
Dengan segala kemampuan yang dia miliki, Reygan berhasil melarikan sang istri ke rumah sakit terdekat. Pria itu histeris, saat akan mengangkat Naina dari mobil, Naina kehilangan kesadarannya. Dan Reygan hampir menggila ketika maniknya melihat dengan jelas darah mengucur di kakinya.
"Ahh... sayang. Apa yang terjadi?!" Reygan frustasi, melihat Naina dilarikan ke UGD.
Begitu perawat menutup pintu UGD, Reygan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Tuhan, tolong istriku. Aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan dia." sujud pria itu. Tak luput air matanya menggenang di pelupuk matanya, menandakan betapa besar rasa takutnya saat ini. Pria itu benar-benar tidak sanggup melihat wanita yang sangat dicintainya itu kesakitan.
Cukup lama, bahkan memakan waktu hampir setengah jam, pintu UGD masih belum terbuka. Yang mana membuat Reygan tidak bisa tenang di luar sana. Bibir pria itu tiada hentinya merapalkan doa untuk keselamatan wanitanya.
Namun tidak lama setelah itu, pintu UGD terbuka. Reygan mencecar dokter.
"Dokter apa yang terjadi dengan istriku. Dia baik-baik saja kan?" pria itu tidak sabaran.
Sementara dokter wanita itu menunjukkan wajah prihatin, "Kami mohon maaf Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan janin di dalam kandungan istri anda." ucap dokter tersebut.
Reygan terdiam cukup lama, berusaha memahami maksud dokter wanita itu.
"A...apa?" suara Reygan seolah tercekat, "Apa maksudmu dokter?!" suaranya meninggi.
Tubuh pria itu benar-benar mendidih dipenuhi emosi yang menyiksa. "Istriku hamil?" keningnya mengkerut penuh emosi.
"Betul Pak. Istri anda tengah mengandung, dan masih berumur dua minggu. Dari hasil pemeriksaan, istri anda terlalu kelelahan yang menyebabkan janin yang masih sangat rentan mengalami komplikasi. Kami tidak bisa menyelamatkan janin karena sebelum sampai di sini, janin sudah tiada." tutur dokter.
Untuk yang kesekian kalinya, Reygan diam melongo seperti orang bodoh. Istrinya hamil, tapi dia tidak tahu sama sekali? Dan sekarang, istrinya keguguran?
Reygan memegang kepalanya frustasi "Bodoh!" memaki dirinya sendiri.
Kejutan datang bertubi-tubi hari ini. Di saat mengetahui kabar kehamilan istrinya, harusnya dirinya bahagia. Namun sangat disayangkan calon bayi mereka sudah tiada.
"Istriku. Bagaimana dengan istriku. Dia baik-baik saja kan?"
Terlepas dari sakit hatinya setelah kehilangan calon anaknya, Reygan juga tidak boleh melupakan istrinya yang akan merasa sangat sedih dengan berita buruk ini. Karena baginya, keselamatan Naina lebih penting dari apapun.
"Istri anda baik-baik saja Pak. Tapi sekarang, pasien masih belum sadar. Bapak boleh melihat istri bapak setelah dipindahkan ke ruang rawat." kata dokter.
"Saya permisi Pak." pamit dokter.
Reygan terduduk lemas di kursi tunggu, berulangkali helaan nafasnya terdengar. Bagaimana ini? Bagaimana nanti dia menjelaskan berita buruk ini pada Naina? Naina pasti akan sangat terpukul.
***
Reygan masih setia duduk di sebelah Naina yang tertidur di atas brankar rumah sakit. Sudah satu jam lebih, tapi Naina masih belum bangun.
Tangannya bergerak mengusap kening istrinya yang sedikit lembab oleh keringat. Betapa besar cintanya pada wanita ini, bahkan jika melihatnya menderita, Reygan tidak sanggup.
"Sayang, maafkan aku. Karena ketidakpekaanku kita harus kehilangan calon anak kita. Kalau saja aku tau lebih cepat, pasti ini semua tidak akan terjadi. Mungkin anak kita masih ada saat ini." lirih pria itu.
Reygan mengusap perut rata istrinya. Menatap tempat dimana calon bayinya bersarang sebelumnya. Membayangkan adanya darah dagingnya di sana, tentu adalah hal yang sangat membahagiakan baginya. Tapi sekarang bayi itu sudah tiada, bahkan sebelum mereka tahu bayi mereka laki-laki atau perempuan.
"Hubby..." tiba-tiba saja suara lembut itu menyapa gendang telinganya.
Reygan buru-buru menghapus jejak air matanya. "Sayang, kamu udah bangun." pria itu berbinar melihat manik sang istri.
"Emm... Aku pingsan ya Hubby?" tanya bibir mungil itu.
Reygan mengangguk dengan terpaksa. "Iya sayang. Gimana perutnya, masih sakit?"
Reygan masih belum berani mengatakan yang sebenarnya. Sebab pria itu takut akan reaksi Naina yang pastinya tidak baik.
"Dikit. Tapi udah mendingan kok. Nggak sesakit yang tadi." katanya sambil tersenyum. Wanita itu menatap wajahnya intens, membuat Reygan tidak dapat membendung kesedihannya.
"Hubby, kamu habis nangis ya?" memegang wajah Reygan yang terasa dingin dan lembab.
"Tidak sayang. Aku hanya kelilipan debu." jawabnya asal.
Naina malah terkekeh, "Bohong. Mana ada debu di rumah sakit. Apalagi malam-malam gini. Bilang aja kamu cemas sama aku kan. Takut aku kenapa-napa?" mencubit pipi Reygan gemas. "Hayo ngaku."
Reygan mengangguk saja, "Iya sayang. Aku sangat mencemaskanmu." kemudian mencium keningnya cukup lama. "Aku tidak ingin kehilangan kamu sayang."
Betapa bahagianya Naina melihat betapa cemasnya Reygan terhadap dirinya, yang juga menandakan betapa besarnya cinta pria itu padanya. Namun Naina tidak tahu, dibalik rasa cemas itu, ada kesedihan yang masih belum terungkap.
TBC