
Suara kicauan burung mulai terdengar sangat merdu. Sinar fajar mulai menyoroti kaca jendela kamar. Salsa terbangun, membuka mata secara perlahan ternyata hari sudah mulai pagi. Namun semua temannya masih tertidur pulas. Begitu pun Ridwan yang tengah memeluk tubuh Edgar.
Salsa tertawa melihat kedua pria itu, melewati temannya dengan mengendap-endap seperti pencuri di dalam rumah yang takut terpegoki penghuni rumah itu.
Salsa keluar dengan perlahan membuka handle pintu lalu menutupnya kembali. Salsa melihat Davin tengah duduk dengan sebuah buku gambar di atas meja. Salsa menghampiri adiknya itu lalu duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Davin.
"Adek, kamu sedang apa?" tanya Salsa melihat Davin yang kini tengah sibuk menggambar sketsa wajah.
Namun Davin hanya terdiam dan terus menggambar wajah itu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Salsa.
"Adek?" tanya Salsa kembali.
Davin melirik ke arah Salsa dengan tatapan kosong dan wajah yang pucat tanpa menjawab pertanyaan Salsa.
Salsa heran melihat tingkah Davin yang tidak seperti biasanya. Salsa tidak kembali mempertanyakan, ia hanya melihat apa yang tengah adiknya gambar.
Sketsa wajah seorang pria dengan hidung mancung, alis tebal, bulu mata yang lentik dan bibir tipis dengan sedikit kumis. Salsa semakin heran dan bingung siapa yang sebenarnya sedang Davin lukis.
Dari sketsa itu terlihat pria yang begitu tampan dan senyum merekah menghiasi bibirnya. Salsa memegangi bahu Davin setelah Davin selesai menggambar. Ia menatap wajah adiknya itu yang terlihat pucat. Davin sama sekali tidak berbicara apapun, ia hanya memberikan kertas yang berisi gambar pria itu pada Salsa.
Salsa menatap heran kertas yang sekarang berada di tangannya lalu Davin begitu saja berlalu memasuki dapur. Salsa membawa kertas itu kembali ke kamarnya. Ia terduduk di kursi yang ada di kamarnya sebari terus memandangi sketsa wajah pria tampan itu.
Edgar terbangun dari tidurnya melihat Salsa yang tengah terduduk dengan selembar kertas. Edgar menepis tangan Ridwan yang tengah memeluknya lalu ia menghampiri Salsa dan duduk disebelahnya.
"Honey, kertas apa itu?" tanya Edgar menatap ke arah kertas yang berada di tangan Salsa.
"Ah ini ... aku dapat dari Davin tadi dia menggambar sketsa wajah ini lalu memberikannya padaku," ungkap Salsa menjelaskan.
Edgar mengambil kertas yang berada di tangan Salsa, ia melihat sketsa gambar itu namun ia sempat berfikir saat melihat gambar itu.
Kok wajah ini sepertinya gue pernah lihat? Tapi dimana ya? batin Edgar.
Salsa menatap Edgar heran ketika melihat reaksi mimik wajah Edgar yang seperti memikirkan sesuatu.
"Ed kenapa?" tanya Salsa.
"A-ah iya ... tidak apa-apa kok honey," sahutnya gugup.
Ah mungkin hanya perasaan gue saja. Gumamnya dalam hati.
Salsa kembali meraih kertas itu lalu melipatnya dan menyimpannya di saku celana yang ia kenakan.
"Honey, apa kau belum mandi?" tanya Edgar.
"Mana sempat aku mandi, baru saja aku bangun lalu tadi menghampiri Davin," ungkapnya.
"Ya, sudah cepatlah honey segera mandi, aku ada kejutan untukmu!" sahutnya.
"Wah, benarkah?" jawabnya sumeringah.
"Iyap, makanya cepatlah mandi!"
"Baiklah."
Salsa berlalu untuk mandi lalu kertas itu ia letakkan di atas meja rias karena jika di bawa takut terkena air. Sementara Edgar masih duduk di kursi dengan terus memikirkan sketsa gambar tadi.
Ridwan menguap dari tidurnya melihat Edgar yang tengah duduk membelakangi dirinya. Jahilnya pun seketika memenuhi isi otaknya. Dengan senyum menyeringai, ia secara perlahan mendekat ke arah Edgar.
"Duaaarrrr ... bom meledak," teriaknya memenuhi isi ruangan berhasil membuat semua wanita terbangun dari tidurnya.
"Apa sih curut, tidak lucu!" ketus Edgar bersikap santai tanpa terkejut sama sekali.
"Dasar si Ridwan sialan!" gerutu Sri melemparkan bantal ke arah Ridwan.
"Gue kira lo bakalan kaget ternyata jiwa terkejut lo sudah hilang semenjak tu setan ngajakin gue ngelawak mulu," gerutunya.
"Berisik lo!" pekik Edgar.
"Ed, Salsa mana?" tanya Lia sebari mengucek matanya.
"Calon bini lagi mandi," jawabnya tersenyum.
"Lah, calon bini? Kapan lo mau nikah?" ledek Ridwan bertanya seraya duduk di sebelah Edgar.
"Kepo!" ujar semua wanita secara bersamaan.
Tak berapa lama sebuah kertas itu melayang jatuh tepat di hadapan kaki Vini. Vini mengambilnya lalu membuka kertas itu hingga menampakkan gambar sketsa wajah pria tampan.
Ridwan melirik ke arah Vini yang tengah memegang secarik kertas.
"Woy, itu kertas apaan?" tanya Ridwan.
"Aku juga gak tahu tapi ini gambar sketsa wajah pria tampan sekali lohh," ungkapnya dengan sumeringah.
Hazrina, Lia dan Susi jadi ikut penasaran dan mendekat ke arah Vini untuk melihat gambar itu sementara Sri hanya dia saja tidak berminat sama sekali.
"Wah ternyata benar tampaaannn ... bangett ..." Ungkap Hazrina.
"Iya benar tapi masih tampanan my baby Ridwan," ungkap Sri.
"Yeuhhhh ...." sahut Vini, Lia dan Hazrina secara bersamaan.
Tak berapa lama Salsa sudah selesai mandi dan menggunakan pakaiannya yang baru. Salsa kembali memasuki kamarnya ternyata teman-temannya sudah terbangun. Salsa melihat kertas yang dipegang oleh Vini lalu menghampiri Vini dan mengambilnya kembali.
"Sa, itu gambar punya kamu?" tanya Lia menatap bingung.
"Tapi kok sketsa gambarnya bukan wajah Edgar ya?" tanya Hazrina curiga.
"Memang bukan Edgar kok, aku dapat ini hasil dari Davin melukis," ungkap Salsa.
"Oh begitu," jawab Lia dan Hazrina secara bersamaan.
"Tunggu ... memang Davin kenal sama orang yang ada di gambar itu?" tanya Vini.
Salsa mulai merasa ada yang aneh, benar juga apakah Davin mengenal orang yang dilukisnya ini?
"Aku juga tidak tahu, setahuku Davin jarang keluar rumah semenjak bapakku melarangnya dan aku hanya tahu dia mengenal Edgar saja."
"Lalu yang dia gambar wajah siapa?" tanya Susi.
Mereka semua saling menatap satu sama lain, merasakan mulai ada sesuatu yang aneh. Terjadi keheningan beberapa saat hingga akhirnya Salsa berbicara.
"Ya sudah kalau begitu kita tanya saja sama Davin," usul Salsa.
Mereka semua menyetujui usulan Salsa lalu berkerumun keluar dari kamar Salsa menghampiri Davin yang tengah memainkan sebuah mobil mainan.
"Ed, tuh adek pacar lo kenapa kok ngomong sendiri?" bisik Ridwan berhasil mendapat pukulan kecil di kepalanya.
"Adek sini!" panggil Salsa membuat Davin berhenti bermain dan melirik ke arahnya.
Davin berdiri dan berlari kecil menghampiri Salsa hingga kini posisinya berhadapan dengan Salsa. Davin mendongkakkan wajahnya karena tubuhnya yang pendek hanya sejajar dengan setengah paha Salsa.
Salsa berjongkok mensejajarkan tubuhnya supaya bisa saling bersitatap dengan Davin. Begitupun Edgar melakukan hal yang sama dengan Salsa. Sementara Hazrina, Lia dan Vini berada di samping kiri Ridwan sedangkan di samping kanan Ridwan ada Susi dan Sri.
"Ada apa kakak?" tanya Davin polos.
"Davin sayang, kamu tadi menggambar wajah siapa?" tanya Edgar.
Davin melirik ke arah Edgar lalu menjawab, "Gambar apa om? Davin tidak bisa menggambar ya kan kak Salsa?" Pandangannya beralih menatap Salsa.
Benar juga, Davin kan tidak bisa menggambar kenapa aku baru ingat sekarang? Batin Salsa.
"Apakah benar honey?" tanya Edgar kembali menatap ke arah Salsa.
Salsa mengangguk dan memikirkan.
"Lalu siapa tadi yang menggambar sketsa ini, bukankah tadi aku berbicara dengan Davin?" ungkap Salsa mencoba mengingat kejadian tadi pagi.
"Lalu siapa yang gambar?" tanya para wanita di belakang kini saling menatap satu sama lain.
"ASTAGA ... setan idiot, lo hobby banget nampakkin wajah buruk rupa begitu!" gerutu Ridwan melihat penampakkan di belakang tubuh Davin.
"Aaaaaaaaa ..." teriak semua wanita di sana mereka saling memeluk satu sama lain.
Edgar dan Salsa pun saling memeluk dan mendekap Davin. Ridwan malah tersenyum sebari mempererat pelukannya.
Ah setan, gue tidak apalah kalau lo mau muncul kapanpun asalkan gue dapat pelukan gratis dari para ciwi sexy begini, lumayan olahraga pagi. Terimakasih setan idiot gara-gara lo, gue jadi untung banyak. Batin Ridwan yang mendapat pelukan dari kelima wanita.
Dasar cowok serakah, mau enak sendiri gak ngajak gue! Gerutu hantu itu melotot ke arah Ridwan.