
Naina pergi begitu saja, sementara Steve yang bersembunyi melihat bagaimana Naina disudutkan oleh keluarganya segera sadar. Bocah itu keluar, berniat mengejar Mamanya.
"Mama... Mama mau kemana?" teriak bocah itu membuat langkah Naina berhenti.
Naina menahan diri, agar tidak berbalik. Bagaimana pun dia sangat menyayangi Steve seperti putranya sendiri. Dan dia tidak akan tahu bagaimana dirinya tanpa kehadiran Steve nanti.
Tapi seketika Naina sadar. Kini sudah ada Natasya. Steve sudah memiliki seseorang yang akan menyayanginya dengan tulus dan itu adalah ibu kandungnya sendiri. Jadi sudah tidak ada gunanya lagi dia bertahan.
Naina akhirnya melangkahkan kakinya dengan mantap. Meninggalkan manusia-manusia tak berperasaan itu.
"Mama..." Steve menangis karena Naina malah meninggalkannya. "Mama jangan pergi..." teriak anak itu. Mengejar Naina, tapi Natasya segera menghadang.
"Sayang..." Natasya memeluknya.
"Mami, Mama Naina pergi. Steve mau ikut Mama..." tangisnya.
Jelas Natasya cemburu karena putra kandungnya lebih memilih Naina. Dia sangat iri hingga sanggup berkata, "Mungkin Mama Naina lagi butuh kesenangan sayang. Kalau nanti Mama Naina sayang sama Steve, Mama pasti kembali." ucap Steve.
"Dan, kalau Mamamu itu tidak sayang sama kamu, berarti dia tidak akan kembali lagi." timpal Sesil melanjutkan ucapan Natasya.
Reygan sadar dari pikirannya. Naina sudah pergi.
"Tidak!" gumamnya. Lalu dengan cepat melangkahkan kakinya mengejar Naina.
"Naina. Maafkan aku." lirih pria itu berlari cepat mengejar sang istri.
Beruntung Naina masih belum terlalu jauh. Wanita itu hampir mencapai gerbang rumah besarnya setelah akhirnya Reygan meraihnya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang. Aku percaya padamu. Aku percaya." Reygan memeluknya erat. Meminta maaf sebanyak mungkin.
"Lepas!" teriak Naina.
Hati wanita itu sudah mengeras. Keras karena terus-terusan dilukai. Bagaimana pun Reygan meminta maaf, dia tidak akan pernah memaafkannya. Sampai kapan pun.
"Aku membencimu!" teriaknya. Sekuat tenaga mendorong Reygan. Dan itu berhasil.
Reygan termangu. Dia tidak suka kata-kata itu.
"Sayang... maafkan aku... Aku percaya padamu. Aku mempercayaimu sayang..." lirih pria itu.
Naina tersenyum sinis, "Terlambat. Aku sudah memberimu banyak kesempatan. Tapi tak sedikit pun kamu menghargai keputusan yang kuberikan!" desisnya.
"Nai..." suara Reygan lemah. "Jangan seperti ini. Bagaimana denganmu jika kamu pergi, dan sendirian di luar sana. Kumohon jangan pergi sayang."
"Hah..." tertawa hambar. "Sendirian? Harusnya kamu ingat statusku sebelum berkata seperti itu. Aku ini seorang yatim piatu. Dan aku tidak takut jika harus menjadi sebatang kara di masa depan. Aku sudah terbiasa dengan itu!" sahutnya dengan amarah yang berapi-api.
Reygan hendak menimpali perkataan Naina yang sudah memojokkan dirinya. Tetapi tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam mengkilat datang.
Pintu mobil terbuka. Chris muncul dengan raut wajah tidak menyenangkan.
Pria yang sangat menyayangi Naina tersebut menghampiri Reygan. Tanpa basa-basi, melayangkan tinjunya pada wajah Reygan dengan kekuatan penuh.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri!" desis pria itu.
Reygan terhuyung dalam satu kali tinju. Chris masih mengetatkan rahangnya, lalu segera menarik Naina ke dalam pelukannya.
"Maafkan Kakak. Kakak tidak bisa melindungimu dari laki-laki bajingan ini." ucapnya lembut.
Naina langsung meluruhkan tangisnya dalam dekapan Kakaknya. Dia sangat butuh sandaran saat ini. Dan Chris adalah orang yang tepat.
Dan Reygan harus tersiksa dengan pemandangan itu. Dia cemburu, tapi tidak mampu berbuat apa-apa.
Bahkan saat Chris membawa istrinya pergi pun, Reygan tidak mampu menghalangi.
Dan kini, semuanya telah berakhir. Dia telah kehilangan istrinya yang berhati murni dan tulus.
Dan sangat tidak mungkin, dia mendapatkannya kembali. Jika author eh, maksudnya Tuhan berkehendak, mereka akan dipertemukan kembali suatu saat nanti.
TBC