
"Emh Hubby, kapan aku bisa mulai membuka tokonya?" Naina menggigit bibirnya. Lidahnya masih belum terbiasa memanggil suaminya dengan panggilan itu.
Sebenarnya Naina enggan dengan panggilan itu. Tetapi Reygan memaksa. Apalagi pria itu telah memberikan kejutan yang selama ini dia inginkan, membuat Naina tidak punya pilihan lain.
Reygan tersenyum, suara lembut Naina terdengar nyaring di telinganya. Naina menjadi penurut padanya setelah melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Kini Reygan tahu bagaimana cara memenangkan hati wanita itu. Bukan dengan setumpuk uang atau berlian, melainkan hanya sebuah perhatian tulus.
"Kapan pun kamu siap. Lakukan sesukamu, toko itu sudah menjadi atas namamu." jawabnya.
Keduanya kini dalam perjalanan menuju kantor Reygan. Karena Reygan masih punya urusan penting.
Sampai di kantor Naina baru menyadari ketidakmunculan Naina, sekretaris yang merangkap sebagai kekasih suaminya sendiri. Mengingat itu entah mengapa membuat Naina sedih. Naina masih menutup hatinya rapat-rapat, sebelum wanita lain yang hinggap dalam rumah tangganya menghilang.
"Aku ada rapat penting. Mungkin satu atau dua jam baru selesai." Reygan ingat istri kecilnya masih belum makan. "Aku sudah menyuruh orang memesan makan siang untukmu. Tunggulah sebentar lagi." ucap pria itu.
Naina mengangguk. Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di keningnya. Berikut turun hingga ke bibir ranumnya. Reygan menyesap cukup kuat, membuat Naina terkejut.
"Tunggu aku. Jadilah istriku yang penurut." pria itu tanpa merasa berdosa sama sekali. Dan sangat menikmati ekspresi terkejut istrinya.
Reygan pergi begitu saja, sebelumnya mengedipkan matanya dengan jenaka.
"Hah..." Naina tertawa sumbang. Sekali lagi dia kecolongan oleh suaminya yang menyebalkan. "Dia mencuri ciumanku lagi?" gerutunya.
Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu. Seorang cleaning servis wanita datang membawa makan siangnya.
"Bu, ini pesanan Pak Reygan." ucap wanita itu.
Entah hanya prasangka buruk Naina saja, atau memang benar, wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya itu sepertinya mencurigakan. Naina bisa melihat gelagatnya yang aneh. Sepertinya ada dendam tersembunyi.
"Taruh di meja Mbak." ucap Naina.
Wanita itu menurut, meletakkan satu set menu makan siang di atas meja. Tapi matanya mencuri pandang terhadap Naina.
"Tunggu sebentar Bu, kopi Pak Reygan masih di luar." ucap wanita pembersih tersebut.
Naina mengangguk. Wanita itu pergi, dan beberapa saat kemudian, dia kembali masuk.
Membawa secangkir kopi panas menuju meja sofa. Entah sengaja atau tidak, wanita itu berjalan dari depan Naina, padahal ada jalan lain yang lebih lebar. Dan begitu saja, gelas dengan asap yang mengepul, terjatuh tepat di pangkuan Naina.
Rasa panas yang menyiksa, merambat ke sekujur paha hingga perutnya. Naina berteriak kesakitan.
"Panas..."
"Aduh, maafkan saya Bu. Saya tidak sengaja." wanita pembersih itu kelimpungan, mengibas-ibaskan gaun Naina yang terkena siraman kopi panas tersebut.
"Maafkan saya Bu. Saya tidak sengaja." wanita itu berucap.
Naina mengangguk, sambil memejamkan matanya. "Tidak papa. Tolong bereskan noda di sofa. Aku akan ke toilet." ujarnya terburu-buru pergi ke toilet yang ada di ruangan.
Setelah Naina pergi, wajah palsu dari wanita pembersih itu muncul. Dia menyeringai, "Beres." lirihnya. "Beraninya kamu merebut Pak Reygan dari Bu Alena. Dasar pelakor." makinya.
Di kamar mandi, Naina membuka gaunnya. Perut dan pahanya masih perih dan panas. Dia menyiraminya untuk mengurangi rasa sakitnya.
Naina tahu ada yang tidak beres dengan wanita pembersih tadi. Tapi dia tidak tahu bagaimana membongkar sifat aslinya.
Naina mengintip dari kamar mandi. Ruangan sudah kosong, berarti wanita itu sudah keluar. Naina masih belum berpakaian. Hanya dua potong kain mini yang menutupi aset berharganya. Sedangkan, gaunnya yang dominan berwarna putih sudah kotor oleh noda kopi.
Wanita itu akhirnya berjalan dengan cepat menuju kamar yang sebelumnya pernah dia masuki, dengan tubuh telanjangnya.
Sedangkan Reygan, di ruang rapat. Melebarkan matanya, melihat layar laptopnya. Rekaman CCTV di ruangannya, yang menunjukkan semua yang terjadi di sana.
Pria itu meneguk salivanya dengan kasar. Istrinya tengah berlarian di ruangannya dalam keadaan telanjang.
Tubuh itu sangat indah. Sekali lagi dia melihat lekuk tubuh seksi sang istri.
"Aku memiliki istri yang sangat seksi. Tapi kenapa aku tidak bisa menyentuhnya sama sekali?" gumam pria itu, membuat orang-orang di ruang rapat teralihkan.
"Maaf Pak. Ada yang salah?" ucap karyawan yang tengah melakukan presentasi.
Reygan mengangkat alisnya. Fokusnya tidak lagi pada topik pembahasan mereka. Pria itu langsung menutup laptopnya. Berdiri terburu-buru.
"Rapat ditunda besok. Saya ada urusan!" ucap pria itu sebelum akhirnya melenggang begitu saja.
Seluruh orang yang ada di ruang rapat terheran-heran dengan bos mereka. Tidak biasanya bos yang super disiplin itu menunda rapat penting seperti ini.
Mereka melihat Doni, asisten bos mereka, penuh tanya, menuntut penjelasan.
Doni hanya mengedikkan bahu sambil menggeleng.
Sedangkan Reygan memantapkan langkahnya menuju ruangannya. Senyum menyeringai terbit, "Naina. Tunggu aku sayang."
TBC