My Bule Husband

My Bule Husband
Tidak ada Perpisahan Lagi


Naina tidak mengerti, kenapa bisa-bisanya dia seperti anak remaja yang masih baru mengenal cinta. Sejak tadi dia hanya tersenyum dan salah tingkah sendiri ketika mengingat percintaan panas mereka tadi malam.


Padahal malam itu bukanlah pengalaman pertama mereka. Dulu, sebelum badai api menyerang, dia dan Reygan kerap kali melakukan kegiatan panas yang menguras tenaga mereka.


Namun, setelah delapan tahun berpisah tanpa adanya pertemuan sama sekali, Naina merasa canggung saat berada di dekat Reygan. Dia benar-benar merindukan Reygan dan ingin memeluk pria itu sepuas hatinya.


Tetapi dia terlalu malu, mengingat penolakannya yang terang-terangan terhadap Reygan. Naina bagai menjilat ludahnya sendiri. Dulu saja, ketika Reygan memintanya kembali, Naina menolak mentah-mentah dan mengusir pria itu.


Tetapi sekarang semuanya terbalik. Dengan mudahnya, Naina melemparkan dirinya tepat di ranjang pria itu. Dia menggodanya tanpa tahu malu dan berakhir berkeringat di bawah kungkungan pria itu.


Sangat memalukan! Naina menggerutu dalam hati.


Masih di kamar yang sama, Naina menelusuri kamar yang ditinggalkannya delapan tahun lalu. Tidak banyak perubahan di sana. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat Naina betah memandanginya sejak pertama kali masuk kemari.


Foto pernikahannya dalam bingkai besar yang menggantung di dinding, menjadi pusat perhatian ketika siapa pun masuk ke dalam kamar ini.


Naina menipiskan bibirnya. Mereka sangat serasi dalam foto itu, meski Naina tahu jelas senyum kedua mempelai itu hanyalah senyum penuh kepalsuan saat delapan tahun lalu.


"Dia sangat cantik bukan?" tiba-tiba saja suara bariton yang amat familiar di telinganya terdengar. Tidak urung, sepasang tangan kekar melilit pinggangnya yang ramping.


"Hubby?" Naina terkesiap.


Entah sejak kapan pria itu masuk ke dalam kamar.


Reygan bersandar di pundaknya yang mungil, "Dia cantik bukan?" mata pria itu tertuju pada wanita bergaun putih di bingkai foto. Jelas itu Naina sendiri, membuat wanita itu tersipu.


Reygan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naina, menghirup aroma yang memabukkan bagai heroin yang membuatnya candu. Reygan sangat merindukan wanita ini, lebih dari apapun.


Naina pun memejamkan matanya, turut menikmati deru nafas lelaki tersebut. Keduanya sama-sama memuaskan kerinduan dalam diri mereka.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran sayang?" pria itu tiba-tiba bertanya. Namun masih setia memeluk wanita itu dari belakang.


Naina bungkam. Dia terlalu malu mengatakan tidak ingin kehilangan pria itu dari hidupnya. Bukankah lucu jika dia mengakui hal tersebut, mengingat bagaimana penolakannya pada pria itu.


Reygan memutar posisi agar Naina menghadapinya. Menatapnya dalam, namun penuh mendamba. Namun tersirat rasa penasaran di wajah itu.


Kebungkaman Naina jelas menimbulkan banyak pikiran negatif di kepalanya. Reygan takut Naina kembali padanya bukan karena kemauannya sendiri. Melainkan alasan lain yang mengharuskannya kembali padanya.


Satu alasan yang tepat adalah anak-anak. Hanya itu alasan yang mampu membuat seorang Naina yang keras kepala luluh. Karena Reygan tahu betapa Naina menyayangi kedua anaknya.


Tentu Reygan tidak mau jika Naina memaksakan diri untuk kembali padanya. Karena Reygan tahu Naina akan sangat tersiksa jika bersamanya.


"Kamu terpaksa?" tanya pria itu yang langsung di jawab gelengan kuat dari Naina.


"Tidak. Tidak seperti itu." elak Naina.


Tiba-tiba saja wanita itu memeluk Reygan dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.


"Aku tidak terpaksa kembali padamu. Jika kamu pikir aku kembali karena anak-anak, kamu salah Hubby." wanita itu menggeleng. Beberapa saat diam, lalu semakin menenggelamkan wajahnya yang merah padam.


"Waktu Giselle sakit, Doni menghubungiku dan menceritakan semuanya padaku. Doni bilang kamu akan menceraikan aku..."


Naina terengah-engah, "Aku... aku tidak mau! Aku tidak mau berpisah!" teriaknya meski Naina malu mengatakannya.


Reygan tersenyum, tak urung mengusap kepala Naina lembut. Pria itu terkejut. Rupanya semua kejutan ini adalah campur tangan asistennya tersebut.


"Jangan ceraikan aku..." rengek wanita itu. Reygan bisa merasakan bajunya basah karena air mata istrinya.


Reygan menangkup wajah Naina, mengecup sekujur wajah mungil itu dengan gemas.


"Tidak akan. Itu tidak akan pernah terjadi. Kita akan tetap bersama selamanya." ucap Reygan menenangkan.


Naina sesenggukan, menghapus air matanya dengan punggung tangannya membuat Reygan gemas.


"Tapi itu," tangan kecilnya menunjukkan amplop yang tergeletak di meja yang ada di tengah ruangan.


Reygan mengikuti tangan itu, dia terkejut melihat surat perceraian mereka yang lupa dia simpan.


"Kamu benar-benar ingin menceraikanku?" suara Naina begitu sendu.


Reygan buru-buru meraih amplop tersebut. Membukanya, dan tanpa pikir panjang merobek kertas perpisahan itu hinggan hancur berkeping-keping.


Kertas itu berjatuhan di lantai dalam keadaan mengenaskan. Reygan tersenyum, "See, tidak ada perpisahan lagi."


Reygan melebarkan tangannya, yang langsung diterjang oleh Naina. Wanita itu menangis haru. Sedangkan Reygan malah tertawa karena gemas akan tingkah wanitanya.


Naina memang sudah berkepala tiga, tetapi tingkahnya masih seperti Naina yang dulu. Reygan merasa akan selalu menikmati tingkah wanita itu. Dan jangan sampai Naina berubah, dia tidak ingin Naina nya yang menggemaskan menghilang.


TBC