My Bule Husband

My Bule Husband
Permintaan Reygan


Malam semakin larut, seluruh penghuni rumah megah itu sudah jatuh dalam mimpi masing-masing. Kecuali Naina. Wanita yang masih tetap cantik itu masih berada di kamar Sesil. Wanita itu masih betah di sana sambil menimang bayi mungil yang juga masih terjaga seperti dirinya.


Sesil sudah tidur sejak pukul delapan tadi. Wanita itu tertidur begitu cepat dan nyenyak, bahkan tidak mendengar tangisan putrinya yang baru berusia tiga bulan.


Naina menikmati saat menimang keponakannya tersebut. Bahkan dia mengajak bayi mungil itu bermain.


"Kamu sangat cantik sayang. Malang sekali nasibmu tidak diakui oleh ayahmu." kata Naina dengan sedih.


Yang mereka tahu, ayah dari bayi ini tidak mengakuinya. Sesil tidak banyak bercerita tentang laki-laki itu. Tapi mereka tidak mau mendesak Sesil, karena mereka juga tahu, ini semua pasti berat untuknya. Mereka akan menunggu sampai Sesil siap untuk mengatakan dengan sendirinya siapa ayah dari bayi ini.


Naina memperhatikan bayi itu lekat dan cukup lama mengingat sesuatu.


"Entah hanya perasaan Tante, kamu mengingatkan Tante dengan seseorang." ucapnya.


Bayi itu tersenyum membuat Naina gemas melihatnya. "Cantiknya Tante. Ayo cepat tidur. Jangan begadang terus." ucapnya sambil menciumi pipi gembulnya.


Masih belum ada panggilan khusus untuk bayi itu, karena Sesil masih belum memberikan nama untuk putrinya. Tidak ada yang tahu mengapa, karena Sesil juga masih terlihat linglung dengan pikirannya sendiri.


Naina menebak Sesil sepertinya mengalami baby blues. Tidak mengherankan Sesil mengalami hal tersebut, mengingat keadaannya yang sangat memprihatinkan pasca kelahirannya.


Berbeda dengan dirinya saat melahirkan Giselle. Meski tidak ada Reygan bersamanya dan dirinya masih dihantui oleh kehancuran pernikahannya. Naina tidak mengalami baby blues tersebut. Karena ada Rudi, Chris dan juga Steve yang selalu ada untuknya setiap saat.


Sangat berbanding terbalik dengan Sesil yang tidak memiliki siapa pun untuk mengadu.


Cukup lama, akhirnya bayi itu terlelap. Naina meletakkannya di box bayi yang baru dipersiapkan sore tadi.


Sebelum pergi, Naina melihat Sesil. Memeriksa suhu tubuhnya dengan meletakkan punggung tangannya di keningnya. Setelah makan malam tadi, Sesil demam. Naina lega, karena suhu tubuhnya sudah normal.


Bohong jika Naina mengatakan tidak marah dengan Sesil yang sudah membuat rumah tangganya hancur berantakan. Namun, setelah melihat betapa menderitanya Sesil selama delapan tahun ini, Naina tidak bisa berkeras hati untuk tetap membencinya. Bagaimana pun dia seorang wanita. Apa yang terjadi pada Sesil juga pasti akan membuatnya sangat hancur. Jika itu dirinya, Naina tidak yakin bisa seperti Sesil. Mungkin saja dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Naina merasa Sesil sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Hidup dalam pembuangan saja sudah cukup untuk menebus semua kesalahannya. Oleh karena itu, Naina tidak seharusnya masih membenci Sesil.


Setelah memastikan ibu dan anak itu baik-baik saja, barulah Naina kembali ke kamarnya. Wanita itu cukup lelah satu harian ini karena mengurus Sesil dan putrinya, membuatnya ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya.


Tetapi tidak semudah itu, di kamarnya ternyata suaminya masih belum memejamkan matanya. Pria itu masih duduk di sofa sedang mengerjakan sesuatu sambil menunggunya.


"Hubby. Kamu belum tidur?" Naina mendekat.


Dia hampir duduk di sebelahnya, tapi Reygan dengan sigap menariknya hingga duduk di pangkuannya.


Naina tersenyum, meski jantungnya berdebar dengan kencang.


"Bayinya sudah tidur?" tanya Reygan sambil menyelipkan rambut Naina ke balik telinganya.


Naina mengangguk, "Dia sangat lucu."


"Kamu menyukainya?" tanya Reygan lagi.


"Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai bayi secantik dan menggemaskan itu?" balas Naina dengan antusias.


Reygan tersenyum menyeringai, "Kalau begitu ayo buat bayi yang lebih lucu dari bayi itu." ucap Reygan membuat Naina melebarkan matanya.


"A..apa?" entah Naina pura-pura tidak mengerti atau apa, tapi itu malah semakin membuat Reygan semangat.


"Membuat bayi. Giselle merengek ingin dibuatkan adik." kata Reygan yang segera mendapat pukulan di dadanya.


"Alasan. Itu tidak benar."


Reygan terkekeh, "Kamu tidak percaya? Tanyakan saja besok pada Steve. Bahkan Steve juga merengek ingin punya adik lagi." ucapnya membuat Naina jengah.


"Dasar pembohong. Mana mungkin Steve seperti itu. Kamu pikir aku tidak mengenal putraku seperti apa?" Naina mendelik membuat Reygan tertawa terbahak.


"Kamu benar-benar tidak mau punya anak lagi?" tanya Reygan.


Naina tidak menjawab, dan larut dalam pikirannya. Memiliki anak lagi? Naina tidak pernah terpikir hal itu setelah memilih kembali lagi pada Reygan. Baginya Steve dan Giselle sudah cukup untuk melengkapi kebahagiaan pernikahan mereka.


"Delapan tahun yang lalu, kamu pergi saat mengandung Giselle. Saat aku mengetahui hal itu, setiap hari aku selalu gelisah memikirkanmu. Aku penasaran bagaimana kamu menjalani kehamilanmu. Apakah kamu mengalami mual dan pusing. Dan siapa yang menemanimu saat kamu merasakan


itu semua." tutur pria itu membuat Naina terenyuh.


Naina mengangkat wajahnya agar bisa leluasa melihat suaminya lekat. Jemarinya yang lentik membelai wajah Reygan lembut. Reygan menyambut jemari itu dan menggenggamnya erat.


"Dan aku juga sangat ingin melihat, seperti apa dirimu dengan perut besar mengandung anak kita. Aku ingin melihatnya."


Naina tersenyum, lalu mencium bibir Reygan singkat. "Aku masih sangat cantik walau sedang mengandung." ucapnya dengan senyum lebarnya.


Reygan mengangkat alisnya, "Benarkah?"


Naina mengangguk antusias, kemudian meraih ponselnya yang sebelumnya ada di atas meja sofa. Wanita tetap duduk di pangkuan suaminya sambil mengotak-atik ponselnya.


"Lihat ini." menunjukkan sebuah foto, yakni fotonya sendiri saat tengah mengandung Giselle. "Cantikkan?"


Reygan terpaku melihat foto itu. Dia memandangnya cukup lama. Hatinya bergetar hebat, terharu dan bahagia, semua tercampur aduk membuatnya hampir meneteskan air matanya.


Benar, Naina sangat cantik meski dengan perutnya yang besar. Tapi sayang sekali, dirinya sendiri yang notabenenya adalah ayah dari anak itu tidak ada di sana menemani istrinya.


"Hubby... aku cantikkan?" tanya Naina karena Reygan masih diam.


"Iya cantik. Kamu sangat cantik. Dan sekarang semakin cantik." kata Reygan.


Naina tersenyum senang, lalu dengan semangat menunjukkan banyak foto-foto yang lain. Hingga foto saat dimana dirinya melahirkan hingga Giselle sebesar ini.


Naina banyak bercerita, tetapi Reygan sama sekali tidak bosan mendengarnya. Bahkan dia begitu antusias mendengar semua cerita sang istri.


Tidak terasa hampir dua jam mereka baru menyadari telah menghabiskan waktu sepanjang malam. Sudah pukul satu dini hari membuat Naina menguap beberapa kali.


"Sudah larut sayang, lebih baik kita tidur." ucap Reygan.


"Tapi aku masih belum selesai bercerita."


Sebuah kecupan mendarat di keningnya sebelum Naina berada dalam gendongan Reygan. "Lanjutkan besok lagi. Kamu sudah mengantuk." ucapnya sambil membawa Naina ke atas ranjang.


Keduanya sudah berada di ranjang, tapi Naina masih belum memejamkan matanya.


"Hubby?"


"Hmm..." Reygan menjawab tanpa membuka matanya.


"Kamu masih mau punya bayi lagi?" ucapnya tiba-tiba. Reygan membuka matanya lalu tersenyum.


"Tentu saja."


"Kalau begitu ayo kita buat sekarang?" ucapnya membuat Reygan terkekeh.


"Besok saja."


"Kenapa?"


"Kamu sudah mengantuk sayang. Kalau kita membuatnya sekarang, kamu tidak akan bisa tidur sampai pagi."


TBC