My Bule Husband

My Bule Husband
Terselamatkan


Langkah Naina terburu-buru, seperti ada yang mengejar. Sesekali menoleh ke belakang, akhirnya dia bernafas lega karena Reygan tidak mengejarnya.


"Hah." Naina mendesah kesal, "Dasar Bule kw!"


Naina lelah, lalu memilih duduk di dekat susunan bahan bangunan. Gadis itu menggerutu dan memaki Reygan yang mengintimidasinya.


"Emangnya dia siapa? Sok berlagak kayak suami yang paling kompeten dan perhatian?! Apa-apaan? Anaknya aja ditelantarin." gerutunya sambil mengusap keringatnya.


"Capek banget." keluhnya. Naina kemudian membuka payungnya, karena hari semakin panas dan dia tidak tahan.


Tapi kali ini Naina ceroboh, saat payung membentang lebat, justru malah membuat susunan batu bata yang ada di belakangnya berhamburan dan jatuh tepat di tubuhnya.


Naina berteriak kencang saat beberapa batu bata mengenai punggungnya dan kepalanya. Payung itu melayang seketika, Naina pikir dia akan mati tertimbun batu.


Tapi beberapa detik kemudian, Naina mendengar batu bata masih berjatuhan, tapi tidak mengenai tubuhnya lagi, melainkan sosok bertubuh besar yang kini memeluknya dari belakang.


Bibir Naina bergetar setelah batu bata itu roboh dan rata di atas tanah. Dia masih syok, tapi penasaran melihat siapa yang melindunginya.


Naina menoleh, melihat Reygan yang menutupi tubuhnya dari belakang.


"Pak..." panggilnya dengan suara lemah.


Pandangannya perlahan menggelap bersamaan dengan darah segar mengalir dari kepalanya.


***


Naina membuka matanya saat rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya. Pandangannya berkunang-kunang saat matanya memaksa untuk terbuka.


Naina hampir berteriak, karena rasa sakitnya semakin menjadi. Terutama di bagian punggungnya, rasanya punggungnya hampir patah.


"Hah..." Naina resah menahan rasa sakitnya.


"Mama, Mama udah bangun?" tiba-tiba seseorang bicara.


"Pa, Kek. Mama udah bangun." teriak Steve.


Rudi dan Reygan yang tadinya duduk di sora ruangan segera menghampiri.


"Nak, bagaimana perasaanmu? Mana yang sakit?" cecar Rudi dengan sangat cemas.


Wajah Naina memelas, sakit di punggungnya benar-benar menyiksa.


"Sakit Pa..." suaranya bergetar menahan tangis.


"Panggil dokter Rey!" perintahnya dan Reygan menurut.


Beberapa saat kemudian dokter datang.


"Tolong menantuku dokter. Dia kesakitan. Lakukan apa saja yang penting dia tidak kesakitan!" perintah Rudi.


Dokter mengangguk, "Baik Pak. Bu Naina kesakitan karena obat pereda sakitnya sudah habis." ujar dokter.


Dengan sigap dokter menyuntikkan lagi obat pereda sakit pada Naina. Naina yang tadinya meracau, perlahan mulai tenang. Obatnya mulai bereaksi.


"Tubuh Bu Naina cukup lemah, makanya dia sampai kesakitan seperti ini. Tapi tidak apa, rasa sakitnya akan hilang dalam dua hari ini." jelas dokter.


Merasa tidak ada urusan lagi, dokter undur diri.


"Sedikit Pa." jawabnya, karena memang rasanya punggungnya berdenyut perih, tapi tidak sesakit beberapa menit yang lalu.


"Mama sakit banget ya?" tanya Steve dengan wajah sedihnya.


Naina memaksakan senyumnya, "Nggak kok sayang. Mama masih bisa tahan kok."


Naina memegang kepalanya yang dibalut kain kasa. "Ini?" tanyanya pada orang-orang itu.


"Itu tidak papa Nak. Kata dokter hanya geger otak ringan. Tidak ada masalah serius." jelas Rudi agar Naina tidak cemas.


Naina baru menyadari sosok penyelamatnya ternyata ada di sebelahnya. Reygan. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya.


Naina memperhatikan Reygan yang terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka sedikit pun. Naina bingung, padahal seingatnya Reygan menangkis runtuhan batu untuknya. Harusnya Reygan lebih parah darinya.


"Bapak... tidak kenapa-napa?" tanyanya dengan suara lemah


Naina tidak gengsi untuk bertanya. Untuk hal ini Naina cukup khawatir, karena Reygan terluka karena dirinya.


Reygan menggeleng, masih dengan wajah datarnya.


Rudi terkekeh, "Suamimu kuat Naina. Lihat tubuhnya yang kekar, tidak ada apa-apanya bahkan jika ditimpuk batu." ucap Rudi.


"Tapi..."


"Jangan mencemaskan Reygan Naina. Sudah menjadi tugasnya untuk menjaga dan melindungimu. Kamu adalah tanggung jawabnya."


Reygan membiarkan Rudi menjawab tanpa ingin menanggapi.


"Sudah, sudah. Steve, biarkan Mama istirahat. Nanti kalau Mama udah agak mendingan baru kamu tanya-tanya." ujar Rudi


"Iya Kakek. Mama istirahat ya, biar cepat sembuh." ucapnya.


"Iya Steve."


"Ayo sini, sama Kakek." ajak Rudi.


Reygan masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Naina begitu lekat. Tapi wajahnya masih tanpa ekspresi.


Pria itu sadar apa yang menimpa Naina adalah kesalahannya. Dia yang menyebabkan Naina duduk di tempat itu karena kelelahan.


Naina sadar tatapan Reygan, dia pun turut membalas tatapan itu.


"Bapak beneran nggak papa?" tanyanya sekali lagi. Dia sangat kesakitan, bukan tidak mungkin Reygan tidak kesakitan, bahkan sekuat apapun pria itu.


Reygan menggeleng samar, "Aku mengirimi pesan pada Chris. Dia tidak tahu kejadian ini." ucap pria itu dengan datar.


"Istirahatlah, agar kamu sembuh dan bisa cepat kembali bekerja." ucapnya.


Entah sengaja atau tidak, itu adalah sebuah sindiran untuk Naina.


Naina ingin menyanggah, tapi Reygan sudah lebih dulu pergi.


TBC