
Naina merasa Reygan sangat aneh akhir-akhir ini. Benar atau tidak Naina merasa Reygan berusaha mendekatinya. Dan Naina tidak menyukai itu.
Semua itu karena kejadian malam itu. Naina menjadi risih pada Reygan, dan enggan berada dalam ruang lingkup pria itu. Padahal jika saja malam itu tidak terjadi, mungkin hubungan mereka akan lebih baik.
Dan pagi ini, Naina setengah hati berangkat ke kantor. Sudah sejak kemarin dia kesal karena Alena menghubunginya bahwa mereka akan bertemu di lokasi proyek kerjasama kedua perusahaan itu. Tentunya dia juga akan bertemu Reygan nanti, pria yang paling tidak ingin dia temui.
Seperti biasa dia berangkat bersama Chris menuju lokasi pembangunan yang setengah jadi.
Saat sampai manager pembangunan menyambut mereka. Cuaca pagi ini sangat cerah dan sepertinya siang nanti akan semakin terik. Naina memakai helm proyek begitu juga dengan Chris.
Sembari menunggu Reygan dan Alena, Chris bicara dengan manager pembangunan, sedangkan Naina hanya mendengar di dekat mereka.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Naina mengalihkan pandangannya yang semula melihat Reygan memasangkan topi pengaman untuk Alena.
"Maaf kami terlambat. Jalanan pagi ini sangat padat." ucap Alena dengan senyum ramahnya. Sedangkan Reygan, pria itu hanya menatap Naina yang ada di samping Chris, sejak baru datang.
Chris mengangguk, "Tidak papa. Kami juga baru sampai." ucapnya.
"Baiklah, karena semuanya sudah datang. Kita mulai dari arah sana Pak." ucap manager yang mulai membimbing para atasannya.
Naina memilih tidak ikut bergabung, perutnya mulas sejak tadi, hingga akhirnya Naina pergi diam-diam mencari toilet.
Toilet umum tidak jauh dari area pembangunan. Setelah selesai Naina berniat menyusul Chris dan yang lainnya. Tetapi gagal karena Alena baru saja menghampirinya.
"Alena, kamu mau ke toilet?" tanya Naina dengan ramah. Meski tahu seperti apa hubungan Alena dengan suaminya, Naina tetap profesional. Lagipula mungkin saja Alena belum tahu kalau dirinya adalah istri dari Reygan. Karena tidak mungkin Alena masih begitu ramah padanya jika dia tahu.
"Iya. Tunggu aku ya, aku hanya akan merapikan rambutku." ujar Alena.
Naina mengangguk, dan menunggu Alena di luar toilet. Alena keluar tidak lama kemudian, "Ayo." ucapnya.
"Bagaimana hari-harimu setelah bekerja di CA Corp?" tanya Alena membuka pembicaraan.
Naina mengangguk sambil tersenyum, "Sangat baik. Aku senang bekerja di sana. Karyawan di sana baik padaku dan Pak Chris juga begitu." jawab Naina apa adanya.
"Aku senang mendengarnya. Tapi kalau kamu ada masalah tentang pekerjaanmu, katakan padaku, aku bisa membantumu." ucap Alena.
"Iya, terima kasih. Aku pasti mengabarimu."
"Kamu cukup beruntung Nai, bisa cepat beradaptasi dengan pekerjaanmu." ucap Alena.
"Kenapa memangnya?"
"Dulu waktu aku masih baru dari sekretaris Pak Reygan, semuanya terasa sulit. Aku belum berpengalaman dengan pekerjaan semacam ini, jadi waktu diawal-awal banyak pekerjaanku yang terbengkalai." jelasnya.
"Tapi kamu akhirnya bisa menjadi profesional kan?" timpal Naina. Kali ini, Naina menganggap Alena tidak tahu-menahu akan pernikahannya dengan Reygan. Mungkin Reygan menyembunyikannya.
Alena tersenyum, "Iya kamu benar. Beruntung Pak Reygan sangat baik padaku. Beliau maklum, dan membimbingku dengan baik."
Senyum Naina pudar saat nama suaminya disebut. "Kalau begitu kita berdua sama-sama beruntung memiliki bos seperti mereka." sahutnya dengan senyum paksaan.
"Ya, kita beruntung." Tiba-tiba Alena menggandeng tangannya. Awalnya Naina terkejut, tetapi membiarkannya pada akhirnya. Keduanya terlihat seperti teman baik.
"Oh ya Nai, kamu sudah pacar tidak?" tanya Alena.
Naina diam, "Eh maksudku, kamu sangat cantik, aku penasaran siapa pemilik hati gadis muda, cantik dan pintar ini." jelasnya dengan tawa kecil.
Naina terkekeh, "Aku tidak punya pacar."
"Seriously?" Alena menampakkan wajah tidak percaya.
"Hem. Dan aku belum pernah pacaran." timpalnya lagi.
"Nai..."
"Iya Alena. Saat ini tujuan utamaku bukan itu." jelasnya. "Ayo cepat nanti bos kita nyariin." Naina sengaja mempercepat langkahnya untuk menghindari pertanyaan Alena.
Hari semakin siang dan matahari benar-benar terik. Naina mengusap keningnya yang keringatan beberapa kali. Chris yang berada di sampingnya sangat peka.
Kakak laki-lakinya itu dengan perhatian mengusap keringat Naina menggunakan sapu tangan. Dan tentu saja semua itu tidak luput dari pandangan Reygan. Pria itu tidak mendengar penjelasan manager lagi, tetapi menatap tajam kedua makhluk di depannya.
"Panas ya?" bisik Chris.
Naina mengangguk, "Ambil payung di mobil sana." ucapnya.
Naina memang tidak tahan panas, karena tubuhnya akan sangat cepat lemah jika berlama-lama di bawah matahari. Naina tidak ingin pekerjaannya hari ini terbengkalai karena kesehatannya. Sebelum pergi dia menyerahkan helmnya pada Chris. Sejak tadi dia memang tidak nyaman memakai topi keras itu.
Gadis itu meninggalkan mereka dalam diam menuju mobil. Mobil kosong, karena supir yang biasa membawa mereka tidak ikut.
Setelah mengambil sebuah payung kecil dari mobil, Naina hendak pergi. Tapi ketika berbalik, dia hampir berteriak karena sosok bertubuh besar berdiri di belakangnya.
"Pak?" panggil Naina, menatap Reygan yang menjulang tinggi di depannya. "Bapak ngapain di sini?" ucapnya sambil berusaha menyingkir.
Tapi Reygan malah mengungkungnya, memenjara Naina dengan kedua tangan bertumpu pada mobil.
"Pak!" pekiknya.
"Naina, kamu melupakan perintahku!" bisik pria itu dengan sarkas.
Naina mengernyitkan keningnya, "Minggir. Apa maksud Bapak?"
"Kamu tahu Naina. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berhenti bekerja?!" desis pria itu dengan suara beratnya.
Naina semakin bingung, bukankah masalah ini sudah selesai? Tapi kenapa Reygan masih memintanya meninggalkan pekerjaan ini?
"Bapak itu kenapa sih? Sudah kubilang aku tidak akan pernah berhenti. Sampai kapanpun! Titik!" cerca Naina dengan tatapan sengit.
Reygan sangat suka mencari masalah dengannya.
Reygan tersenyum sinis, "Istri macam apa kamu Naina? Bisa-bisanya kamu melawan perintah suamimu!" pria itu mulai memprovokasi.
Dan Naina tidak habis pikir, memangnya sejak kapan ada keseriusan hubungan ini? Reygan tidak berhak mengatakan itu.
"Bapak apa-apaan sih? Jangan bersikap seolah kita memiliki hubungan yang dekat. Kita memang suami istri, tapi kita tidak seintim itu untuk saling mendengarkan. Bapak lupa ya, bapak sendiri yang bilang untuk tidak saling mengurusi urusan pribadi kita. Tapi kenapa sekarang Bapak malah ngatur-ngatur saya?."
Naina berdecih, dia benar-benar muak.
Reygan menggeram, amarah meliputi. Jadi Naina tidak pernah menganggap pernikahan ini dengan serius. Memang dia mengakui pernah berkata seperti itu. Tapi tetap saja dirinya adalah suaminya, dan Naina harus menurut padanya.
Reygan menghela nafas, tidak ingin lepas kontrol yang justru malah membuatnya menyakiti Naina.
"Naina, aku ini suami kamu." ucapnya lembut. "Setidaknya hargai aku sebagai suami. Dan apa yang kamu dan Chris lakukan tadi, benar-benar kalau kamu tidak menghargaiku." jelas pria itu.
Naina menganga, dia menggelengkan kepalanya heran.
"Bapak lupa atau amnesia? Kak Chris itu Kakakku! Memangnya kenapa kalau kami dekat? Kami tidak memiliki hubungan apa selain saudara!"
"Aku tahu, aku tahu Naina. Tapi... kalian tidak sedarah. Bukan tidak mungkin orang menganggap hubungan kalian lebih dari kakak beradik." sepertinya Reygan sudah kehilangan akalnya.
Dan bagi Naina, Reygan sangat konyol. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran mantan bosnya itu.
"Udahlah. Mau sampai kapan pun Bapak nggak akan ngerti. Tapi Bapak dengarkan ini baik-baik, aku tidak akan pernah jauh dari Kak Chris."
Naina mendorong Reygan, tapi pria itu sangat kuat. Dia menahan Naina dalam kungkungannya.
"Naina, kamu benar-benar keras kepala! Aku tidak peduli dia kakakmu atau tidak. Dan aku adalah suamimu dan terlepas bagaimana hubungan kita, kamu tetap harus menuruti perintahku!" tegas pria itu dengan tatapan membunuh seolah ingin melahap wanita itu bulat-bulat.
TBC
Jangan lupa like dan votenya ya