My Bule Husband

My Bule Husband
Bawa Aku Pergi....


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan!" tanya Natasya yang sudah gugup sejak Alena mulai menerkamnya.


Alena tersenyum puas. Mangsanya sudah masuk perangkap.


"Bekerja samalah denganku. Untuk membuat Naina pergi dari Reygan." cetus Alena.


"Jangan harap aku mau bekerja sama denganmu. Kita tidak saling mengenal, jadi maaf, itu hanya terjadi dalam mimpimu." tolak Natasya mentah-mentah.


"Oh?" tersenyum sinis. "Bagaimana kalau aku memberitahu kebohonganmu pada Oma Emma? Apakah kamu pikir kamu masih bisa menemui Steve suatu hari nanti?"


Berlagak, menutup mulutnya dengan sinis, "Opps tentu tidak. Mungkin saja, selamanya kamu tidak akan bisa menemui Steve." ucap Alena membuat Natasya lemah.


Dia sangat membenci ancaman itu.


"Kamu!" ingin melawan, tapi sama sekali tidak sanggup. Wanita di depannya ini memegang rahasia besarnya.


"Jangan semarah itu. Aku bisa saja menutup mulutku. Asal kamu mau menuruti permintaanku." ucap Alena.


Natasya tersenyum hambar. Selama di negara ini, sudah dua orang yang mengancam untuk memisahkan dirinya dari putranya. Sungguh, hukumannya karena telah meninggalkan putranya sudah dimulai. Perjuangannya untuk mendapatkan putranya ternyata terlalu rumit.


Haruskah dirinya mengorbankan kebahagiaan Reygan untuk yang kedua kalinya.


***


Malam itu, Naina sudah berbaring di tempat tidurnya. Reygan baru saja keluar dari kamar mandi, bersiap bergabung di atas ranjang.


Reygan memeluknya seperti biasa, tapi akhir-akhir ini wajah Naina selalu terlihat murung. Dan Reygan baru menyadarinya.


"Lagi mikirin apa?" tanya pria itu sambil mengelus pipi Naina.


"Hem?" Naina sadar, lalu menggeleng. "Hubby."


"Ada apa?"


"Besok kamu mau kan makan siang bareng? Udah satu bulan, kita nggak pernah lagi makan siang bersama." pintanya dengan wajah memelas.


Reygan diam. Selama ini waktunya bersama Naina juga tersita. Saat siang, tanpa sepengetahuan Naina, dia sering makan siang bersama Steve dan Natasya, mantan istrinya.


Melihat wajah istri mudanya saat ini, Reygan tidak tega menolak. Selama ini, Naina tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan darinya. Dan kali ini, dia akan menuruti keinginannya.


"Terima kasih Hubby." lalu mengulurkan jari kelingkingnya, "Tapi janji jangan ada cancel-cancelan lagi?" Naina mengingatkan.


Bukan tanpa alasan, pasalnya sudah beberapa kali Reygan membuat janji makan siang bersamanya, tapi selalu saja gagal karena Reygan membatalkan.


Dan Naina tahu persis alasan pria itu. Siapa lagi jika bukan karena Steve dan Natasya.


Reygan mengangguk, "Janji. Aku janji. Besok tidak akan ada acara cancel lagi." janji pria itu.


"Keep your promise." ucapnya.


"Yes, i'll keep it."


***


Dan janji pria itu hanyalah janji tinggal janji. Sudah satu jam Naina menunggu di restoran yang Reygan janjikan dan Reygan masih belum juga muncul. Sudah puluhan kali dia menghubungi Reygan, dan Reygan tak kunjung mengangkat.


Naina mengeratkan kepalan tangannya. Lagi, Reygan hanya memberikan janji palsu padanya. Sudah tiga kali dia duduk menunggu pria itu, di tempat yang sama pula.


Naina menertawakan dirinya sendiri. Dia terlalu bodoh. Sangat bodoh karena masih saja bertahan sampai saat ini.


Wanita itu berdiri, berjalan dengan langkah cepat meninggalkan restoran. Naina tidak kembali ke tokonya, melainkan kembali ke rumah yang bagaikan neraka tersebut.


Naina menggunakan taksi, karena Pak Ahmad tidak lagi menjadi supirnya sejak kedatangan Sesil.


Wanita itu sampai di rumah. Berjalan menyusuri rumah mewah tersebut. Gendang telinganya menangkap suara dari ruang makan. Wanita itu penasaran, hingga membuat kakinya melangkah ke sana.


"Hah..." Naina sangat syok. Hampir menangis. Termangu. Melihat Reygan yang ternyata ada di sana, menikmati makan siangnya bersama Natasya dan keluarga lainnya.


Naina langsung berbalik, tidak sanggup melihat betapa harmonisnya keluarga itu tanpa dirinya. Berulang kali menepuk dadanya yang terasa sesak. Menyiksanya sampai ke ulu hati.


"Kakak, Naina nggak kuat lagi.... Bawa Naina pergi..."


TBC