
Tanpa sengaja Chris malah ikut ketiduran di kamar Rudi, tepatnya di sebelah Sesil. Pria itu memeluk Sesil dengan posesif, tanpa peduli jika saja orang yang masuk ke kamar melihat mereka seperti ini.
Sudah menjelang siang, saat Naina akan memanggil semua keluarga untuk makan siang, kecuali suaminya yang sudah berangkat ke kantor sejak tadi. Naina terkejut bukan main, melihat kedua insan itu. Meski mereka sudah memiliki anak, tetapi tetap saja Chris dan Sesil tidur di atas satu ranjang.
"Jangan mengganggu mereka. Biarkan saja." ucap Rudi menghentikan Naina yang akan membangunkan Chris dan Sesil.
"Tapi Pah... mereka..." protes Naina.
"Dalam waktu dekat mereka akan menikah Nak. Dan biarkan Chris mencoba mengambil hati Sesil." kara Rudi, membuat Naina akhirnya menurut. Andai saja Reygan melihat hal ini, tentu suaminya yang kadang gila itu tidak akan membiarkan mereka.
"Ayo. Lebih baik kita makan siang. Papa sudah lapar." ajak Rudi.
Keduanya disambut oleh Steve dan Giselle di meja makan.
"Maa, bener ya Tante Sesil dan Om Chris akan menikah?" tanya Giselle.
"Iya sayang." Jawab Naina sambil menyiapkan makanan untuk keluarganya.
"Betul sayang. Sebentar lagi kita akan membuat pesta besar untuk perasaan pernikahan Tante Sesil. Giselle senang kan?" timpal Rudi.
Giselle mengangguk antusias, "Senang Kek. Pestanya kapan Kek?"
"Secepatnya sayang." kata Rudi.
Giselle mengangguk, lalu menatap ibunya yang sibuk menyiapkan makanan untuk Rudi. Entah apa yang ada di dalam pikiran budak kecil itu.
"Ma... Papa sama Mama kapan nikah?" ucap bibir mungil itu tiba-tiba saja.
"Astaga!" pekik Naina.
Sendok yang dipegang Naina sebelumnya terjatuh di meja saking kagetnya akan pertanyaan frontal itu.
Entah mengapa wajah bocah tengil itu menjadi murung, "Kapan Ma? Kok Giselle nggak ikut?" bibir itu mengerucut semakin membuat Naina, Steve dan Rudi geregetan karenanya.
Betapa polosnya anak ini.
Naina tidak mampu bagaimana menjelaskan pada anak sekecil Giselle yang tingkat kekepoannya semakin menjadi di usianya saat ini. Lihat, sebelum mendapat jawaban, anak ini tidak akan berhenti bertanya.
"Ma, jawab Ma. Kenapa Giselle nggak ikut pesta pernikahan Mama? Sesil kan juga mau ikut." cecar bocah tengil itu.
"Giselle, bukannya Mama nggak mau undang kamu waktu itu. Tapi waktu itu, kamu masih..." Naina kebingungan. Sungguh meladeni pertanyaan Giselle adalah hal yang paling sulit baginya. Pasalnya pertanyaan Giselle selalu di luar logika dari cara berpikir seorang anak berusia tujuh tahun.
"Masih apa Ma?" gadis kecil itu menunggu jawaban.
"Kamu belum dicetak." lanjut Steve tiba-tiba membuat Rudi tidak bisa lagi menahan tawanya.
Sedangkan Giselle hanya diam melongo memikirkan ucapan Steve.
"Dicetak?" ulangnya. "Maksudnya apa Ma?" tanyanya lagi.
Rudi mencoba meredakan tawanya. "Sudah-sudah. Giselle jangan buat Mamamu pusing. Itu Papa kamu udah pulang, lebih baik tanya Papamu saja." kata Rudi sambil menunjuk Reygan yang baru datang.
"Siang semuanya. Lagi pada makan siang ya. Pas sekali waktunya Papa pulang." sapa Reygan sambil mencium kening istrinya.
"Girl, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Reygan begitu duduk di antara istri dan putri kecilnya.
Bukannya menjawab, Giselle malah balik bertanya. "Papa, kenapa Giselle nggak diundang ke pesta pernikahan Papa dan Mama?" tanya anak itu dengan wajah polosnya. Membuat Reygan yang awalnya begitu bersemangat, terdiam tiba-tiba untuk memahami pertanyaan putrinya.
Speechless....
TBC