
Lengkap sudah kebahagiaan meliputi keluarga Dos Santos, yang sempat mengalami kekacauan dan perpisahan. Kini bertambah dua makhluk menggemaskan yang semakin melengkapi kebahagiaan mereka. Yaitu Giselle dan Stella yang akan membuat rumah itu dipenuhi tawa.
Meski saat ini kondisi mental Sesil masih belum stabil, tetapi baik Naina, Rudi dan Reygan berusaha semampu mereka untuk menyemangati wanita itu. Sampai saat ini Sesil masih belum mau bicara akan masa lalunya yang kelam. Dan mereka juga tidak ingin mendesak Sesil.
Beberapa hari ini, Sesil tengah menjalani konsultasi dengan psikolog yang membantunya perlahan pulih dari depresinya. Mereka melakukan apapun untuk Sesil.
Saat makan malam tiba, semua orang dewasa sudah berkumpul di meja makan, kecuali Steve dan Giselle. Steve naik lagi ke atas untuk memanggil Giselle yang tak kunjung turun. Entah apa yang gadis nakal itu lakukan, sampai panggilan ayahnya tidak digubris.
"Papa nggak habis pikir sama Giselle." tiba-tiba saja Rudi mendesah frustasi ketika mendengar suara rengekan Giselle dari lantai atas. Pasti anak itu bertengkar lagi dengan Steve.
"Dulu Giselle tidak nakal seperti sekarang. Penurut dan tidak suka membuat orang kesal. Tapi sekarang lihat, semenjak ketemu sama Papanya, Giselle berubah total." tutur Rudi sambil menatap putranya sinis.
Reygan langsung mendelik tidak suka, "Maksud Papa apa? Maksud Papa aku ngajarin Giselle makanya jadi seperti itu?"
"Papa nggak bilang, tapi emang kenyataannya begitu." balas Rudi. Keduanya kini saling menatap dengan jengkel. "Tanya sendiri sama istri kamu, betapa lucunya Giselle dulu. Penurut, nggak suka melawan dan selalu sopan."
Reygan ingin membalas, tetapi Naina langsung menyela. "Udah jangan berantam. Omongan Papa ada benarnya. Giselle seperti karena kamu terlalu memanjakan Giselle." kata Naina membuat Reygan merasa terpojokkan.
"Memangnya salah jika aku memanjakan putriku? Aku sangat menyayanginya." ujarnya. Merasa tidak terima akan tuduhan Ayah dan istrinya.
"Aku tahu sayang. Kamu sangat menyayangi putri kita. Tapi cara kamu salah. Jika kamu terus mentolerir setiap Giselle membuat kesalahan, itu akan membuat Giselle menjadi sosok yang sesuka hati. Dan juga, jangan membelikan barang-barang yang berlebihan untuknya. Karena nantinya Giselle akan sulit menghargai sesuatu, karena semuanya bisa didapatkan dengan mudah." nasihat Naina lembut membuat Reygan diam.
Memang sejak bertemu, Reygan sangat memanjakan Giselle. Apa saja yang Gisella inginkan selalu dikabulkan, bahkan yang tidak Giselle butuhkan sekali pun. Tidak hanya itu, setiap Giselle membuat kesalahan, Reygan tidak pernah menyalahkan. Harusnya Reygan memberikan nasihat agar Giselle tidak mengulanginya lagi.
"Dengar tuh nasihat istri kamu. Kamu boleh memanjakan Giselle, tapi harus ada batasannya. Ingat waktu Giselle mendorong bibi ke kolam renang? Harusnya kamu nasihatin Giselle, bukannya malah marah-marah nggak jelas sama Bibi." omel Rudi.
Reygan semakin tidak bisa berkutik lagi. Sampai suara tangisan Giselle semakin terdengar mendekati ruang makan.
"Huaaaa....." suaranya semakin kencang begitu masuk ke ruang makan diikuti Steve di belakangnya. Kemudian anak itu berlari menuju Reygan. "Papa...."
Reygan menangkap dan mendudukkan di pangkuannya. "Princessnya Papa kenapa nangis?" sambil menghapus air matanya.
"Kakak..." menunjuk Steve sedangkan wajahnya bersembunyi di pelukan Reygan.
Orang yang ditunjuk mengedikkan bahu. "Steve nggak ngapa-ngapain. Cuma dibentak dikit gara-gara rak buku punya Kakek hancur berantakan karna ulahnya." jawab Steve santai.
Rudi melebarkan matanya. Pria itu paling tidak suka barang-barang di ruang kerjanya dipegang sembarangan, karena di sana ada banyak dokumen penting perusahaan. Menatap Giselle yang semakin menenggelamkan wajahnya karena ketakutan.
Reygan melihat Rudi sangat marah dan dia sadar apa yang Giselle lakukan sangat salah, dan tentu tidak bisa ditolerir begitu saja.
"Sayang, benar kata Kak Steve?" tanya Reygan sambil meraih wajah putrinya.
Giselle dengan takut mengangguk, "Giselle lagi cari buku cerita kancil Pa. Tapi nggak ketemu." kata anak itu dengan polosnya membuat semua yang mendengarnya menggelengkan kepalanya jengkel.
Giselle melirik Rudi dengan wajah yang tidak senang, kemudian menundukkan kepalanya. "Papa, Kakek marah ya sama Giselle?" tanya anak itu.
"Ya marahlah, masa enggak." timpal Steve.
"Sayang, kamu tahu enggak biar Kakek nggak marah sama Giselle?" tiba-tiba Naina yang duduk di samping Reygan menimpali.
Giselle menatap antusias. "Apa Ma?"
Naina tersenyum, "Nanti Mama kasih tahu, tapi sekarang kita makan dulu ya."
Giselle berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.
***
Sebagai hukuman untuk Giselle, Naina meminta Giselle menyusun kembali buku-buku yang telah berantakan dibuatnya. Giselle tidak menolak, gadis kecil itu sedari tadi menundukkan kepalanya sambil menyusun buku-buku. Karena di sana ada Rudi yang mengawasinya.
Setelah selesai, Giselle mendekati Rudi.
"Kakek, Giselle udah selesai." ucap gadis itu.
"Hmm..." jawab Rudi.
"Kakek masih marah sama Giselle?"
Rudi melihat cucunya. Wajah imut itu terlihat menggemaskan, sangat berbeda ketika anak ini usil dan nakal. Bagaimana mungkin dia betah marah pada anak ini?
"Sini. Peluk Kakek." melebarkan tangannya dan Giselle langsung melompat ke pelukannya. "Kakek nggak marah lagi, tapi janji Giselle nggak akan nakal lagi?"
"Hem, Giselle janji nggak akan nakal lagi."
Begitulah kedua generasi itu berdamai dan bertengkar. Tiada habisnya berjanji tapi selalu diulangi lagi.
Sedangkan di tempat lain, masih di rumah yang sama, Sesil baru saja menidurkan putri cantiknya. Malam masih belum terlalu larut, dia pikir dia akan menemui Kakak iparnya untuk mengobrol sebelum tidur. Mereka memang selalu menghabiskan waktu setiap malam untuk sekedar bercanda.
Saat akan menuju ruangan favorit mereka, telepon rumah berbunyi, membuat langkahnya terhenti. Tidak ada orang lain di sana yang membuatnya mau tidak mau harus mengangkat telepon.
Sesil mengangkat telepon dan meletakkan di telinganya.
"Halo." sapa seseorang di seberang sana.
Sesil tidak menjawab. Gadis itu membisu, suaranya tercekat di tenggorokannya.
"Halo. Apakah benar ini kediaman keluarga Dos Santos? Boleh bicara dengan Naina? Saya Kakaknya. Dari tadi tidak bisa menghubungi nomor Naina." cecar orang itu.
Entah mengapa wajah Sesil malah pucat, seolah tidak ada darah mengaliri wajahnya. Bibirnya bergetar, begitu pun dengan setiap anggota tubuhnya yang mulai lemas. Pesawat telepon di genggamannya jatuh begitu saja, sehingga menimbulkan suara berisik.
Tidak sampai di situ, tubuhnya pun ikut lemas. Tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Yang perlahan ambruk di atas lantai marmer yang dingin tersebut.
TBC