
Reygan memaksakan senyumnya pada kedua anaknya. Harapannya yang melayang terlalu tinggi, terhempas dalam hitungan detik.
Ya, dia terlalu berharap banyak pada Naina.
Sementara Giselle dan Steve, saling mencuri pandang. Keduanya mengedipkan mata, tengah merencanakan sesuatu.
Reygan menggelengkan kepalanya, terlepas apa yang membuat Naina mengirimkan anak-anaknya sekarang ini, dia tetap sangat bahagia. Karena rindunya bisa terobati.
Reygan memeluk Giselle lagi, "Papa kangen banget sama Giselle."
"Giselle juga kangen Papa."
"Papa tidak kangen Steve?" suara Steve yang dingin mengganggu keduanya yang tengah asik melepas rindu.
Reygan melihat Steve, masih berwajah datar, sama sepertinya yang selalu tanpa ekspresi. Sepertinya Steve akan menjadi sosok laki-laki dingin seperti ayahnya.
Meski Steve memusuhinya selama ini, tentu Reygan tetap menyayangi putra sulungnya tersebut. Reygan merindukan darah dagingnya yang telah lama hilang dari pelukannya.
Pandangan Reygan begitu sendu, seburuk apapun sikap Steve padanya, itu tidak akan mengurangi rasa sayangnya sedikit pun.
Begitu juga dengan Steve. Suasana panas yang terjadi antara dirinya dengan ayah kandungnya tersebut, telah menjadikan hubungan mereka sangat jauh. Tetapi tidak dapat dipungkiri, Steve tetap mencintai ayahnya tersebut, meski dalam waktu yang bersamaan rasa benci timbul dalam dirinya.
Steve tersenyum, namun manik hijaunya digenangi oleh air mata. Begitu juga dengan Reygan. Kedua laki-laki dingin itu kini terlihat cengeng.
Reygan membuka lebar tangannya, membiarkan Steve masuk dalam pelukannya.
"Boy..." Reygan menepuk punggung putra sulungnya tersebut dengan perasaan haru. Stelah delapan tahun, inilah pertama kalinya dia memeluk putranya. "Maafkan Papa Nak. Tolong maafkan Papa." rapal Reygan.
Steve mengangguk dalam pelukan ayahnya. Dia bagaikan anak yang cengeng, persis seperti Giselle yang tengah merengek.
"Iya Pah, Steve sudah memaafkan Papa. Steve tidak akan memusuhi Papa lagi." balas Steve.
Cekrek Cekrek cekrek
Suasana tiba-tiba membeku saat terdengar bunyi kamera. Reygan dan Steve sama-sama menoleh. Keduanya membelalak melihat Giselle tengah asik membidik kamera ponsel ke arah keduanya.
"Kenapa berhenti? Papa, Kakak ayo pelukan lagi. Giselle belum siap mengambil foto kalian." perintah bocah tengik itu.
Reygan speechless. Putrinya sangat jahil dan menggemaskan di saat yang bersamaan. Bisa-bisanya putrinya bertingkah konyol di saat seperti ini.
Reygan tidak bisa menahan tawanya. Lalu mengangkat putrinya dengan geram.
"Kamu! Dasar anak jahil." dengan geram Reygan mencium wajah Giselle.
Steve tidak mau kalah, anak muda itu ikut membalas kelakuan adiknya dengan menggeletiki bocah tengil itu.
"Rasakan!"
"Ampun Papa, Kakak..." Giselle berteriak, tertawa di saat yang bersamaan.
"Tidak akan. Rasakan."
***
Reygan menghabiskan sepanjang sore bersama kedua anaknya. Banyak aktivitas yang mereka lakukan sore itu. Bermain game di ruang keluarga, bahkan Reygan dan Steve ikut bermain boneka dan rumah-rumahan bersama Giselle.
Jelas awalnya keduanya tidak mau. Tetapi kedua laki-laki dingin itu tidak bisa membantah perintah tuan putri Giselle. Jika tidak, maka mereka akan kena amukan sang putri.
Reygan mendapat peran sebagai ibu rumah tangga, sementara Steve sebagai ayah. Sedangkan Giselle sendiri menjadi anak yang manja.
Tidak tanggung-tanggung, Giselle memaksanya memakai daster berwarna merah muda untuk melengkapi perannya.
Reygan merasa harga dirinya jatuh sebagai laki-laki dingin tanpa ekspresi. Dia ingin memberontak, tetapi ada perintah ratu yang tidak bisa dibantahnya.
Steve dan Reygan dengan lesu mengikuti drama Giselle. Keduanya terlihat memegang cangkir berwarna merah muda, seolah mereka menikmati perannya.
Cekrek...
Lagi, Giselle mengambil gambar mereka. "Papa, Kakak, ayo senyum." perintah Giselle.
Dengan kompak, keduanya tersenyum dengan paksa. Membiarkan Giselle mengambil foto yang telah menjatuhkan harga diri mereka.
***
Setelah Giselle ketiduran, barulah Reygan dan Steve bisa bernafas lega. Reygan langsung membuka daster yang menutupi tubuhnya yang kekar.
Steve tersenyum geli melihat ayahnya tidak berdaya akan perintah Giselle.
"Jangan menertawakan Papa! Cepat bawa adikmu ke kamar!" perintah Reygan yang mencoba menutupi rasa malunya.
Steve menurut. Bergegas mengangkat Giselle yang tertidur nyenyak di karpet bulu. Bocah tengil itu kelelahan dan tertidur setelah habis mengerjai dua bodyguardnya. Ruangan itu berantakan akibat ulah ketiganya. Dan mungkin akan membuat seseorang marah besar jika melihat kekacauan ini.
Setelah Steve membawa Giselle pergi. Senyum Reygan luntur dalam sekejap setelah melihat amplop coklat yang berisi surat perceraian mereka.
Reygan mengambil tasnya beserta amplop itu, lalu membuka dua kancing kemeja atasnya sebelum beranjak menuju kamarnya.
Selangkah demi selangkah, Reygan akhirnya sampai di kamarnya. Pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan matanya sejenak, berusaha meredam kerinduannya pada wanita itu.
Ketika Reygan masih memejamkan matanya, sebuah sentuhan lembut, selembut sutra, merambat di permukaan dadanya yang bidang dan berbulu.
Reygan langsung membuka maniknya. Bertatapan langsung dengan sosok berwajah cantik yang tersenyum manis kepadanya.
Reygan masih terpaku pada sosok itu, tetapi sosok itu semakin gencar menyentuhnya. Jemari lentiknya dengan lihai melepas kancing kemejanya satu per satu.
Dia mengalami halusinasi lagi? Reygan mengerjapkan matanya berulang kali. Tetapi bayangan itu tidak hilang. Bahkan bayangan itu terlihat sangat nyata dalam manik hijaunya.
"Cepat mandi. Badanmu bau asam." suara lembut yang berasal dari bibir wanita itu menusuk gendang telinganya.
TBC?