membangunkan Steve. Saat sampai di lantai dua, terdengar suara teriakan dari kamarnya.
"Naina..." suara Reygan menggelegar membuatnya cepat-cepat berjalan.
"Ada apa?" sahutnya sambil membuka pintu.
Reygan berdiri di sana, masih memakai bathrobe.
"Baju kerjaku mana?" tanya pria itu membuat Naina menyipitkan matanya.
Naina mendekat, "Di lemari." jawabnya.
"Tolong ambilkan." pintanya.
Kening Naina berkerut, "Bukannya biasanya bapak ambil sendiri?"
Reygan diam, dia memang menyadari perbuatannya di masa lalu.
Pilihan Naina jatuh pada kemeja biru yang tergantung rapi di lemari raksasa itu. Setelah mengambilnya, Naina berbalik.
"Ya ampun!" dia hampir berteriak karena sosok bertubuh besar tiba-tiba berdiri di depannya.
"Pak... ngapain di sini?" sambil memegang dadanya.
Melihat Reygan yang kini menghalangi jalannya. Sedangkan Reygan menatap wanita itu dingin. Tatapannya dalam, membuat Naina kebingungan. Wanita itu risih ditatap seperti itu.
Reygan semakin menunduk, mendekat pada Naina. Naina yang merasa terancam hendak berontak, tapi segera ditahan oleh Reygan. Pria itu mendekatkan bibirnya tepat di telinga Naina. Menghembuskan nafasnya dengan sengaja.
"Pak... apa yang bapak lakukan?" Naina ingin menyingkir.
"Mulai sekarang, lakukan tugasmu sebagai istriku. Tidak ada pembantahan." bisik pria itu dengan suara beratnya membuat Naina tubuh merinding.
Reygan perlahan menjauhkan wajahnya, meletakkan telapak tangannya di wajah mungil yang tengah kebingungan itu. Setelahnya, lelaki berhidung bangir itu menarik tali pengikat bathrobenya.
Mata Naina membelalak, saat kain pembungkus tubuh pria itu terjatuh di lantai.
Tubuh polos yang hanya berbalut celana boxer terpampang nyata di hadapannya. Reygan tanpa tahu malu menunjukkan otot-otot bisepnya di hadapan sang istri, seolah dia sangat senang mempertontonkannya.
"Tunggu apa lagi? Mulai tugasmu?" perintah Reygan sambil melebarkan kedua tangannya.
Naina masih bergeming, sorot mata mungilnya tertuju pada otot perutnya yang liat serta kekar itu. Beberapa kali Naina meneguk salivanya sendiri, dia baru menyadari pemandangan indah tubuh sang suami.
"Naina?" panggil Reygan. "Tanganku pegal, cepat lakukan!" perintahnya.
Sepertinya Naina salah tangkap ucapan Reygan. Naina bagai kelinci penurut, mendekat lalu mengangkat tangannya menyentuh roti sobek milik lelaki itu.
Reygan menaikkan sebelah alisnya, sesaat kemudian tersenyum geli setelah menyadari Naina telah salah mengartikan maksudnya.
Bibirnya menyeringai, apalagi ketika Naina mulai menggerakkan tangan mungilnya menyusuri perutnya. Dia membiarkan Naina melakukan sesukanya.
Sampai Reygan mendapatkan momen yang pas. "Apa yang kamu lakukan?"
Naina tersadar, segera mendongak melihat Reygan.
"Aku menyuruhmu memakaikan bajuku. Bukan menyentuh perutku."
TBC