
Naina bingung apa yang harus dia lakukan saat ini. Penderitaan datang bertubi-tubi dalam sekejap mata. Kepulangan Emma dan Sesil sudah menjadi malapetaka baginya. Dan ditambah lagi kehadiran wanita masa lalu suaminya, semakin menyiksa batinnya.
Hari itu, Naina terlihat murung. Tidak seperti biasanya, ceria dan bersemangat. Membuat para karyawannya keheranan melihat bosnya tersebut.
"Bu." salah satu karyawannya menghampiri.
Naina tersenyum hambar, "Iya Arin? Ada apa?"
"Ibu lagi ada masalah ya? Dari tadi saya lihat ibu murung?" tanya gadis yang setahun lebih muda darinya.
"Enggak kok. Saya baik-baik aja." jawabnya singkat. Dan Arin tahu, Naina berbohong.
"Oh ya, Bu. Ada pelanggan mau ketemu langsung Ibu."
"Siapa?"
"Saya nggak kenal Bu. Kayaknya pelanggan baru."
Naina mengangguk, sambil berdiri dan mengikuti Arin.
"Kak Chris?" Naina terkejut karena ternyata orang itu adalah Chris.
Arin tidak ingin mengganggu bosnya, lalu memilih menyingkir dari sana.
Chris tersenyum, menyambut Naina dan memeluknya sebentar.
"Gimana kabar kamu?" tanya pria itu.
Naina tersenyum, tapi tidak secerah terakhir kali mereka bertemu.
"Baik Kak. Kakak bagaimana?"
"Aku baik."
Naina memberikan isyarat pada karyawan yang tidak jauh dari mereka untuk menyediakan minum untuk mereka.
"Tokonya masih baru?" Chris memulai pembicaraan. Dan Naina mengangguk.
"Suamimu ternyata cukup pengertian. Dia tahu apa yang kamu inginkan." ucapnya.
Naina mengangguk lagi, tidak tahu memberikan tanggapan seperti apa.
Tiba-tiba Chris memegang tangannya, menggenggamnya seolah memberikan ketenangan.
"Kamu tidak ingin cerita pada Kakak?" ucap pria itu. Chris tahu Naina tengah menyembunyikan perasaannya.
Naina membalas tatapan itu, tapi tidak lama. Sebab jika masih bertahan Naina tidak yakin bisa menahan kesedihannya.
"Kak..."
"Apakah kamu sudah tidak menganggapku lagi?" ucap Chris.
"Apakah kita sudah sejauh itu, sehingga kamu tidak mau lagi bercerita pada Kakak?"
Naina mengerutkan keningnya. Menggeleng. "Kak..." suaranya bergetar menahan tangis.
"Katakan Naina. Ceritakan semuanya pada Kakak." bujuk Reygan.
Dan tangis Naina pecah saat itu juga. Chris tidak tahan melihatnya. Pria itu segera mendekat, memeluk Naina dengan penuh kasih sayang.
"Menangislah, jangan menahan semuanya sendirian."
Dan pada pagi menjelang siang itu, Naina menumpahkan segala bebannya dengan Chris.
Chris mengetatkan rahangnya, sangat marah. Bahkan sebelum Naina bercerita, dia sudah tahu semuanya. Kepulangan Emma dan Sesil, maupun kehadiran Natasya di antara Naina dan Reygan.
"Makan yang banyak. Kakak cemas melihat badan kamu yang makin kurus." kata Chris saat mereka sudah berada di restoran. Memesan banyak makanan di atas meja.
"Naina nggak kurus!" bantahnya.
"Iya, iya. Kamu nggak kurus, tapi kecil."
"Sama aja." Naina mendengus, lalu melahap makan siangnya.
Akhir-akhir ini, memang selera makannya turun sejak kedatangan Emma dan Sesil. Makannya tidak teratur seperti dulu.
Naina baru menghabiskan setengah dari makan siangnya. Berhenti tiba-tiba saat maniknya melihat dengan jelas, pemandangan yang sangat menyesakkan.
Selera makannya hilang seketika. Maniknya berkaca-kaca.
"Nai, kenapa diam?" Chris ikut teralihkan. Mengikuti pandangan Naina.
Tidak jauh dari mereka, di sebuah meja pelanggan. Reygan dan Natasya tengah menikmati makan siang mereka. Juga ada Steve di antara mereka. Mereka bagaikan keluarga yang sempurna jika dilihat dari kejauhan.
"Naina." Chris tidak dapat menahan emosinya. Beraninya Reygan mempermainkan adik kesayangannya. Tentu dia tidak akan tinggal diam begitu saja.
"Kak... jangan. Mereka tidak sengaja. Mungkin Steve yang membuat mereka berakhir di tempat ini." Naina menahan Chris agar tidak membuat kekacauan di tempat itu.
Chris mengerutkan keningnya. Geram. Ingin menghabisi Reygan saat ini juga.
"Naina!"
Naina menggeleng, membuat Chris tidak bisa melakukan apa-apa.
"Baiklah. Tapi sekarang, Kakak minta kamu hubungi Reygan. Buktikan kalau dia memang tidak bermain-main di belakangmu." tegasnya.
Naina menurut, mengambil ponselnya, lalu mendial nomor Reygan.
Panggilan tersambung dengan cepat, "Halo." sapanya.
"Halo. Naina ada apa?" suara Reygan pelan.
Naina menatap suaminya dari jauh, "Hubby. Kamu ada waktu tidak? Aku akan mentraktirmu makan siang."
Naina memejamkan matanya. Menunggu jawaban Reygan di sana.
"Ehm... Maafkan aku sayang. Aku sedang rapat siang ini. Tidak punya waktu keluar dari kantor."
Air mata Naina lolos begitu saja.
"Begitu ya. Ya sudah, tidak papa. Mungkin lain kali saja."
Naina langsung menutup panggilan tanpa mendengar suara Reygan lagi.
Menatap Chris dengan nanar, sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan restoran.
Lagi, Naina menangis di pelukan Chris. Menumpahkan sakit hatinya oleh perbuatan suaminya.
"Sst... jangan menangis lagi sayang. Kakak tidak suka melihat kamu seperti ini." Chris menenangkan.
Cukup lama wanita itu menangis, hingga akhirnya bisa tenang.
"Kakak nggak sanggup lagi Naina. Pokoknya, secepatnya kamu harus menceraikan Reygan. Jangan ada penolakan! Kakak tidak akan membiarkanmu menderita bersama laki-laki brengs*k itu!" kecam Chris.
Naina menggeleng, "Kak...."
"Sekali lagi. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Jika Naina udah nggak kuat lagi, Naina pastikan akan pergi dari rumah itu. Naina akan ikut kemana pun Kakak bawa pergi." pinta Naina.
TBC