My Bule Husband

My Bule Husband
Papa..


Waktu seperti terulang kembali. Reygan kini harus memulai petualangannya untuk memenangkan hati Naina. Jika dulu, Reygan pernah menyia-nyiakan Naina, kali ini Reygan akan memastikan tidak akan melakukan hal yang sama. Naina akan hidup bahagia bersamanya.


Naina sama sekali tidak memiliki pilihan selain menuruti perintah Reygan. Wanita itu dengan berat hati masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya masuk. Disusul oleh Reygan yang duduk di sampingnya.


Wanita itu sedari tadi menunjukkan wajah muram, seolah berada di dekat Reygan adalah hal yang paling memuakkan. Naina mengambil jarak yang sangat jauh dari Reygan.


Sedangkan Reygan hanya tersenyum. Tetapi pada akhirnya dia tahu kelemahan istrinya tersebut.


"Kita mau kemana?!" suara Naina terdengar setelah beberapa menit perjalanan. Pasalnya jalanan ini berbeda arah dari rumahnya.


"Kita akan pulang ke rumah kita." jawab Reygan santai.


"Rumah mana yang kamu maksud?! Aku tidak punya rumah denganmu!" cela Naina.


"Aku baru membelinya sayang. Giselle sudah menunggu kita di sana." kata pria itu membuat Naina meradang.


"Aku tidak mau tinggal satu rumah denganmu!"


"Kenapa? Kita ini masih suami istri. Kamu harus tinggal bersamaku."


Naina berdecih, "Suami istri katamu?! Apa kamu tidak salah Reygan? Sejak delapan tahun lalu kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Kamu bukan suamiku lagi, dan aku bukan istrimu!" dia tersenyum sinis.


"Kamu masih istriku." Reygan tetap tenang menanggapi segala teriakan wanita itu.


"Tidak! Aku bukan lagi istrimu karena aku sudah menandatangi surat dari pengadilan!" cercanya.


"Tapi aku tidak menadatangani surat itu. Dan pengadilan menganggap surat itu tidak sah karena kamu menghilang begitu saja. Jadi kamu tidak bisa mengelak bahwa kita masih sah sebagai suami istri." jelas pria itu.


Naina menggigit bibirnya dengan geram. Hatinya bergemuruh seolah ingin mencabik-cabik pria itu.


Setelah mendengar ucapan Reygan, Naina memilih diam dan meredam amarahnya. Dan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pekarangan rumah yang besar dan megah. Keduanya turun.


"Ayo." ajak Reygan.


Tapi Naina enggan menuruti kata-katanya. "Putri kita ada di dalam."


Setelah Reygan berkata seperti itu, Naina langsung melangkahkan kakinya lebih dulu memasuki rumah.


Naina sampai di dalam rumah. Tepat saat itu juga, maniknya menangkap dua sosok yang sangat dia cintai dalam hidupnya. Putri kecilnya dan putranya yang sudah menginjak usia remaja. Giselle dan Steve.


Kedua anak itu tengah asik bermain di lantai marmer. Steve menemani adiknya bermain puzzle.


"Steve, Giselle." panggil Naina membuat kedua anaknya teralihkan.


Gadis mungil dengan rambut kuncir dua, terlihat girang, berdiri lalu berlari menghampiri Naina.


Naina menangkap putrinya, mencium wajah imutnya dengan perasaan lega. "Sayang, kamu nggak papa kan?" Naina masih cemas.


Gadis kecil itu mengangguk, "Giselle baik-baik aja Ma."


"Mama abis nangis?" Steve bertanya. Anak remaja yang sangat tampan seperti ayahnya itu, bisa melihat amarah dan kesedihan di wajah Naina.


Naina diam. Dia tidak bisa berbohong pada Steve.


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ketiganya menoleh, melihat orang tersebut.


Reygan datang. Melontarkan senyum hangat penuh haru. Pandangannya tertuju pada sosok gadis kecil yang merupakan darah dagingnya. Giselle.


Luapan emosi mengepul di dadanya, membuat hatinya terasa sesak. Ternyata dia memiliki putri secantik peri. Dan itu didapat dari campuran gennya dan ibunya.


Jantung Reygan berdetak dengan sangat kencang. Dia ingin berlari ke sana, lalu mendekap erat putrinya itu dengan erat. Mengatakan pada anak itu, bahwa dirinya adalah ayahnya. Ayah kandungnya.


"Papa...."


Tidak ada yang menyangka, bahwa kata-kata itu keluar dari mulut gadis kecil itu. Giselle melepas tangan Naina yang masih memeluknya. Lalu mendekat pada Reygan.


Gadis imut itu mendongak, menatap lekat sosok yang ternyata adalah ayah kandungnya.


"Papa, ini Papa Giselle kan?" suaranya lembut. Maniknya sangat jernih, berwarna hijau seperti milik ayahnya.


TBC