My Bule Husband

My Bule Husband
Mulai


Reygan masih tidak mampu berkata-kata sampai saat ini. Pengakuan Naina dan kalimat sarkasnya berhasil membuat pria arogan sepertinya bungkam untuk waktu yang cukup lama.


Reygan membuktikan kata-kata sang istri, dan benar, istrinya dan rekan kerjanya adalah dua sosok yang tumbuh besar di tempat yang sama. Merasakan pahit manisnya kehidupan, saling bertukar suka dan duka. Tentu menjadi alasan hubungan mereka sudah seperti saudara kandung.


Reygan benar-benar tidak percaya. Ternyata selama ini dia selalu berasumsi buruk terhadap sang istri. Harusnya dia mencari tahu dahulu sebelum menilai. Tetapi karena status Naina yang hanya yatim piatu, Reygan enggan melakukannya. Dia menganggap Naina hanyalah gadis yang mengincar hartanya seperti gadis-gadis yatim lainnya.


Sudah beberapa hari berlalu, suasana di rumah itu masih seperti dulu. Naina tetap mengurus putranya dengan baik. Hanya saja Reygan merasa Naina menghindarinya.


Wanita itu selalu pergi saat merasakan radar keberadaannya di sekitarnya. Bahkan Naina masih tidur di kamar Steve sampai saat ini.


"Papa sama Mama lagi marahan ya?" tanya Steve yang tengah menonton televisi di ruang keluarga bersama Naina. Hari ini hari Sabtu, Naina pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Jadi Naina memiliki waktu luang menemani Steve dari sore tadi.


"Enggak kok." elak Naina, tetap fokus menonton televisi sambil memakan cemilan.


Steve tidak bodoh. Naina tidur di kamarnya beberapa hari ini sudah membuatnya curiga.


"Papa jahat ya sama Mama?" Steve bertanya lagi.


Naina berhenti menonton, dia tersenyum pada Steve. "Mama sama Papa cuma berantem kecil sayang. Papa nggak jahat kok." dalihnya.


"Terus ini apa?" tiba-tiba Steve menunjuk lengan Naina yang masih membiru, bekas cengkraman tangan besar Reygan. Itu sangat kontras dengan kulit putihnya.


Naina diam, bingung mau menjawab apa.


"Dan ini?" Steve menunjuk leher Naina yang terdapat bekas biru juga.


Naina memegang lehernya, satu minggu ini dia susah payah menutupi bekas ini. Tapi malam ini dia lupa, dan Steve akhirnya melihatnya.


"Kalau Papa jahat sama Mama, bilang sama Steve. Biar Steve yang marahin Papa." ucap Steve.


Naina mengatupkan bibirnya, Steve sangat peka terhadap dirinya. Sekecil apapun, Steve pasti bisa mengetahuinya. Beruntung Naina masih memiliki Steve yang selalu peduli padanya.


"Mama nggak papa kok sayang. Ini juga bukan gara-gara Papa. Mama yang kurang hati-hati." Naina tidak ingin hubungan Steve dan Papanya menjadi buruk hanya karena dirinya.


Steve diam, dia tahu Naina berbohong, tetapi tidak ingin memaksa Naina bicara.


Tanpa keduanya sadari, Reygan yang baru pulang dari kantor memperhatikan interaksi mereka. Reygan terpaku, keduanya begitu alami, saling menyayangi. Tidak ada sikap dibuat-buat dari interaksi keduanya. Jika orang lain melihat, mereka pasti menganggap dua insan itu benar-benar ibu dan anak.


***


Keesokan harinya, Reygan melihat dua sosok menuruni anak tangga dengan riang. Keduanya tertawa lepas entah menertawakan apa.


"Wah wah wah... ada apa ini. Kayaknya senang sekali?" tanya Rudi yang duduk bersantai menikmati minggu pagi. Reygan ada di sana, sudah berpakaian rapi, memakai jeans hitam dan kemeja hitamnya.


Naina masih tidak sudi melihatnya, "Kakek, Steve sama Mama mau jalan-jalan hari ini. Bolehkan?" ucap Steve.


"Tentu saja boleh. Kenapa tidak?"


"Makasih Kek." Steve melihat Reygan, "Papa mau ikut?" ucapnya membuat Naina mendelik.


Naina menatap Reygan tajam, jangan sampai Reygan mau. Reygan pun sama, menatap Naina. Dia bisa melihat kekesalan Naina.


Tapi entah mendapat bisikan dari mana, "Kalian mau jalan-jalan kemana?"


"Kita mau kunjungin banyak tempat hari ini Pah. Gimana, Papa mau ikut tidak?" jawab Steve.


Sampai akhirnya mengangguk samar, "Pergilah duluan ke mobil Papa." ucapnya dan itu benar-benar membuat Naina menjadi murung.


"Ayo Mah." Steve menyadarkan Naina.


Setelah kepergian kedua ibu anak itu, Rudi tersenyum mengejek.


"Bukannya kamu ada janji dengan wanita murahan itu?" ucapnya.


Reygan terkejut, dari mana Rudi tahu.


"Apakah kamu ingin mengejar istrimu?" tanya Rudi lagi.


Dan Reygan masih diam, "Jika itu benar, singkirkan Alena lebih dulu dari kehidupanmu. Lalu mulai pengejaranmu."


Rudi melihat Naina dan Steve di halaman melalui sekat kaca. "Karena wanita yang kamu kejar saat ini sangat sulit ditangkap. Taklukkan dia dengan menyayangi dan mencintainya dengan segenap hati. Maka wanita itu akan mencurahkan cinta yang lebih besar untukmu." nasihat Rudi dan itu berhasil membuat Reygan tercerahkan.


TBC