
Suasana semakin mencekam setelah munculnya pria yang memutus pembicaraan keduanya.
"Pak Reygan." lirih Naina, sangat terkejut ketika melihat suaminya berada di tempat ini.
Naina semakin gugup, karena hal yang sangat dia hindari terjadi saat ini. Di sini ada Chris yang menentang pernikahannya, sementara suaminya juga ada di sini.
Reygan berjalan cepat, menghampiri Naina. Pria itu bagai api, menarik Naina posesif ke tubuhnya, membuat Naina terpekik kaget.
Chris berdiri, menantang Reygan dengan mata tajamnya. Pertemuan mereka kali ini berbeda dari pertemuan sebelumnya. Jika dulu penuh sopan santun dan penghormatan, tapi kali ini keduanya seolah akan berperang.
"Jangan pernah berharap hal itu akan terjadi! Naina tidak akan pernah pergi dariku!" suara Reygan tegas memenuhi kedua indra Chris.
Chris melontarkan senyum sinisnya, heran akan reaksi Reygan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
"Atas dasar apa Pak Reygan yang terhormat berkata seperti itu?" tantang Chris, berusaha memprovokasi Reygan.
"Kenapa tidak. Naina adalah istriku! Kamu tidak berhak membawa Naina pergi!" kecam Reygan. Dia masih menggenggam tangan Reygan erat.
Chris terkekeh geli, "Kamu mengatakannya seolah kamu adalah suami yang baik bagi Naina." ucapnya, dan itu benar-benar menohok hati Reygan.
Benar. Dia bukanlah suami yang baik bagi Naina. Tapi kali ini, dia tidak akan tinggal diam. Reygan tidak akan membiarkan Naina pergi.
"Tutup mulutmu Chris. Kamu tidak berhak ikut campur dengan urusan keluargaku!"
"Kenapa tidak? Naina adalah adikku. Aku yang lebih mengenal Naina lebih darimu." balas Chris.
"Adik angkat!" tegas Reygan, "Ingat itu dengan baik. Kalian tidak memiliki hubungan darah. Dan aku bisa saja membuat kalian tidak akan bisa berhubungan lagi!" ujar Reygan.
Dan itu sanggup membuat Naina tergugah. Naina melihat Reygan penuh protes. Dia tidak ingin berpisah dari Chris.
Reygan mengabaikannya, sementara Chris sudah sangat emosi. Dia tidak menyangka akan ada orang yang berani memisahkan dirinya dengan Naina.
"Cukup satu kali ini kamu menghasut Naina. Untuk lain kali, aku tidak akan membiarkanmu lagi!"
Reygan akan pergi membawa Naina. Tapi Naina menolak.
"Ayo pergi dari sini." ucap Reygan.
Naina menggeleng.
"Jangan memaksanya. Naina tidak pergi bersamamu!" sela Chris.
Reygan berdecak, mengabaikan Chris. Pria itu langsung meraup Naina ke dalam gendongannya.
Naina berteriak kaget, "Aku tidak mau. Lepas!" teriak Naina, sambil meronta-ronta dari Reygan. Reygan tidak peduli, pria itu pergi begitu saja dari ruangan Chris.
Setelah Reygan pergi, Chris mengetatkan rahangnya. Pria itu berjanji akan membawa Naina kembali dari pria brengsek itu.
Sementara Naina dan Reygan menjadi bahan tontonan semua pegawai CA Corp. Tentu saja, sekretaris bos mereka tengah berada dalam gendongan CEO DA Corp, perusahaan terkemuka di kota ini.
Setelah sampai di lift, Reygan akhirnya menurunkan Naina. Naina memanfaatkan kesempatan itu untuk lari, tapi Reygan yang sudah berjaga-jaga, langsung menariknya kembali.
"Lepas. Aku tidak mau!"
"Tidak boleh! Kamu tidak akan menemui Chris lagi!"
Naina tersulut amarah, dia tidak suka ada melarangnya bertemu Chris.
"Atas dasar apa Anda melarangku!" teriak Naina.
"Karena aku suamimu. Aku berhak melarangmu untuk tidak bertemu dengan orang lain!" jawabnya.
Naina tersenyum sinis, "Suami? Lucu sekali. Benar kata Kak Chris, anda berkata seolah anda adalah suami yang baik!" Naina berdecih. Dia sangat muak dengan pria itu.
"Anda tidak berhak mengatur saya meski anda suami saya! Aku tidak ingin membahas ini lagi. Seperti perjanjian awal, jangan mengurusi urusan kita masing-masing!" cerca Naina dengan amarah berapi-api. Tapi Reygan tidak bereaksi sama sekali.
Lift berhenti, Reygan membopong Naina menuju mobilnya.
"Turunkan aku! Aku tidak mau ikut!" teriak Naina sambil memberontak.
Reygan berhasil memasukkan Naina ke dalam mobilnya, meski dengan susah payah. Pria itu langsung melajukan mobilnya.
"Turunkan aku. Aku tidak mau ikut denganmu." Naina masih berteriak pada Reygan.
Tapi Reygan tidak berkutik, dia fokus mengemudikan mobil. Membuat Naina kesal setengah mati.
"Aku membencimu!" teriaknya.
Beberapa kali sampai membuat Reygan jengah. "Diam!" bentak Reygan dengan suara besarnya, dan itu berhasil membuat Naina bungkam. Suasana di mobil tiba-tiba hening.
Jantungnya berdetak, kali pertama gadis itu dibentak oleh seseorang. Naina menoleh ke luar mobil, matanya berkaca-kaca.
Sepanjang perjalanan, Naina masih diam. Dia masih syok akan suara besar Reygan yang membentaknya.
Mobil berhenti, Naina melihat sekitarnya. Ternyata Reygan membawanya ke perusahaan miliknya, tempatnya pernah bekerja dulu.
Reygan membuka pintu mobil untuknya, menarik tangannya tanpa permisi. Pria itu membawa masuk ke gedung raksasa itu.
Naina menolak, dia membiarkan Reygan melakukan apa yang dia suka. Dari lobi menuju lift khusus, keduanya sempat menjadi tontonan karyawan lainnya. Mungkin tidak banyak yang mengenal Naina, tapi itu sanggup menggemparkan suasana di kantor.
Beberapa menit kemudian, kedua insan itu sampai di ruangan Reygan yang luas.
"Duduk di sana." perintah Reygan sambil membenahi beberapa lembar dokumen dari mejanya.
"Tunggu di sini, aku akan kembali sebentar lagi. Kalau butuh apa-apa, gunakan telpon itu." ujarnya sebelum pergi dari ruangan.
Reygan keluar dari ruangan, sudah ada Doni, asisten pribadinya yang menunggu di sana.
"Don, kamu udah dapat pengganti Alena?" tanya Reygan sambil berjalan menuju ruang rapat, diikuti oleh Doni.
"Maaf Pak. Sejauh ini saya masih belum menemukan yang memiliki kualifikasi seperti Alena." jawab Doni.
Reygan mengangguk, "Aku akan menunggu satu minggu lagi. Kita butuh orang seperti Alena untuk proyek ini. Dan satu lagi, pastikan penggantinya adalah laki-laki." perintah Reygan.
Sementara Doni hanya mengangguk menuruti perintah bosnya.
Keduanya sampai di ruang rapat. Beberapa anggota eksekutif perusahaan sudah menunggu. Dia sudah sangat terlambat sebenarnya. Tapi mengingat istrinya yang akan pulang cepat hari ini, membuat semua orang menunggu.
Rapat yang dikira akan sebentar, ternyata memakan waktu yang cukup lama. Banyak yang harus mereka diskusikan hingga memakan waktu selama tiga jam.
Reygan kembali ke ruangannya, dia cukup khawatir pada Naina yang sendirian di ruangannya.
Reygan mencari istrinya di ruangannya, yang ternyata tengah tertidur di sofa yang ada di tengah ruangan.
Reygan menghampirinya, duduk di dekat Naina dan memperhatikannya cukup lama. Pria itu melihat jelas jejak air mata di wajah wanita itu.
Melihatnya, membuat Reygan menyesal telah membentak Naina sebelumnya.
Setelah beberapa lama memandangi wajah sang istri, Reygan mengangkat Naina lalu memindahkannya ke sebuah ruangan lain di sana. Reygan punya tempat tidur di ruangannya, yang digunakan jika dia sedang kelelahan.
Pria itu hampir meninggalkan Naina, tetapi tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut wanita itu.
Reygan tersenyum geli, "Kau kelaparan?"
TBC