
Naina masih terpaku pada dua manusia gunung es, yang semakin lama semakin mendekatinya. Reygan dan Steve. Ya, Naina tidak salah lihat. Dua manusia itu adalah suami dan putra sambungnya.
"Steve..." panggil Naina pelan. Masih dipenuhi rasa terkejut.
"Mama..."
Dan lagi, Naina hampir meleleh ketika pertama kali mendengar suara Steve memanggilnya dengan panggilan keramat itu. Naina tidak bisa berkata-kata lagi.
Steve semakin dekat, menengadah melihat Naina yang masih terpaku di tempatnya.
Wajah Steve terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada wajah angkuh penuh kesombongan di wajah itu. Yang tersisa hanyalah kerinduan bercampur penyesalan.
Steve langsung memeluk kaki Naina. "Steve..." Naina tersentak.
"Maafin Steve Mama. Steve janji nggak akan jahat lagi sama Mama." di hadapan anak-anak panti Steve berucap penuh penyesalan.
"Steve..." menyentuh bahu anak itu.
Steve menengadah lagi, dengan mata berkaca-kaca, "Mama maafin Steve kan? Jangan marah lagi, Steve akan jadi anak baik." bibir itu kembali meracau.
"Steve, kamu kenapa?" ucap Naina sambil melihat Reygan yang masih berwajah datar.
"Kata Elisa Mama Naina nggak akan kembali lagi ke rumah. Jangan Ma.. Jangan pergi..." tangis Steve semakin menjadi.
Naina akhirnya mengangkat Steve dalam gendongannya, "Itu tidak benar Steve. Aku berencana akan pulang besok." sambil mengusap air mata Steve.
Seketika Steve diam, melihat Naina lekat, "Tapi kata Elisa Mama pergi karena Steve jahat."
"Itu tidak benar. Elisa hanya bermain-main." ucapnya.
"Jadi Mama nggak akan pergi kan?" Steve memastikan, masih senggugukan.
"Iya, Mama pasti pulang kok."
"Itu siapa Kak? Udah besar tapi kok masih digendong. Nangis lagi. Nggak malu!" tiba-tiba anak perempuan yang lebih muda dari Steve berucap.
Naina menoleh, sedangkan Steve langsung memelototkan matanya pada anak itu.
"Rena, nggak boleh ngomong gitu. Nggak baik." ucap Naina, kemudian menurunkan Steve. "Ini Steve, dia..." seketika Naina diam, bingung mengakui Steve sebagai apa.
"Mama Naina, Mamaku." Steve langsung memeluk kaki Naina.
"Mama?" ucap yang lain.
"Siapa yang datang Nai?" dari arah rumah muncul Arnita.
Wanita itu melihat Reygan, "Nak Reygan? Kamu datang?"
Reygan sadar diri, meski tidak menyukai datang kemari, setidaknya dirinya harus bersikap sopan.
Pria itu canggung, tersenyum tipis, "Iya Bu."
"Nai, kenapa suamimu nggak diajak masuk?"
"Iya Bu." jawabnya. Kemudian menatap Reygan, "Silahkan masuk Pak."
Jelas Naina masih belum melupakan kata-kata pedas pria itu saat terakhir kali bertemu. Hinaan itu masih membekas di hatinya.
Reygan menurut, masuk ke dalam rumah.
"Kalian main-main di sini dulu ya." ucap Naina pada anak-anak.
"Ini Steve ya." tanya Arnita begitu mereka duduk di sofa. Sedangkan Steve memilih duduk di samping Naina, dan Reygan duduk di sofa single di samping Steve.
Steve melihat Naina bingung, "Ini Nenek Arnita, ibu yang merawat Mama dari kecil." jelasnya. "Ayo, sapa Nenek Arnita." tapi Naina tidak yakin Steve mau bicara dengan orang kecil seperti mereka.
Namun tindakan Steve tidak terduga, bocah itu turun mendekati Arnita, "Halo Nenek. Aku Steve. Senang bertemu dengan Nenek." sambil mencium tangan Arnita.
"Sopan sekali." ucap Arnita riang, senang melihat Steve. "Nenek juga senang mengenalmu Sayang." sambil mengusap rambut Steve.
Setelahnya Steve kembali ke samping Naina.
"Nai, kamu nggak ada rencana buatin minum buat suami kamu? Masa suami datang dibiarin gitu aja." ucap Arnita.
"Tidak perlu Bu. Kami hanya sebentar di sini." sanggah Reygan.
"Tapi Steve mau nginap di sini." ucap Steve tiba-tiba membuat Reygan dan Naina terkejut.
"Steve?"
"Steve mau menginap di sini sama Mama. Bolehkan Ma?" kata Steve lagi.
"Steve... Mama..."
"Tentu saja sayang. Kamu bisa menginap di sini sesukamu." timpal Arnita.
"Ibu?"
"Udah nggak papa. Ini pertama kali Steve datang ke rumah kamu dibesarkan. Biarkan saja. Lagian masih ada satu kamar kosong untuk tamu, nanti Ibu siapkan untuk kalian bertiga." tambah Arnita.
"Bertiga?"
"Iya, Nak Reygan juga ikut menginap bukan?" tanya wanita itu.
Reygan tersadar, "Aku..." pria itu hendak menolak.
Namun Steve seperti tidak merasa bersalah setelah memfitnah Papanya. "Iya kan Pa?"
"Nah, bagus kalau begitu. Ibu senang kalian menginap di sini." Arnita bangkit, "Nai, siapkan makan malam kita. Biar Ibu yang siapkan kamar kalian untuk malam ini."
Naina mengedipkan matanya, masih bingung.
"Steve, kalau mau main, di luar ada teman-teman kamu. Nggak papa kok, mereka anak-anak yang baik."
"Iya Nek."
Arnita akhirnya pergi menyiapkan kamar untuk mereka. Sedangkan Naina dan Reygan masih duduk di tempat sebelumnya.
"Ma, Pa, Steve ke luar ya." ucap Steve kemudian akhirnya pergi.
Suasana menjadi canggung antara dua insan itu. Reygan mengetuk-ngetukkan jarinya ke bahu sofa, sedangkan Naina melihat ke arah lain.
"Ehmm..." beberapa detik kemudian Naina berdehem, "Bapak ngapain ke sini?" tanyanya pelan.
Reygan membalas tatapan Naina, tetap tidak lama, hanya selang dua detik saja. "Steve merengek ingin menemuimu." ucapnya dingin.
"Oh..." kemudian merapatkan bibirnya. Suasana canggung kembali mendominasi.
"Bapak tunggu di sini. Atau kalau bosan, bapak bisa keliling rumah. Aku mau masak dulu." ucap Naina kemudian buru-buru meninggalkan Reygan.
Reygan melihat punggung Naina menghilang dibalik pintu, dan setelah itu Reygan menghembuskan nafasnya. Pria itu sangat tidak menyukai suasana tadi.
Sepanjang sore menjelang malam Naina memasak di dapur. Steve cukup mudah berbaur dengan anak-anak panti yang lain. Sedangkan Reygan mengisi kebosanannya dengan keliling di sekitar pekarangan panti, sembari mengawasi Steve bermain dengan anak-anak lainnya.
Saat makan malam tiba, Reygan dan Steve merasakan perbedaan yang kentara dengan gaya hidup mewah mereka. Makan malam sederhana bersama anak-anak malang yang ditelantarkan oleh orang tua mereka. Tetapi sungguh memberikan rasa berbeda di hati kedua ayah anak itu.
Rasa iba, haru bercampur aduk, membuat Steve merasa tidak bersyukur selama ini. Ternyata masih ada anak lain di luar sana yang merasakan hidup tidak layak.
Steve bersyukur masih memiliki Papanya, meski dirinya belum pernah sekalipun melihat Mama kandungnya.
Makan malam berakhir hikmat. Semua kembali ke aktivitas masing-masing. Anak panti yang sekolah masih belajar, sedangkan sebagian lagi bermain kartu mainan di ruangan lain.
Naina masih harus mencuci piring bekas makan, sangat banyak sehingga membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan Reygan tengah berbincang-bincang dengan Arnita di ruangan lain.
***
Setelah selesai mencuci piring, Naina masih melihat Arnita dan Reygan bicara di sana. Naina tidak ingin mengganggu, membuatnya memilih melangkah ke kamar. Bukan kamar yang disiapkan Arnita untuknya dan Reygan, melainkan kamar Arnita.
Saat di kamar Naina terkejut melihat Rena yang berbaring di atas tempat tidur.
"Rena, kamu ngapain di sini?"
"Rena mau tidur sama Ibu Kak." ucap Rena.
Rena memang anak yang paling manja di antara anak-anak yang lain. Kadang-kadang anak kecil itu selalu merengek tidur dengan Arnita.
Naina tidak ingin mengusir Rena. Karena tidak mungkin mereka tidur bertiga, karena tempat tidur Arnita tidak cukup luas untuk mereka bertiga. Mau tidak mau dirinya harus satu kamar dengan Reygan.
Lagi-lagi Naina merasa sial, sebab di kamar itu tidak ada sofa. Naina duduk di tepi tempat tidur, tepat saat pintu kamar terbuka.
"Steve."
"Mama mau tidur?" tanya Steve.
Naina mengangguk, "Steve udah ngantuk?"
Steve mengangguk, "Sini tidur sama Mama." Naina berbaring, diikuti Steve. Steve sengaja menyisakan tempat untuk Reygan di sampingnya.
"Nanti Papa tidur di sini kan?"
Naina mengangguk setengah hati, "Ayo, tidurlah.
Naina mengusap-usap kepala Steve agar anak itu cepat tidur. Dan tidak lama kemudian Steve tidur dengan pulas, membuat Naina juga ikut nyenyak.
Keduanya tidak sadar saat pintu kamar dibuka oleh seseorang. Reygan. Pria itu disuguhkan sebuah pemandangan yang sangat menyejukkan hatinya. Untuk pertama kalinya pria itu melihat Steve tidur dengan ibunya.
Entah mengapa seolah ada magnet yang menariknya untuk bergabung dengan dua orang itu. Reygan mengisi tempat di sebelah Steve dengan sangat hati-hati, agar mereka tidak terbangun.
Cukup lama pria itu memandangi Naina dan Steve, dengan tangan kanannya menumpu kepalanya.
Naina masih saja terlihat cantik saat tidur. Bahkan terlihat polos dengan bibir mungil dan hidung kecilnya.
Reygan menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya yang tanpa sadar mengagumi Naina. Reygan akhirnya memilih menutup matanya.
Beberapa menit kemudian, Steve membuka sebelah matanya. Melirik Reygan yang sudah tidur nyenyak. Steve bangun, dengan sangat pelan turun dari tempat tidur.
Tepat saat itu, Naina bergerak, bergeser tanpa sadar memeluk Papanya. Steve tersenyum, "Mama, Steve janji akan membuat Papa mencintaimu. Selamat tidur." lirih bocah itu sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Di luar, Steve mengambil ponselnya, mengirimkan pesan pada seseorang.
"Misi berhasil."
TBC