My Bule Husband

My Bule Husband
Kerinduan seorang Anak


Beberapa hari berlalu, Reygan masih belum juga menampakkan batang hidungnya di depan anak-anak dan istrinya. Laki-laki itu menghilang tanpa memberikan kabar pada Naina atau pun anak-anaknya.


Mungkin Naina bisa menahan diri karena tidak bertemu Reygan. Tapi Giselle, putri kecilnya itu selalu mencari-cari Papanya. Setiap hari Giselle terus menanyakan keberadaan Reygan.


Hubungan darah memang tidak bisa dibohongi. Meski baru dua hari mereka bertemu, Giselle sudah sangat menempel pada Reygan. Bahkan kehadiran Naina pun masih belum cukup untuknya.


Setiap hari, Naina harus mencari alasan, agar Giselle tenang dan tidak merengek lagi. Karena dia pun tidak tahu kemana perginya Reygan.


Naina dan anak-anaknya masih tinggal di rumah Reygan, entah mengapa Naina tidak berniat untuk pindah dari sini.


Sore itu, ketika menjelang malam, Naina pulang dari tokonya. Sesampainya di rumah, dia langsung mencari Giselle di kamarnya. Ternyata di kamar putrinya juga ada Steve.


"Steve, Giselle lagi tidur ya?" tanya Steve begitu melihat Steve tengah duduk di tepi ranjang, sambil memegang tangan Giselle.


"Mama..." Steve terlihat cemas. "Ma, badan Giselle panas."


Dalam sekejap Naina juga ikut panik. Bergerak cepat menyentuh kening Giselle. Naina mendesis saat merasakan tubuh putrinya sangat panas.


Giselle demam. Wajahnya juga sangat pucat.


"Ya ampun sayang. Badan kamu panas sekali."


"Giselle bangun sayang..." Naina semakin cemas karena Giselle memejamkan matanya.


"Ma, bawa Giselle ke rumah sakit." usul Steve.


"Iya sayang. Badan Giselle sangat panas. Mama takut terjadi apa-apa sama adik kamu."


Steve bertindak cepat. Sebagai Kakak, Steve langsung membopong Giselle.


***


Naina dan Steve baru saja diperbolehkan masuk ke ruang rawat Giselle oleh dokter. Kecemasan Naina sedikit berkurang setelah dokter mengatakan bahwa putrinya baik-baik saja.


Naina mengusap wajah Giselle lembut. Suhu tubuhnya masih tinggi, tetapi tidak sepanas sebelumnya. Giselle yang setengah sadar, membuka matanya saat merasakan tangan lembut ibunya.


Giselle menggeleng, "Papa... Giselle mau Papa..." tanpa sebab Giselle malah menangis. "Papa dimana? Giselle mau ketemu Papa..."


Suara anak itu terdengar pilu, membuat Naina tertegun. Dia langsung memeluk putrinya, "Jangan nangis sayang. Papa masih kerja, masih belum bisa pulang." Naina berdalih berharap putrinya tenang.


Bukannya tenang, Giselle malah semakin histeris. Gadis itu meronta, "Giselle mau Papa. Giselle kangen..." anak itu meracau dengan tangisannya.


Naina semakin tidak tega melihat putrinya seperti ini. Putrinya sangat merindukan Reygan, tapi disaat genting seperti ini, pria itu malah menghilang.


"Iya sayang, sebentar lagi Giselle ketemu Papa. Tapi sabar ya, Papa masih di jalan."


Giselle masih belum bisa ditenangkan, membuatnya berpikir cepat. Dia membuka ponselnya, lalu mencari kontak laki-laki yang tengah di cari oleh putrinya.


Naina ragu menghubungi nomor ini. Tidak yakin nomor itu masih aktif, karena ini adalah nomor Reygan yang lama yang masih disimpannya sampai saat ini. Mungkin saja Reygan sudah mengganti nomornya.


Melihat Giselle masih menangis, Naina akhirnya mendial kontak itu. Dan Naina benar-benar tidak menyangka, nomor itu masih aktif. Terdengar nada tunggu beberapa saat, bersamaan dengan itu jantungnya juga berdebar.


Raut wajah Naina berubah karena ternyata panggilannya tidak dijawab. Tapi wanita itu tidak menyerah, sekali lagi mendial nomor itu.


Dan lagi, dia harus menelan kekecewaan. Nomor itu sudah tidak aktif lagi.


"Papa... Papa dimana? Giselle kangen..."


Suara Giselle menyadarkan Naina. Hatinya tercabik-cabik melihat putrinya seperti ini.


Naina merasa egois dan terlalu memikirkan perasaannya sendiri. Selama ini dia berpikir bahwa hanya dirinya yang paling menderita, tapi ternyata tidak.


Anak-anaknya, terutama Giselle, juga sangat menderita. Sejak lahir tidak pernah sama sekali bertemu ayah kandungnya. Sekalinya bertemu, dalam waktu singkat mereka kembali terpisah. Bahkan rindu itu masih belum reda dengan sempurna.


Dan itu karena siapa? Jelas ini karena dirinya sendiri. Sebagai seorang ibu, dia terlalu egois. Anak-anaknya sangat membutuhkan kehadiran ayahnya, tapi dia justru mengusir sosok pelindung itu.


Untuk saat ini, Naina hanya bisa memeluk putrinya. Dalam hati dia berjanji, tidak akan membiarkan putrinya seperti ini lagi.


TBC