My Bule Husband

My Bule Husband
Permintaan Chris


Setelah selesai sarapan, Naina dan Steve akan berangkat. Keduanya pamit pada Rudi.


"Pa, kita berangkat dulu." pamit Naina, yang diikuti oleh Steve.


Rudi mengangguk, "Hati-hati di jalan."


Saat keduanya akan pergi, Reygan juga mengikuti mereka. Tapi Naina acuh, membiarkan Reygan berbuat sesukanya.


Di luar rumah, Naina heran karena mobil yang biasa mengantar mereka tidak ada.


"Steve, Pak Ahmad dimana?" tanya Naina menanyakan supir pribadi mereka.


"Nggak tahu Ma."


Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Kaca mobil terbuka, "Ayo naik. Papa yang antar. Istri supir kalian lagi lahiran." ujar Reygan dari dalam sana.


Steve dan Naina saling memandang. Karena tidak punya pilihan keduanya akhirnya naik.


"Naina." suara berat Reygan menghentikan langkah Naina.


"Duduk di depan!" suatu perintah yang tidak terbantah.


Naina jelas tidak mau, dia ingin menolak, tapi Steve malah membela sang Papa.


"Duduk di depan aja Ma." kata Steve membuat Naina mengalah.


Naina duduk di depan, tepat di samping Reygan, membuat pria itu tersenyum puas.


Mobil melaju, Naina hanya diam saja.


"Istri Pak Ahmad lahiran ya Pa?" tiba-tiba Steve menyela dari kursi belakang.


Reygan mengangguk samar, yang malah membuat Steve terkekeh geli.


"Kenapa Steve?" tanya Naina.


"Nggak kok Ma. Steve heran aja, yang mana istri Pak Ahmad yang lahiran. Karena setahu Steve, Pak Ahmad belum nikah." ucap Steve yang memang sengaja membongkar kebohongan Papanya.


Naina melebarkan matanya, dia sadar telah dibohongi oleh pria di sampingnya.


Naina melotot pada Reygan, sedangkan Reygan merasa tidak berdosa sama sekali.


"Papa lupa Steve. Ternyata tetangga Pak Ahmad yang lahiran. Jadi Pak Ahmad ikut bantu." Reygan berdalih.


Naina berdecih, memutar bola matanya jengah. Sedangkan Steve tertawa kecil di sana.


Setelah mereka sampai di sekolah Steve, Reygan mengantar sang istri ke CA Corp.


"Nanti kalau mau pulang telpon aku aja. Biar aku yang jemput." ucap Reygan begitu mereka sampai di lobi perusahaan.


Naina mendelik, "Nggak usah, aku naik taksi aja." tolaknya terang-terangan.


Seolah tidak ingin berlama-lama berada di dalam sana, Naina buru-buru keluar dari mobil, lalu meninggalkan Reygan tanpa sepatah kata pun.


Reygan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Di saat banyak wanita di luar sana yang berlomba-lomba mencari perhatian dariku, kamu justru mengabaikanku yang jelas-jelas sudah dalam genggamanmu." lirih pria itu sambil memperhatikan punggung mungil yang semakin menjauh.


Naina sampai di meja kerjanya. Hari ini dia akan menyelesaikan pekerjaan terakhirnya sebelum benar-benar mengajukan surat pengunduran diri. Sangat berat, tapi mau tidak mau dia juga harus melakukannya.


Tepat saat itu, Chris baru saja sampai.


"Pagi Kak Chris." sapa Naina seperti biasa.


Chris memperhatikan Naina lekat, begitu banyak pertanyaan dalam diri pria itu.


"Pagi." jawabnya singkat, membuat Naina merasa aneh. Biasanya Chris selalu banyak bicara dan tersenyum padanya. Tapi hari ini, Chris terlihat tidak bersemangat.


"Kak..." Naina ingin bertanya, tapi Chris malah cepat-cepat masuk ke ruangannya.


Naina terdiam, merasa sedih karena diabaikan oleh Chris.


Setelah makan siang, Naina akhirnya memutuskan masuk ke ruangan Chris. Dia akan memberikan surat itu.


"Kak..." panggilnya pada Chris yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"Hem..." jawab Chris tanpa melihatnya.


Naina semakin aneh, dan juga ragu untuk bicara. Naina duduk di kursi yang ada di depan meja Chris.


Naina masih diam, bingung dan juga keraguan melanda hatinya. Gerak-geriknya membuat Chris menegakkan tubuhnya.


"Ada apa?" tanya Chris dengan wajah datar.


Naina terkejut, tapi secepat mungkin menguasai dirinya.


Tangannya meletakkan sebuah amplop putih bertuliskan surat pengunduran diri di bagian depannya.


Jantung Chris berdetak lebih kencang begitu melihat amplop itu. Pria itu langsung menatap lekat wanita di hadapannya.


"Apa maksud semua ini?" suaranya begitu dingin menusuk gendang telinga Naina.


Naina bungkam sesaat, dia juga tidak kuat.


"Maafkan Naina Kak. Naina ingin mengundurkan diri." ucapnya dengan gugup.


"Kenapa?" Chris masih berusaha menguasai dirinya.


Naina bungkam, bingung akan memberikan jawaban yang logis. Sebelumnya dia tidak memikirkan hal ini.


"Alasannya apa Naina? Kenapa malah diam?" cecar Chris yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Karena Naina masih diam, Chris menghela nafas kasar.


"Apa karena suami kamu?" sarkas pria itu membuat Naina langsung melihatnya.


Chris tersenyum sinis akan reaksi Naina, "Kenapa? Kamu terkejut karena Kakak tahu?"


"Kak Chris maafkan aku..." Naina langsung mencela.


Chris ingin marah, tapi dia sama sekali tidak bisa meluapkan amarahnya pada Naina. Dia terlalu menyayangi wanita itu.


"Kenapa Naina? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama Kakak?"


Naina diam saja, membuat Chris semakin resah.


"Maaf Kak. Naina tidak bermaksud." Naina berucap penuh perasaan bersalah.


Chris tidak peduli, dia menatap Naina dengan lembut, lalu menggenggam tangan Naina yang ada di atas meja.


"Sekarang Kakak udah ada di sini. Kamu tidak perlu lagi mengorbankan hidupmu dengan tinggal di neraka itu." ujar Chris lembut penuh pengertian.


Sedangkan Naina, dia mengerutkan keningnya, "Apa maksud Kakak?" tanyanya dengan bingung.


"Tinggalkan mereka. Dan kembali pada Kakak." jawab Chris.


Naina termangu setelah paham maksud Chris. Entah mengapa, hatinya tidak senang mendengar hal itu. Ada setitik ketidakrelaan ketika membayangkan bahwa dirinya harus meninggalkan keluarga itu.


"Naina, kamu dengar Kakak kan? Kalau kamu takut sama suami kamu, tenang aja. Kakak bisa bantu kamu." ujar Chris seolah ingin mengurangi kegundahan hati sang adik.


Naina masih bungkam, pikirannya menjadi kalang kabut.


"Bagaimana? Kamu mau kan meninggalkan suamimu?"


"Tidak akan!" tiba-tiba suara berat dipenuhi amarah menggelegar di dalam ruangan yang luas itu.


Naina dan Chris menoleh, melihat seorang pria bertubuh besar, dengan wajah yang dipenuhi amarah.


TBC