
Naina belum sadar sepenuhnya. Bagaimana pun dia hanyalah gadis polos yang belum pernah berpacaran sejak menginjak usia dewasa. Saat Reygan bilang bahwa dirinya harus melayaninya seperti seorang istri, dia tidak tahu maksud mendalam dari kata melayani itu.
Yang dia pikirkan adalah menyiapkan keperluan Reygan atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Tidak pernah terbersit dalam pikirannya melayani dalam hal yang lebih intim.
Naina membulatkan matanya, dan Reygan malah tersenyum puas.
"Bagaimana? Kamu setuju?"
"Tidak! Aku tidak mau!" tolaknya mentah-mentah.
Reygan terbahak, ini yang dia ingin lihat dari tadi. Wajah garang yang mengaum seperti harimau.
"Kamu tidak mau?!" ucapnya dengan santai.
Naina menjawab dengan sengit, "Tidak. Aku tidak akan mau!"
"Heh, kamu lupa ya. Aku ini suamimu dan kamu istriku. Seharusnya aku berhak melakukan apapun padamu tanpa persetujuan darimu."
Reygan bertolak pinggang, "Kalau aku ingin menyentuhmu sekarang, kamu bisa apa?" kali ini Reygan menggunakan posisinya untuk mempermainkan Naina.
Reygan sengaja menyoroti bagian tubuh Naina dari atas hingga bawah. Dan berakhir tepat di bagian dada yang sempat dipegangnya.
Naina langsung menutupi dadanya saat menyadari mata jelalatan Reygan, "Kamu mau apa?! Jangan macam-macam!" bentaknya.
Reygan semakin semangat, dia perlahan mendekat, dan Naina menjadi panik. Reygan semakin dekat, dan akhirnya benar-benar mengungkung tubuh Naina.
"Kenapa takut? Aku suamimu kan? Harusnya kamu tidak usah setakut ini. Aku tidak akan kasar." bisik pria itu lembut tepat di depan wajah Naina.
Naina tidak bisa berkata-kata. Reygan menghimpitnya di tempat tidur. Dia ingin menyingkir, tapi Reygan mengurungnya.
Naina takut, Reygan benar-benar menyentuhnya. Memang Reygan berhak atas tubuhnya, tapi Naina benar-benar tidak siap. Apalagi hubungan mereka masih tidak jelas, dan yang lebih parahnya masih ada Alena berada di antara mereka.
Reygan mengelus surai hitamnya dengan lembut, sementara Reygan tersenyum tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Aku tahu ini yang pertama kalinya bagimu Naina. Tapi tenang saja, aku akan memulainya dengan lembut. Kamu akan menikmatinya." ujar Reygan seperti akan melakukan aksinya.
Naina sangat ketakutan. Reygan adalah lelaki pertama yang melakukan hal seperti ini padanya. Dia takut Reygan benar-benar menyentuhnya.
Naina menggeleng, matanya berkaca-kaca, penuh permohonan. "Tolong jangan lakukan ini Pak." suaranya bergetar, penuh ketakutan.
Justru malah membuat Reygan mengerutkan keningnya. Dia bisa merasakan penolakan Naina terang-terangan. Wanita ini tidak ingin disentuh olehnya, meskipun status mereka adalah suami istri.
Naina terisak, membuat Reygan lengah. Pria itu bangkit, menyingkir dari tubuh Naina. Dan Naina akhirnya bernafas lega. Dia segera memperbaiki duduknya, sambil menghapus air matanya.
"Mama...." tiba-tiba sosok anak kecil memanggilnya dari arah pintu kamar.
"Steve." lirihnya.
Steve berlari menuju Naina, menabrak Reygan yang menghalanginya.
"Papa jangan sakiti Mama!" teriaknya para Reygan yang menjulang tinggi di depannya.
Steve bagaikan seorang pawang, melindungi Naina dengan kedua tangannya. Dia menatap sengit pada sang Papa, seolah Reygan adalah predator berbahaya.
Reygan menyipitkan matanya, sepertinya Steve melihat apa yang dia lakukan pada Naina baru saja.
"Jangan dekati Mama. Pergi Pa. Dan jangan macam-macam sama Mama Steve. Kalau sampai Papa menyakiti Mama, Steve akan sangat marah sama Papa!" Steve mencecar Reygan.
Steve tidak suka melihat Naina ditindas oleh orang lain, termasuk Papanya sendiri. Sudah cukup dia dahulu yang selalu menindas Naina. Dan sekarang tidak lagi.
TBC!!