
Entah apa yang Natasya lakukan sehingga Steve bisa-bisanya tidak membenci dirinya, yang tega meninggalkannya saat masih bayi. Steve terlihat sangat menyukainya dan tidak ingin berjauhan dari Natasya.
Malam itu, ketika Reygan mengusirnya, Steve justru menahan kepergiannya. Menangis dan merengek agar dia tidak pergi.
Setelah Reygan, Naina, dan Rudi pergi dari ruang makan, Emma menghunuskan pandangan sengit pada Natasya.
"Apa maksudmu Natasya? Kami membawamu ke sini bukan untuk menjadi sahabat wanita miskin itu!" gerutu Emma.
Natasya diam, rupanya Emma mendengar percakapannya dengan Naina saat di kamar Steve. Saat itu Natasya begitu baik pada Naina, membuat Emma geram sendiri.
Dia membawa Natasya kembali ke rumah ini, untuk menyingkirkan Naina. Susah payah dia membuat Natasya bercerai dengan mantan suaminya, tapi Natasya malah lari dari tujuan utama mereka.
"Oma, sebenarnya apa yang kalian cemaskan tentang Naina? Aku melihat, Naina adalah wanita baik-baik. Dan kalian tentu tahu, kalau dia adalah gadis yang cerdas. Tidak hanya itu, Naina juga bisa mengurus Rey dan Steve dengan sangat baik. Apa lagi yang kurang Oma?"
"Dia hanya anak yatim piatu. Latar belakangnya sama sekali tidak bisa menjangkau derajat keluarga ini!" desis Emma yang sangat mengagungkan derajat manusia.
Natasya menggeleng tidak percaya. Baginya, Naina adalah wanita yang sempurna dan pantas menjadi istri Reygan. Tapi pola pikir keluarga ini terlalu buruk, sehingga buta akan kebaikan Naina.
"Maaf Oma. Aku tidak bisa melakukan apa yang kalian inginkan." ucapnya.
Wajah Emma menjadi suram, "Natasya, beginikah balasanmu setelah aku menyelamatkanmu dari kekejaman mantan suamimu? Kita sudah sepakat sebelumnya." desis wanita tua itu.
"Maafkan aku Oma. Dari awal, aku setuju, karena mengira istri Reygan seburuk yang kalian ceritakan, tapi aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Naina adalah istri yang sempurna. Dan aku tidak bisa menghancurkan pernikahan mereka. Cukup sekali aku menghancurkan Reygan, dan aku tidak ingin hal yang sama terjadi dua kali." tutur Natasya.
"Natasya!" bentak Emma.
Natasya menggeleng, "Maaf Oma, aku tidak bisa."
Natasya hampir melenggang pergi, tapi suara Emma membuatnya gemetaran.
"Jika kamu tidak mau, maka selamanya kamu tidak akan bisa bertemu putramu." kecam wanita itu.
Wajah Natasya seketika menjadi pias. Ancaman itu berhasil membuatnya ketakutan.
"Oma..."
"Oma jangan lakukan itu!" Natasya memohon.
"Aku tidak akan melakukannya, jika kamu menuruti keinginanku."
***
Natasya menaiki anak tangga rumah yang dulu pernah menjadi miliknya. Dulu dia adalah Nyonya di rumah ini. Tapi sekarang, dia hanyalah tamu yang tidak diinginkan.
Natasya tidak masuk ke kamar putranya, melainkan menuju kamar mantan suaminya. Karena ancaman Emma, dia terpaksa melakukan hal ini.
Dia mengetuk pintu, dan tidak lama pintu terbuka. Reygan muncul, dengan wajah yang tidak menyenangkan.
Jujur saja, tidak ada debaran dalam hatinya seperti debaran delapan tahun yang lalu. Yang tersisa hanyalah perasaan bersalah yang mendalam, karena telah membuat pria di hadapannya ini menderita.
Natasya sempat melihat Naina yang tidur di ranjang sana. Dia tidak tega membuat gadis itu terluka.
"Reygan, aku ingin bicara." ucapnya dengan suara pelan.
"Apakah kamu tidak punya jam? Lihat, sudah jam berapa ini. Sangat tidak sopan!" balas Reygan dengan ketus.
Pintu hampir ditutup olehnya, tapi Natasya menahan, "Kumohon Rey, setelah ini aku akan pergi dari sini dan tidak akan mengganggu kalian." pinta wanita itu dengan wajah memohon.
Sebenarnya Reygan masih ingin penjelasan dari mulut Natasya sendiri, meski sudah tahu kenapa Natasya tega meninggalkannya di masa lalu. Hatinya seolah menyimpan beban.
Reygan melihat Naina yang masih tidur nyenyak. Berpikir sejenak, lalu memutuskan keluar dan mengikuti langkah Natasya.
Begitu pintu tertutup, sepasang mata jernih terbuka begitu saja. Naina bangun. Melihat pintu kamar dengan nanar.
TBC