
Setelah melewati perjalanan yang panjang hingga malam hari tiba, Sri pun sudah terlelap tidur. Ridwan menggendong Sri menuju rumahnya membaringkan tubuh Sri di sebuah ranjang yang cukup luas.
Ya, otak me*umnya kembali pulih setelah matanya salah fokus melihat gunung kembar milik Sri. Lagi-lagi ia hanga menelan ludah.
Saat ingin meraba gunung kembar itu, Sri menggeliat dengan mata terpejam memiringkan tubuhnya dan kembali terlelap. Sementara Ridwan dengan memegangi dadanya yang bedebar sangat kencang terperanjat kaget. Padahal selama ini, ia bisa saja bercinta dengan semua gadis yang ia inginkan. Namun berbeda dengan Sri rasanya ia tidak tega. Sungguh perasaan ini membuatnya sial.
Ridwan terus mendengus kesal sebari berjalan keluar kamar itu menuju kamarnya. Sampai di sana ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dalam sekejap ia langsung tertidur mungkin karena sangat lelah.
***
Sinar mentari yang mulai menembus gorden jendela, menyinari sebagian tubuh Edgar. Begitu hangat membuat ia malas membuka mata. Kebetulan hari minggu jadi ia libur bekerja, berencana akan menemui kekasih hatinya. Padahal baru tadi malam bertemu, namun tetap saja yang namanya rindu tidak pernah berkata bohong.
Rindu bilang ia selalu datang saat kedua pasangan tidak saling bertemu. Tapi saat bertemu rindu tidak akan berkurang malah sebaliknya semakin menyiksa batin ingin selalu berdekatan, seolah-olah tak ingin berjauhan.
Saat Edgar beranjak berdiri dan mengambil handuk untuk mandi berendam dengan air hangat. Tapi seketika terdengar suara teriakan.
"EDGARRRR..."
Ya ampun, lilitan handuk itu merosot ke bawah memperlihatkan keperjakaan Edgar.
Untung saja tidak ada yang lihat, coba aja kalau ada yang lihat, mam*us gue bisa-bisa burung gue terbang. Gumamnya.
Ia pun berjalan keluar hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Di sana sudah berkumpul beberapa pelayan dan penjaga serta ada ibu dan ayahnya.
Saat Edgar menghampiri mereka, tiba-tiba semua mata pelayan wanita melihatnya dengan mata melotot dan mulut menganga. Sungguh pemandangan pagi hari yang menyegarkan. Eh apa si! Mereka melihat tubuh Edgar yang terbuka memperlihatkan sebagian otot-otot kekar tangan dan dada bidang yang indah.
Bunda Elia melihat ke arah Edgar saat para pelayan wanita menampakkan raut wajah yang sama.
"Ya ampun, baby besarku, kamu ngapain gak di baju? Malu-maluin!" Sahutnya berusaha menutupi tubuh anaknya dari mata jelalatan para pelayan di rumah Edgar.
Entahlah semenjak bertemu Sri, Bunda Elia jadi alay gitu. Mungkin salah obat atau di kasih racun tikus. Wkwk.
"Bunda apa si, lebay banget!"
"Bukan bunda lebay tapi tubuh kamu buat mereka ngiler!" Sahutnya menunjuk ke semua para pelayan wanita di sana.
Saat Edgar menyadari bahwa tubuhnya menjadi tontonan para pelayan, ia pun menatap tajam ke arah para pelayan wanita.
"STOP! jangan menatap saya seperti itu, tidak ada sopan santun sama sekali! TUNDUKAN PANDANGAN KALIAN!"
Serentak para pelayan wanita itu menundukkan wajahnya, nyalinya menciut seketika.
"Puas, mam*us rasain makanya jangan tergiur sama tubuh begitu! Mending juga sama saya sudah ganteng, baik pula," bisik penjaga laki-laki menyenggol pelayan wanita yang di sampingnya.
Seketika pelayan laki-laki itu menjerit, membuat semua orang yang berada di sana menatap ke arahnya. Ia salah tingkah lalu menundukkan kepalanya dan meminta maaf.
"Jadi sebenarnya ada apa ini bun?" tanya Edgar.
"Itu nak, Sri tidak ada di kamarnya dan bunda lihat semua pakaian yang ada di lemari juga kosong. Sri kabur dari rumah!" Ujar bunda Elia dengan nada panik.
"Hah, Semua pakaian dalam lemari kosong?" Sahutnya kaget.
Cihh! Dasar pencuri!
"Iya nak semua pakaiannya kosong, Sri kabur."
"Sudahlah bun, biarkan saja. Dia juga kan bukan siapa-siapa keluarga kita. Lagi pula dia sudah dewasa."
"Tapi nak?"
"Sudah jangan dibahas lagi tidak ada gunanya bun!"
Edgar berlalu menaiki tangga menuju kamarnya lalu memasuki kamar mandi dan berendam disana.
***
Ia tidak sabar ingin memberi tahu kedua orang tuanya. Salsa langsung mengambil ponsel dan menelpon ibunya. Telepon pun tersambung.
"Hallo nak,"
"Iya bu hallo, bagaimana kabar ibu?" tanyanya dengan wajah yang terus berseri.
"Ibu baik nak, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Terus lancar kerjanya?"sahut bu Meila tak kalah bersemangat menanyakan pada anaknya.
"Alhamdulillah kerjaan aku lancar bu, gimana kabar bapak bu?"
"Alhamdulillah bapakmu sehat nak, ini lagi sarapan bareng sama ibu dan Davin."
"Syukurlah bu, ah aku rindu banget sama Davin,"
"Hallo kak, kakak kapan pulang? Davin kangen mau main lagi sama om Edgar."
Seketika dentingan sendok itu tidak terdengar suasana menjadi hening. Ya, pak Romi masih enggan mendengar nama laki-laki itu. Davin pun ketakutan lalu memeluk ibunya.
Salsa yang menyadari ada hal yang tidak beres seketika kembali menanyakan.
"Ada apa bu? disitu baikbaik saja kan?" Tanyanya khawatir.
Tidak ada jawaban sama sekali masih dengan suara hening.
"Bu?"
"Eh iya nak, tidak kok tidak apa-apa. Ada apa nak? Sepertinya anak perempuan ibu lagi bahagia ya?"
"Iya bu, aku lagi bahagia banget saat ini," sahutnya dengan nada gembira.
"Bahagia kenapa nak? Ibu jadi penasaran."
"Semalam aku kan pergi sama Edgar terus dia ngasih aku cincin berlian. Aku bahagia sekali bu,"
Ibu Meila seketika terdiam, untunglah dia segera beranjak ke ruang depan jadi pak Romi tidak mendengarnya.
"Bu?" Panggil Salsa karena ibunya tidak merespon apa pun.
"Ah iya nak, ibu ikut bahagia mendengarnya. Jadi kapan Edgar berencana akan melamarmu?"
"Aku si belum tahu bu, Edgar belum bilang apa-apa lagi nanti coba aku tanyakan."
"Iya nak, kamu di sana baik-baik ya? Jangan nyusahin om Haris dan tante Maria!"
"Iya bu, terimakasih. Eh iya ibu merestui aku sama Edgar kan?"
"Apa pun yang membuat anak perempuan kesayangan ibu selalu tersenyum dan bahagia, ibu pasti akan selalu mendukungmu nak." Sahut bu Meila seketika menitikkan air mata.
"Terimakasih bu, Salsa sayang sama ibu. Tapi bu bagaimana dengan bapak?"
Bu Meila tidak menjawab pertanyaan Salsa, ia terdiam sesaat.
***
Yee.. kembali lagi, aku sudah up untuk hari ini. Jika ada keterlambatan up mohon maaf ya mungkin pihak NT nya belum acc.
Penasaran kan? Apa pak Romi akan merestui Salsa dan Edgar? Kita lihat saja nanti. Tetap stay membaca para readers and author kesayangan.
Terimakasih, jangan lupa dukungannya like, komen, krisan, vote , rate dan gabung grup chat ya.
HAPPY READING!