
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, pesta pernikahan Chris dan Sesil akhirnya terlaksana sesuai dengan prediksi. Dimana semua persiapan yang dilakukan secara mendadak, namun dapat terselesaikan dengan cepat.
Chris tidak main-main dengan pernikahannya kali ini. Meski wanita yang akan dia nikahi, bukanlah wanita yang dia cintai, namun pria itu menggelar pesta besar-besaran yang diadakan di salah satu hotel bergengsi miliknya.
Chris tidak tahu mengapa, mengingat kisah pertemuan mereka yang dipenuhi hal buruk, tentu Sesil bukanlah sosok yang istimewa dalam hidupnya.
Namun dalam lubuk hati pria itu, dia harus melakukan yang terbaik untuk pernikahannya tersebut. Rasanya seperti ada yang kurang, jika pesta pernikahannya ini dilewatkan begitu saja tanpa adanya kesan yang akan mereka kenang di masa depan.
Dan inilah saatnya, wanita yang akan dipersunting menjadi istrinya, Sesil. Wanita cantik itu tampak menawan dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, yang dirancang oleh desainer profesional berasal dari negara mode sana.
Sangat amat mempesona, membuat Chris tiada henti memandanginya dengan manik berbinar-binar.
"Kamu cantik sekali hari ini." puji Chris dengan senyum hangatnya.
Sesil tersenyum malu, ada rona merah di wajahnya membuatnya semakin menggemaskan di mata Chris. Tentu saja wanita itu begitu gugup menjelang saat-saat bahagia yang akan menyambutnya.
Bukan hanya Chris, Sesil pun tidak kalah tersipu begitu melihat tampilan Chris saat ini. Pria itu berdiri dengan gagah, sudah rapi dengan setelan tuxedo yang melekat pas di tubuh kekarnya.
"Kamu tidak ingin memujiku?" tanya pria itu dengan senyum jenaka. Jujur saja, Chris sangat menyukai wajah malu-malu calon istrinya tersebut.
Sebenarnya Sesil sangat ingin melakukan apa pria itu katakan, tetapi wanita itu masih begitu kaku saat berhadapan dengan Chris. Meski mereka sudah tinggal bersama selama dua minggu ini, belum ada kemajuan yang berarti dari Sesil selain rasa takutnya yang mulai berkurang terhadap Chris.
Chris terkekeh sambil mencubit dagu Sesil, "Lihat, wajahmu merah sekali, aku tau kamu sangat terpesona dengan ketampananku ini kan?" kata Chris membuat Sesil semakin malu.
Wajah Sesil cemberut, merasa kesal karena Chris terus saja menggodanya.
"Baiklah, aku akan berhenti." kata Chris.
Tiba-tiba saja, terdengar suara Stella menangis dari arah box bayi. Keduanya kompak menoleh dan mendekat ke bayi mereka.
"Anak Daddy terbangun ya." Chris dengan sigap mengambil Stella ke dalam gendongannya kemudian menimang-nimang bayi tersebut.
"Cup... cup cup... jangan nangis sayangnya Papa. Lihat tuh, Mommy kita udah cantik banget." kata Chris sambil menunjukkan Sesil pada putrinya.
Namun Stella masih saja menangis, membuat Sesil turun tangan.
"Sini, sepertinya Stella haus. Aku akan menyusuinya sebentar." ucapnya.
"Jangan memberinya susu formula. Umurnya masih belum genap enam bulan." tolak Sesil.
Chris tidak tahu harus bagaimana. "Tidak papa. Aku akan berhati-hati." wanita itu mengambil Stella dari gendongan Chris. Kemudian wanita itu duduk di tepi tempat tidur sambil membelakangi Chris.
Untung saja model gaun Sesil adalah gaun tanpa lengan yang memamerkan setengah dada hingga bahunya, sehingga memudahkannya untuk menyusui Stella tanpa merusak penampilannya.
Chris memperhatikan Sesil dari belakang sana. Pria itu salut dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi calon pendamping hidupnya itu. Meski Sesil mengalami tekanan batin yang berat dalam hidupnya, Sesil tetap memperhatikan Stella. Tidak sedetik pun Sesil melewatkan setiap tumbuh kembang putrinya meski kadang kala depresi berat menyerangnya.
Beberapa menit kemudian, Sesil selesai menyusui Stella. Wanita itu membenahi gaunnya.
"Sudah selesai?"
"Hmm.. Stella tertidur." kata Sesil sambil tersenyum hangat. Wanita itu mencium kedua pipi bayi mungil itu, yang diikuti oleh Chris.
"Sayangnya Daddy, jangan nakal sama bibi ya. Mommy dan Daddy mau nikah dulu." ucap Chris yang mana mengundang tawa kecil Sesil.
Chris termangu sekaligus terkejut. Untuk pertama kalinya pria itu baru saja mendengar tawa wanita itu. Entah mengapa jantungnya berdetak kencang, rasanya Chris ingin melihat wanita itu tertawa setiap saat.
Chris meletakkan Stella ke dalam baby boxnya, lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut karena menggendong bayinya.
Pria itu menekuk tangan kanannya, agar Sesil dapat menggandeng tangannya.
Sesil, dengan perasaan yang berdebar, meletakkan tangannya di lengan calon suaminya tersebut.
"Are you ready, my future wife?" ucap pria itu dengan tatapan hangatnya.
Kali ini, Sesil tergugah hatinya untuk menjawab, "Yes, I'm ready.... my future husband." ucapnya.
Dan tidak usah ditanya seperti apa sekarang perasaan Chris. Mendengar suara lembut Sesil memanggilnya seperti itu telah sanggup membuat jantungnya berdebar tak terhentikan.
TBC
KISAH MEREKA BERDUA BAKAL OTHOR LANJUTKAN DI LAPAK BARU YA. SEMUANYA BAKAL OTHOR USUT DI SANA. UNTUK SAAT INI, OTHOR MAU SELESAIIN CERITA BANG BULE SAMA NAINA DULU YA. SABAR YA SAYANG...🤗