My Bule Husband

My Bule Husband
Stella Clarissa Dos Santos


Rumah yang pernah bagaikan rumah tanpa penghuni itu, kini semakin ramai oleh kehadiran Naina dan anak-anaknya. Terutama Giselle, yang selalu mengundang tawa bagi setiap anggota keluarga.


Dan rumah itu semakin ramai dengan tangis bayi cantik milik Sesil. Giselle sangat menyukai bayi itu dan senang menjaga bayi itu.


Malam itu, sesuai rencana, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Malam ini mereka akan memberikan nama untuk putri Sesil. Setelah bicara baik-baik, Sesil menyerahkan pemberian nama putrinya pada keluarganya dan tidak keberatan sama sekali.


Sebenarnya Rudi sangat ingin membuat pesta besar-besaran untuk pemberian nama untuk cucunya tersebut, sekaligus mengenalkannya pada rekan-rekannya dan juga publik.


Tetapi Sesil tidak setuju. Mengingat status putrinya yang hanya anak yang tidak memiliki ayah, Sesil tidak ingin putrinya menjadi bahan omongan di kalangan publik.


Rudi juga tidak bisa memaksakan kehendaknya, karena apa yang Sesil katakan benar adanya. Sebaik apapun dia menutupi status cucunya, bukan tidak mungkin orang lain mengetahui hal tersebut.


Untuk saat ini, mereka masih menyembunyikan semuanya, sampai Sesil siap bicara dan kesehatan mentalnya sudah pulih.


"Cucu Kakek yang cantik ini. Sangat mirip dengan Ibunya." ujar Rudi gemas sambil mencium pipi bayi tersebut.


"Ih... Kakek jangan cium dede bayi. Nanti dedenya jadi bau." sergah Giselle sambil mendesak Rudi yang tengah menggendong bayi itu.


Rudi mendelik, lalu menjauhkan bayi itu dari Giselle. "Anak ini benar-benar." ucapnya geram pada cucunya yang tengil.


"Sini dedeknya. Biar Giselle yang gendong. Kakek bau." celetuk Giselle, sehingga mengundang tawa yang lain.


Rudi tidak habis pikir dengan Giselle. Sebelumnya Giselle tidak seperti ini, tetapi setelah bertemu dengan ayahnya Reygan, entah mengapa anak ini menjadi nakal dan sangat suka membuat orang kesal.


"Giselle, jangan ngomong gitu sama Kakek. Nggak sopan." kata Reygan. Namun dibalik nasihat itu tersirat nada puas terhadap Rudi yang diroasting oleh putrinya. Dalam hatinya, Reygan bangga dan senang akan tingkah Giselle. Reygan bahkan menahan tawanya, yang membuat Rudi semakin jengkel.


"Tapi Kakek kan emang bau. Kalau dedek bayi dicium-cium, nanti dedenya malah ikut bau." celetuk Giselle dengan polosnya. Dan kali ini, semua orang tertawa terbahak.


Rudi memejamkan matanya. Kali ini dia mendapatkan lawan yang sepadan setelah Reygan. Ayah dan anak itu sama saja.


"Giselle. Nggak boleh ngomong gitu." nasihat Naina, meski tetap saja ikut menahan tawanya.


Jika Naina sudah bicara, maka Giselle akan menurut.


"Cepat minta maaf sama Kakek." perintah Naina.


Giselle menurut saja, kemudian mengambil tangan Rudi, "Maafin Giselle Kek. Giselle nggak ulangi lagi." ucapnya.


Rudi memutar matanya, senakal apapun Giselle, dia sama sekali tidak bisa marah padanya. "Hmm... jangan diulangi lagi. Jadi anak yang sopan sama orang tua." nasihatnya. Tapi siapa yang tahu, Reygan dan Steve masih menahan tawanya di seberang sana.


Suasana menjadi hening dalam beberapa saat. Rudi kini bicara dengan serius.


"Seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya, malam ini kita akan memberikan nama untuk putri Sesil." ujar Rudi.


"Bagaimana Nak, nama apa yang ingin kamu berikan untuk putrimu?" tanya Rudi pada Sesil.


Entah mengapa suasana hati sedang tidak baik malam ini. Wanita itu baru saja sadar dari lamunannya.


"Aku... Sesil belum menyiapkan nama yang bagus Pa." jawab Sesil dengan ragu. Entah itu hanya alasan, atau memang benar adanya.


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, dan semua orang melihat pada Sesil.


"Giselle aja Kek. Biar Giselle yang kasih nama buat dede bayi." celetuk Giselle tiba-tiba.


"Giselle." Steve menatapnya tajam.


Giselle memajukan bibirnya, kemudian mendekati Sesil.


"Tante, biar Giselle aja yang kasih nama buat dede bayi ya?" ucap gadis kecil tengil itu penuh harap. "Giselle udah siapin nama yang cantik buat dede bayi."


Sesil tersenyum, lalu memegang dagu Giselle. "Kenapa enggak sayang. Memangnya Giselle mau kasih nama apa buat dede bayi?" ucapnya.


Seketika Giselle tersenyum, "Stella. Namanya Stella." celetuknya membuat Sesil tersenyum.


"Stella?" Steve menahan tawanya, meledek adiknya tersebut.


"Emangnya kenapa? Stella kan cantik?" tukas Giselle, yang kesal akan ejekan Steve.


"Kenapa nggak sekalian Downy, kalau nggak Daia." ejek Steve.


"Ih... Kakak!" teriak Giselle kesal.


"Papa liat Kakak." adunya pada Reygan.


Namun sangat disayangkan, Reygan juga malah ikut tertawa, membuat Giselle kesal setengah mati.


"Papa! Kakak!" gadis cengeng itu akan menangis, membuat Steve dan Reygan seketika terdiam.


Naina melontarkan tatapan tajam pada suami dan putranya tersebut. "Kalian ini!"


Naina segera membawa Giselle duduk di pangkuannya, "Sudah sayang. Jangan nangis. Nanti Mama yang hukum mereka." Naina berusaha menenangkan, tapi suara gadis kecil itu masih menggelegar memenuhi ruangan.


"Keponakan Tante yang cantik. Jangan nangis lagi ya. Stella nama yang cantik kok, sama kayak dedenya." ucap Sesil membuat tangis Giselle berhenti seketika.


"Beneran Tante?"


"Heem." mengangguk pasti.


"Jadi Giselle boleh kasih nama Stella buat dede bayi?"


"Iya sayang. Boleh."


Giselle seketika tersenyum ceria, "Makasih Tante."


"Iya sayang, sama-sama."


"Eh, jangan cuma Sesil aja yang boleh kasih nama. Papa juga dong. Bayi ini juga cucu Kakek, jadi Kakek yang lebih berhak." sela Rudi yang sedari tadi memperhatikan cucunya yang semakin menyebalkan.


Wajah Giselle merengut, hampir akan menangis. Beruntung Naina dengan cepat bergerak.


"Nggak Papa kok sayang. Nama dede bayinya tetap Stella kok. Kakek cuma mau tambahin satu nama lagi." kata Naina.


Giselle diam, melihat satu per satu anggota keluarga untuk meminta kepastian. Saat melihat Reygan, Reygan langsung menggelengkan kepalanya, agar putrinya tidak percaya.


Tetapi tidak berhasil setelah Naina mencubit pinggangnya, membuat pria itu kesakitan setengah mati.


"Benar, Kakek nggak ganti nama yang Giselle kasih?"


"Iya sayang. Tanya aja sama Kakek."


Rudi tersenyum, mencium kening cucu bayinya dengan hangat.


"Stella Clarissa Dos Santos. Bagaimana, nama yang cantik bukan?"


"Markisa? Tadi nama pewangi, sekarang nama buah-buahan. Apa nggak sekalian buka toka buah aja." celetuk Steve.


Rudi dan Giselle kompak melihat Steve dengan tajam. "Steve!" Rudi.


"Kakak!"


Sebelum negara api menyerang, Steve sudah kabur lebih dulu.


TBC


Jan lupa votenya yaaaa