
Reygan memicingkan matanya ketika kesadarannya kembali. Rasa sakit seketika menyerang kepalanya. Pria itu melenguh kesakitan.
"Tuan, Anda tidak papa?" tanya seorang pria.
"Doni?" ucap Reygan. Kemudian melihat sekitarnya. Ini bukan kamarnya di rumah. Melainkan apartment miliknya yang berada di pusat kota.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" pria itu sambil duduk, memegangi kepalanya yang pusing.
"Saya mengikuti Anda setelah pulang makan malam dengan Alena Tuan. Saya khawatir anda kenapa-napa di jalan." jelas Doni.
"Dan ternyata anda benar-benar pingsan di tengah jalan."
Doni adalah sekretaris Reygan yang sudah sejak lama menemaninya. Tetapi setelah Alena dijadikan Reygan menjadi asisten pribadinya beberapa bulan yang lalu, Doni menjadi lebih jarang berurusan dengan Reygan.
Kebetulan kemarin malam mereka bertiga makan malam bersama klien, dan ternyata Reygan minum terlalu banyak.
Reygan mengangguk, mencoba mengingat apa yang terjadi malam tadi. Samar-samar kilasan kejadian itu muncul dalam bayangannya.
Ketika dirinya menghadang mobil Naina, menyeretnya dan melakukan sesuatu yang tidak senonoh pada gadis itu.
Reygan termangu saat menyadari perbuatannya. Dia tidak percaya bahwa dirinya melakukan itu.
Semua itu berawal ketika Alena menunjukkan foto Naina yang mendapat ciuman dari Chris dalam sebuah postingan di sosial media.
Dan yang semakin membuat Reygan panas adalah ketika Alena terkesan dengan memuji kecocokan keduanya.
Reygan emosi hingga tanpa sadar menghabiskan satu botol wine. Reygan mabuk. Melenggang begitu saja menuju tempat Naina berada. Tidak sulit baginya menemukan Naina malam itu.
Dan emosinya kian memuncak kala melihat Naina begitu mesra dengan Chris. Akal sehatnya hilang di bawah pengaruh alkohol. Dia sangat panas melihat Naina dengan lelaki lain. Sampai akhirnya Naina mengalami trauma olehnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Reygan.
"Sepuluh Tuan. Sebaiknya Anda istirahat hari ini Tuan." usul Doni.
Reygan mengangguk, "Pergilah ke kantor. Urus beberapa pekerjaan penting hari ini." perintahnya.
"Baik Tuan."
Tapi Doni masih belum melangkah pergi. "Ada apa?" tanya Reygan sambil memegangi kepalanya.
Doni terlihat ragu, "Katakan Don!" perintahnya.
"Saya melihat Alena di tempat saya menemukan Anda tadi malam Tuan." lapornya membuat Reygan berhenti menekan pelipisnya.
"Alena? Dia mengikutiku?" ujar Reygan.
Doni menggeleng, "Mungkin ya, atau hanya kebetulan saja Alena melewati jalan itu?"
"Tapi apartment Alena sangat jauh dari daerah itu."
Doni diam, tidak tahu mau berkata apa.
"Ya sudah, pergilah. Biar aku yang menanyakannya nanti." ucapnya.
Setelah Doni pergi, Reygan kembali mengingat Naina. Gadis muda itu. Reygan penasaran bagaimana keadaan Naina sekarang. Dia ingin menemui gadis itu. Tapi mengingat apa yang telah dia lakukan malam itu, semua itu tidak akan mudah baginya.
Reygan berteriak, merutuki perbuatannya. Bagaimana nanti dia akan menghadapi Naina? Dia telah melecehkan wanita itu.
***
Naina menjalani kegiatannya hari ini seperti biasa. Dia tetap bekerja meski telah melalui kejadian mengerikan itu.
Untungnya Reygan sadar diri dengan tidak muncul di hadapannya hari ini. Dan jika sampai hal itu terjadi, Naina tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Dan satu minggu ini, Naina benar-benar tidak bertemu Reygan. Bukan karena Reygan tidak pulang, tetapi Naina memang sengaja menghindar.
Naina memindahkan beberapa pakaian dan barang-barangnya ke kamar Steve. Dia selalu menghabiskan malam dengan tidur bersama Steve, putranya.
Beberapa kali Reygan pernah berusaha menemuinya. Tapi dengan segala cara, Naina menghindar. Dia benar-benar tidak sudi bertemu apalagi bicara dengan Reygan.
Malam ini, seperti biasa dia pulang pukul delapan malam. Naina berjalan memasuki rumah sambil membawa tas kecil dan beberapa map di tangannya.
Tapi tiba-tiba, seseorang menariknya dengan cepat dan membawanya ke koridor sepi dengan minim pencahayaan.
"Jangan teriak!" suara bariton itu berbisik tepat di daun telinganya.
Naina menajamkan matanya, tubuhnya bergetar ketakutan. Takut hal yang sama terjadi untuk yang kedua kalinya.
Reygan merasakan ketakutan Naina, membuatnya semakin merasa bersalah.
"Aku... aku tidak akan menyakitimu. Jadi jangan takut." ucapnya demi menenangkan Naina. Tapi itu tidak berpengaruh sedikitpun. Naina masih ketakutan.
Reygan masih diam memperhatikan Naina yang ketakutan. Tetapi meski diliputi ketakutan, wajah gadis itu masih menatapnya sengit, seolah itu adalah pertahanannya.
"Naina..." memanggil nama sang istri lembut. Dia terlihat ragu, tapi dia juga harus menuntaskan masalah ini secepatnya.
"Aku tahu perbuatanku waktu itu telah membuatmu trauma." ucapnya sambil mencoba mengunci tatapan Naina yang enggan menatapnya.
"Aku tahu aku salah, tapi jujur, waktu itu aku sedang mabuk. Aku tidak menyadari apa yang telah kulakukan." Reygan berusaha menjelaskan.
Naina tahu itu dengan jelas, Reygan mabuk malam itu. Tapi tetap saja, dia tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Aku bukan perempuan murahan!" sentak Naina, dengan sorot mata tajamnya.
Reygan tertegun, untuk pertama kalinya dirinya menjadi lemah karena tatapan itu. Dia mengangguk, "Ya, kamu bukan wanita murahan. Maafkan aku."
"Dan aku bukan jal*ng!" sarkas Naina lagi.
Reygan mengangguk lagi. "Ya. Kamu tidak seperti itu."
"Aku sungguh menyesal dengan perbuatanku padamu. Jadi, tolong maafkan aku." pria itu telah merendahkan harga dirinya yang setinggi langit di hadapan wanita itu.
Naina mengalihkan wajahnya, tidak akan semudah itu memaafkannya. Dan Reygan sadar akan reaksi Naina.
"Baiklah. Tidak apa-apa jika kamu tidak memaafkanku." ucapnya sambil melepas lengan Naina perlahan.
Naina acuh, ingin cepat-cepat menyingkir dari pria ini.
"Tapi Naina..." pria itu kembali berucap. "Aku mohon dengan sangat, jauhi Chris." ucapnya dan itu sanggup memancing Naina.
"Maksudku, jika tidak bisa, setidaknya jangan mengumbar kemesraan kalian terang-terangan. Bagaimana jika teman-teman Papa tahu." ujar pria itu.
Naina berdecih dengan tawa sumbang. "Chris. Chris. Chris. Selalu saja Chris yang dibahas. Sebelumnya apa bapak tahu Chris itu siapa?!" ucap Naina yang sudah muak dengan tuduhan tak berdasar itu.
Reygan membalas mata indah itu, Bukankah dia kekasihmu."
Dan Naina benar-benar tidak habis pikir dengan manusia kulkas di hadapannya.
"Dengar baik-baik Pak Reygan yang terhormat, agar semua jelas sekarang." Naina menarik nafasnya sebelum berucap, "Chris adalah Kakak saya."
Dan Reygan benar-benar terkejut. Dia meminta penjelasan melalui mata tajamnya.
"Saya dan Kak Chris tumbuh besar di panti yang sama. Kita sudah seperti saudara kandung. Dan antara kita berdua tidak ada hubungan lain seperti yang anda pikirkan selama ini!" cecar Naina dan itu benar-benar membuat Reygan bungkam.
Sebelum Naina pergi, dia teringat sesuatu.
"Satu lagi. Bapak jangan sesuka hati melarang saya untuk dekat dengan Kak Chris. Itu hanya akan ada dalam mimpi Anda. Dan..." Naina terhenti, pandangannya sengit. "Bapak harus sadar diri. Saya masih istri Anda kan? Jadi tolong lebih pandai menutupi hubungan kalian. Jangan sampai teman-teman Papa tahu!" ucapnya.
Seolah masih belum cukup Naina membuka ponselnya. Memutarkan sebuah rekaman suara.
"Rey...Malam ini temani aku di apartemen ya.
Liat tuh, di luar lagi hujan, pasti nanti malam bakal ada badai sama petir. Aku takut."
Dan terdengar jelas suara Reygan mengiyakan permintaan itu.
Naina tersenyum kecut, "Alena mengirimkannya padaku. Katanya dia salah kirim." ucapnya sebelum menutup ponselnya dan berlalu begitu saja dari hadapan Reygan.
Kicep nggak tuh😂🤣
Rasain bule KW😒
TBC