
Sebuah awal yang baru, padangan yang telah lama terpisah oleh jarak dan waktu itu memulai kehidupan rumah tangga mereka penuh dengan warna. Dengan hadirnya putra putri mereka, kehidupan mereka semakin lengkap dan sempurna.
Meskipun badai sempat menerpa rumah tangga mereka, dan membuat mereka terpisah cukup lama. Tetapi Naina dan Reygan tidak menyesali hal tersebut. Mereka akan menjadikan semua yang terjadi di masa lalu sebagai pelajaran hidup yang berarti bagi mereka.
***
Malam itu, Reygan tengah asyik menemani putrinya bermain rumah-rumahan di ruang keluarga. Naina sedang menonton TV, sementara Steve berada di kamarnya untuk menghindari bermain rumah-rumahan dengan Giselle.
Sejak tadi Naina tidak fokus dengan tontonannya, wanita itu malah asik melihat Reygan yang tidak bisa berbuat apa-apa akan permainan putrinya.
Naina terkikik geli membuat Reygan mendelikkan matanya dengan jengkel. Sebuah pemandangan yang baru bagi Naina. Dimana Reygan yang dia kenal adalah sosok laki-laki dingin dan sombong, kini hanya bisa tunduk pada putri kecilnya. Naina belum pernah melihat sisi lain pria itu sebelumnya.
"Wah wah wah... apakah di rumah ini ada pelayan baru?" tiba-tiba saja terdengar suara dari seseorang yang muncul dari pintu.
"Kakek...." teriak Giselle. Gadis itu berlari menuju Rudi yang berdiri, melihat pemandangan rumah dengan takjub.
Rudi menangkap Giselle meski tubuhnya hampir oleng karena kehilangan keseimbangannya. Rudi memang sudah tua dan renta, tetapi untuk menggendong anak sekecil Giselle, pria itu masih sanggup.
"Cucu kesayangan Kakek. Bagaimana kabarmu?" Rudi berjalan menuju sofa.
"Baik Kakek." jawab Giselle.
Rudi melihat Reygan dengan senyum usil, "Siapa ini? Apakah dia pelayan baru?" ucapnya sengaja, sambil memindai Reygan dari atas hingga bawah. Reygan memakai daster berwarna merah muda, yang menutupi tubuh kekarnya, serta rambut palsu yang menjuntai indah di punggungnya.
Giselle terkikik, "Itu bukan bibi pelayan Kakek. Itu Papa." kata anak itu sambil menutup mulutnya, menahan tawa.
"Oh. Benarkah?" kata Rudi.
Reygan memutar bola matanya jengah, lalu membuka wig yang telah menjatuhkan harga dirinya di depan ayahnya.
Rudi menahan tawa, "Jadi itu kamu Rey? Maaf, Papa tidak bisa mengenalimu, karena penampilanmu. Papa kira kamu Elisa." ucap Rudi dengan senyum jahilnya.
Naina benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya. Wanita itu tertawa terbahak-bahak, yang malah menular ke anak dan mertuanya.
Reygan berdecih, dengan wajah kesal membuka daster yang entah dari mana Giselle dapat.
"Papa ngapain ke sini?!" Reygan bertanya membuat tawa mereka terhenti.
Rudi menurunkan Giselle, lalu duduk di sofa dekat Naina. "Apakah Papa harus punya alasan datang kemari? Ini rumah Papa, jadi terserah Papa mau datang kapan saja."
Reygan mencibir, tapi tak urung duduk di samping istrinya, sengaja mencubit lengan Naina, karena Naina masih tertawa kecik meledeknya.
"Jadi kalian memutuskan untuk kembali?" tanya Rudi menetralkan suasana.
Naina tersenyum malu. Sedangkan Reygan sambil memangku Giselle, merangkul istrinya dengan hangat.
Reygan mengangguk pasti, "Iya Pah."
"Baguslah. Papa ikut senang untuk kebahagiaan kalian. Dan Papa harap, semua yang terjadi menjadi pelajaran yang berharga untuk kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia sampai tua nanti." tutur Rudi.
Naina mengangguk, begitu pun Reygan. Mereka akan menjadikan perpisahan itu menjadi pelajaran yang berharga dalam hidup mereka.
"Iya Kek." Giselle menurut. Sebelum pergi mencium pipi ketiga orang tua itu bergantian.
"Selamat malam, Kakek. Selamat malam Mama Papa." ucapnya sebelum pergi ke kamarnya.
Setelah Giselle pergi, Rudi memulai pembicaraan.
"Rey, Papa harap kamu menyudahi hukuman Sesil." ucap Rudi membuat Reygan menaikkan sebelah alisnya.
Naina kebingungan hanya bisa melihat Rudi dan suaminya bergantian, berharap diberikan penjelasan.
Selama ini Naina tidak tahu betapa kejamnya Reygan pada Emma dan Sesil. Selain tidak mendapat uang sepeserpun pada mereka, Reygan juga membuat Sesil kesulitan dalam hidupnya.
Setelah Sesil lulus kuliah dengan susah payah, Reygan membuat adik kandungnya tersebut kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Reygan memasukkan nama Sesil dalam daftar hitam dan disebarkan ke berbagai perusahaan yang dilamar oleh adiknya tersebut.
Dan beberapa tahun terakhir, Reygan membuat penawaran terakhir pada adiknya tersebut. Alhasil, Sesil bekerja sebagai cleaning service di perusahaannya sendiri.
Sesil tidak punya pilihan lain. Reygan tidak lagi mau memberikan uang padanya. Dan Reygan juga tidak membiarkan Rudi membantu dirinya. Sementara dia perlu uang untuk bertahan hidup. Hingga akhirnya, mau tidak mau gadis itu hanya bisa melakukan pekerjaan yang akan merendahkan harga dirinya.
Reygan mengalihkan pandangannya, meski sekarang dia dan Naina sudah kembali bersama, tetap saja dia masih kesal terhadap adiknya tersebut.
Karena Sesil dan Emma, dia dan Naina berpisah cukup lama. Reygan rasa hukuman itu masih belum cukup untuk mereka.
"Kamu harus tahu sesuatu tentang adikmu Reygan." ucap Rudi karena melihat Reygan masih belum memaafkan Sesil.
Reygan masih belum tergugah.
"Sesil sudah memiliki anak." tukas Rudi dan benar saja, Reygan langsung menoleh, begitu pun Naina.
"Apa maksud Papa!" suara pria itu terdengar tidak bersahabat.
Bagaimana tidak. Yang mereka tahu, Sesil belum menikah, bagaimana mungkin dia bisa memiliki anak? Keluarga mereka memang berasal dari negara Eropa yang memiliki budaya yang cukup bebas dalam pergaulan. Tetapi keluarga Dos Santos sama sekali tidak menerapkan budaya itu terhadap anak-anaknya.
Reygan pikir, Sesil telah melanggar aturan keluarga dengan sengaja. Membuatnya sangat marah.
"Jangan berpikir buruk pada Sesil!" sanggah Rudi karena melihat Reygan sangat marah.
"Sesil seperti ini karena kamu. Kamu terlalu keras padanya, hingga membuatnya hancur seperti sekarang!"
Awalnya Rudi datang ke rumah ini dengan tenang, tetapi mengingat nasib putrinya yang entah berantah, membuat emosinya terkuras.
"Sesil diperkosa saat dia susah payah mencari uang untuk hidupnya. Dan dia tidak memiliki siapa pun sebagai tempatnya mengadu! Dan kamu malah tidak mempedulikannya!"
Reygan diam, melongo setelah mendengar ucapan Rudi. Bagai sebuah tamparan keras bagi seorang Kakak sepertinya.
Memang benar Reygan membenci Sesil, tapi bagaimana pun rasa sayang itu masih ada. Mendengar kabar memilukan gadis itu, tentu membuat hatinya ikut hancur.
TBC