
Naina benar-benar tidak bisa berkata-kata akan kekonyolan suaminya ini. Delapan tahun terpisah, Naina rasa suaminya sudah tidak waras lagi.
"Kamu gila Reygan! Kamu gila!" tidak ada lagi panggilan mesra pada pria itu. Naina sangat marah, lebih tepatnya geram sendiri.
Wajah Naina yang menyeramkan membuat Reygan menyadari kesalahannya.
"Kamu marah sayang? Kenapa? Kamu tidak senang dengan kejutan ini?" tanya pria itu dengan polosnya.
"Senang? Kamu pikir aku senang dengan foto-foto tidak senonoh ini?" bentaknya.
Naina sangat marah, membayangkan bagaimana dulu saat Reygan mencetak foto-foto ini. Tidak mungkin Reygan melakukannya sendiri. Atau mungkin pria itu mengirimkan fotonya ke percetakan? Jika itu benar, hancur sudah harga dirinya. Tubuhnya sudah dilihat oleh orang lain.
"Rey, kamu mikir nggak sih betapa malunya aku kalau orang lihat foto-foto ini? Aku malu! Malu!" sewot Naina.
"Nggak ada satu pun yang bisa lihat foto-foto ini. Hanya aku sayang, ingat. Hanya aku seorang yang melihat tubuh indahmu ini. Selama delapan tahun, hanya aku sendiri yang tinggal di rumah ini, dan aku tidak pernah membiarkan seorang pun masuk ke kamar ini. Jadi tidak akan ada yang melihatnya." kata Reygan.
Naina memutar bola matanya jengah, "Omong kosong. Jadi orang yang mencetak foto ini tidak melihatnya begitu? Walau pun orang itu perempuan, terap saja aku malu Rey. Kamu mikir nggak sih gimana perasaanku?" cecarnya.
"Dan kamu pikir aku bakal biarin orang lain melihat tubuhmu? Tentu tidak sayang." memegang dagu Naina yang sedari tadi masam melihatnya. Aku melakukan semua ini sendiri. Mulai dari mengedit, hingga menghias ruangan ini dengan fotomu."
"Nggak mungkin! Kamu bohong." Naina jelas tidak percaya.
"Sayang percaya sama aku. Aku tidak segila itu membiarkan orang lain melihat tubuhmu. Bahkan jika perempuan lain sekali pun. Aku tidak rela." ujar Reygan.
Naina tidak peduli, justru melipat kedua tangannya di dada.
"Aku nggak peduli dan nggak mau tahu. Pokoknya sekarang juga singkirkan semua foto-foto ini!" perintahnya.
"Sayang, kok begitu? Sayang loh fotonya. Dan lagi, aku sangat menyukainya. Dulu saat aku sangat menginginkanmu, aku selalu menghabiskan waktuku di kamar ini." ucap pria itu yang malah memancing amarah Naina.
Naina tidak bisa membayangkan seperti apa dulu Reygan di kamar ini memuaskan hasratnya sambil memandangi tubuh polosnya. Rasanya Naina ingin menangis saking malunya.
Reygan dengan wajah bingung, dan tidak rela jika foto-foto ini diturunkan.
"Sayang...." berharap Naina mengubah keputusannya.
"Aku nggak mau tahu. Kalau besok aku masih lihat foto-foto ini, jangan harap kamu masih bisa lihat aku lagi." ancamnya dan sanggup membuat Reygan kalang kabut.
Reygan melebarkan matanya sambil menggeleng lemah, "Jangan sayang. Jangan lakukan itu. Iya aku janji, malam ini aku akan menurunkan foto-fotonya."
Jelaslah Reygan takut dengan ancaman itu. Dia sudah cukup jera ditinggalkan oleh wanita tersebut.
"Ingat, harus dihancurkan. Aku nggak mau sampai ada orang yang lihat! Memalukan!" omelnya sebelumnya akhirnya pergi meninggalkan pria itu.
"Sayang, jangan pergi." namun terlambat Naina sudah menutup pintu dan mengunci dari luar.
"Sayang, pintunya kok ditutup."
"Aku nggak bakal buka sebelum kerjaan kamu beres! Telpon aku kalau sudah selesai!"
"Bye!"
TBC
Nanti malam lagi ya up nya😊