
Reygan masih belum menyangka bahwa Naina ternyata masih menyimpan cinta untuknya. Sebelumnya dia mengira bahwa namanya sudah benar-benar terhapus di hatinya. Tetapi semuanya berubah karena putri cantiknya yang masih polos dan lugu, Giselle.
Karena itu Reygan semakin bersemangat dalam perjuangannya untuk merebut hati istrinya kembali. Bagaimana pun caranya, meski harus menggunakan putrinya.
Lain dengan Reygan yang tengah bahagia, Naina justru malah kesal. Wanita itu memilih mengurung diri di sebuah kamar yang telah disediakan di rumah baru mereka.
Sebenarnya Naina tidak mau tinggal di sini, apalagi tinggal satu atap dengan Reygan. Tetapi Reygan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk pergi. Reygan tidak melarangnya pergi, tapi pria itu telah memonopoli Giselle sejak mereka bertemu. Dan Naina jelas tidak ingin jauh dari putrinya tersebut.
Sedangkan Steve berada di kamar lain yang telah disediakan. Anak muda itu juga sepertinya masih marah pada Papanya.
Reygan saat ini berada di kamar Giselle. Kamar yang sudah dia siapkan sebelumnya, dengan desain sesuai kesukaan putrinya.
Reygan tersenyum hangat sambil menepuk-nepuk punggung Giselle dengan penuh kasih. Giselle mulai tertidur pulas berbantalkan lengan kekar sang ayah.
Gadis kecil itu sangat menggemaskan saat sedang tidur. Ekspresi wajah itu sangat mirip dengan Naina ketika tidur. Membuat Reygan tidak tahan untuk menghujani wajah putrinya dengan kecupan penuh kasih.
"Mamamu pasti merawatmu dengan sangat baik sayang." bisik pria itu. Reygan tidak akan ragu dengan cara Naina merawat dan mendidik putrinya. Semua itu sudah terbukti ketika Naina mendidik Steve delapan tahun lalu.
Dengan cara didik Naina, pasti Giselle adalah anak yang baik dan sopan.
Setelah puas melihat putrinya, Reygan pergi dari sana. Dia telah berhasil memenangkan hati putrinya. Dan sekarang giliran Mamanya. Naina.
Malam sudah semakin larut, Reygan pikir Naina pasti sudah tidur.
Reygan membuka pintu kamar yang telah dia siapkan untuk istrinya. Pria itu tersenyum karena Naina mengunci pintu dari dalam.
"Lihat saja sayang, cepat atau lambat kamu akan kembali padaku." ucapnya sambil mengambil kunci cadangan dari saku celananya. Sebelumnya Reygan sudah tahu hal ini akan terjadi. Oleh sebab itu dia sudah berjaga-jaga.
Setelah pintu terbuka, Reygan melihat Naina sudah tidur di atas ranjang. Merupakan pemandangan yang sangat dia rindukan. Dimana saat dia pulang kerja, wanita itu sudah tertidur.
Reygan tidak mau hanya berdiri saja. Pria itu naik ke atas ranjang. Berbaring lalu memeluk Naina dengan perlahan.
Reygan pikir, Naina tidak akan terganggu dengan gerakannya. Tapi Naina sudah terbangun dan sadar akan kehadirannya.
"Lepaskan aku!" bentak Naina. Wajahnya mengerut. Sangat marah.
"Sst... Jangan berisik sayang. Nanti anak-anak bangun." bisik Reygan seolah tidak peduli dengan kemarahan Naina.
"Lepaskan aku Reygan. Lepas. Sekarang kita tidak lagi memiliki hubungan apa-apa!" wanita itu geram karena Reygan belum juga mengerti.
"Kamu masih istriku karena aku tidak pernah mendatangani surat itu!" suaranya terdengar dingin, karena Reygan tidak suka jika Naina berkata seperti itu. "Dan kamu harus ingat dengan baik, pengadilan tidak menganggap perceraian itu sah, karena kamu menghilang tanpa kabar. Kamu dianggap sebagai orang hilang. Mengerti!" ucap pria itu lagi membuat Naina bungkam.
Memang delapan tahun lalu dia sangat frustasi akan semua masalah rumah tangganya. Hingga dia memaksa Chris untuk membawanya pergi sebelum Reygan menemukannya. Saat itu, Naina benar-benar tidak ingin menemui Reygan karena kebenciannya.
Dan malam ini Naina masih bersikukuh mengatakan bahwa mereka tidak lagi memiliki hubungan apapun.
"Tapi kita sudah berpisah selama delapan tahun, dan tidak pernah bertemu atau berhubungan, secara otomatis pernikahan itu tidak berlaku lagi!" cecarnya.
"Tidak ada yang boleh memutuskan hubungan kita kecuali Tuhan!" Reygan mulai marah. "Apakah kamu tidak ingat janji suci kita delapan tahun lalu hmm?"
Dan kali ini Naina benar-benar bungkam. Tidak bisa lagi mengelak.
Reygan memperhatikan wajah Naina yang tampak ketakutan karena bentakannya. Dia menjadi merasa bersalah. Tapi dia juga benci ketika Naina memutuskan hubungan mereka.
Pria itu menghela nafas, lalu dengan lembut mengusap kepala istrinya. "Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu."
Menarik Naina ke dalam pelukannya, dan entah mengapa Naina tidak memberontak.
"Aku tidak pernah menceraikanmu dan tidak akan pernah. Kamu tetap istriku, dulu, sekarang dan sampai selamanya." bisik Reygan.
TBC