Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Horor (2)


Dengan raut wajah mulai pucat, sepertinya Ridwan si penjahat kelamin ini benar-benar sedang ketakutan. Ridwan hanya melamun tanpa berbicara apapun.


"Ridwan, woy gue serius. Lo beneran lihat penampakan?" tanya Edgar mulai panik menatap serius ke arah Ridwan.


"Gu-gue gak bohong, dua rius gue lihat di cermin kamar yang di tempati oleh Sri," sahutnya mengacungkan dua jari.


"Aaaaa ...." Salsa tiba-tiba berteriak menutup kedua matanya dengan tangannya, mengejutkan Edgar dan Ridwan.


Ridwan langsung memeluk Edgar menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Edgar.


"Jauhan lo curut, gue masih normal," gerutu Edgar mendorong tubuh Ridwan.


Edgar langsung beranjak dari duduknya mendekati Salsa lalu duduk di sampingnya, memeluk tubuh Salsa dengan erat.


"Honey, kau kenapa?" tanya Edgar sebari mengelus-elus rambut kepala Salsa.


"Ed, aku tidak apa-apa kok. Aku hanya bercanda hahaha ...." celetuk Salsa tertawa.


Edgar melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Salsa sementara Ridwan memasang wajah masam, masih dengan keadaan pucat pasi.


Tak berapa lama, Sri keluar dari kamarnya menuju ruang tengah dimana Ridwan, Edgar dan Salsa tengah berkumpul.


"Sri, lo kesini!" sahut Ridwan melambaikan tangan meminta Sri mendekat ke dirinya.


Sri hanya mengangguk, berjalan melewati Edgar yang tengah memeluk Salsa dengan tatapan tidak suka.


Setelah itu, Sri duduk di samping Ridwan sampai ia mendapat pelukan erat dari pria yang sedang ketakutan itu.


"Rid, kamu kenapa?" tanya Sri kebingungan dengan tingkah Ridwan.


"Gu-gue takut Sri, lo tahu gak di kamar tempat lo tidur ada penampakan," bisiknya.


"Kamu melihatnya?" tanya Sri berubah menjadi dingin dan datar.


Ridwan yang mendengar jawaban Sri seketika melepaskan pelukannya lalu menatap lekat ke arah Sri. Begitu pun dengan Edgar dan Salsa, mereka berdua tak kalah menatap serius ke arah Sri.


"Sri, memang kamu juga melihat apa yang Ridwan lihat?" tanya Salsa dengan nada serius.


Sri mengangguk lalu berkata," Iya, gue juga melihatnya tadi saat gue teriak itu karena gue ketakutan."


Mereka bertiga menjadi merinding mendengar penuturan Sri. Salsa kembali memeluk Edgar sangat erat.


"Tuh kan, gue bilang juga apa. Kenapa rumah gue jadi seram begini ya?"


"Lo banyak dosa kali, mungkin mantan-mantan lo ada yang meninggal gara-gara lo terus mereka gentayangan," celetuk Edgar.


"Woy cunguk diam lo, jangan buat gue semakin takut. Lo mau gue mati berdiri terus gentayangan sama lo," sahut Ridwan menatap tajam ke arah Edgar.


Tak sempat menjawab terdengar suara teriakan dari dapur. Mereka berempat yang ada di ruang tamu seketika mematung lalu nampak Susi yang tengah berlari ke arah mereka dengan nafas tersengal-sengal. Sementara mereka berempat menatap ke arah Susi.


"It-itu di dapur ad-"


Seketika keempat orang itu berlari terbirit-birit keluar rumah sedangkan Susi hanya mematung melihat keempat orang itu yang tengah berlarian keluar.


Kenapa mereka itu? gumamnya kebingungan.


Susi pun ikut berlari keluar sementara keempat orang itu sudah memasuki mobil. Ia pun terburu-buru ikut masuk ke dalam mobil. Pikir Susi mungkin sedang berlomba lari menuju mobil supaya bisa ikut wisata.


Saat di dalam mobil, nafas mereka tersengal-sengal saling meraup udara.


"Cepatan cunguk, nyalain mobilnya!" ujar Ridwan dengan nafas memburu.


"Sebentar curut, kita mau kemana?" tanya Edgar.


Mereka semua saling menatap lalu Ridwan mengusulkan untuk ke rumah Salsa saja karena mungkin disana ada kedua orang tua Salsa. Mereka semua setuju begitu pun dengan Salsa namun Edgar ragu karena mengingat kembali sikap pak Romi.


"Cepatan jalan, si cunguk malah ngelamun. Gue tahu lo pasti ragu karena ada pak Romi di sana," ketus Ridwan.


Salsa menatap ke arah Edgar, ia menunduk menyembunyikan kesedihannya saat mendengar ucapan Ridwan.


"Diam lo, ya sudah kita berangkat ke rumah Salsa dan menginap di sana."


Edgar pun melajukan mobilnya menuju rumah Salsa. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil itu.


Jalanan yang macet total, bunyi klakson mobil yang terdengar begitu nyaring akhirnya Susi mencairkan suasana beku itu.


"Dasar wanita tikus, lo tadi teriak kenapa coba?" tanya Sri menatap ke arah Susi.


"Bukan urusan lo dasar wanita comberan," pekik Susi.


Ridwan hanya terdiam tanpa menanggapi kedua wanita yang duduk disamping kanan dan kirinya.


Edgar melihat ke pinggiran disana ada toko oleh-oleh. Edgar membelokkan setir mobilnya menuju parkiran disamping toko itu.


"Honey, sebelum ke rumahmu kita beli dulu beberapa oleh-oleh dan buah-buahan untuk bapak," ujar Edgar.


"Dalam kondisi seperti ini saja otak lo ingat sama oleh-oleh," ketus Ridwan.


Sementara Salsa hanya mengangguk lalu keluar dari mobil mengikuti Edgar sedangkan Ridwan dan kedua wanita itu berada di dalam mobil. Ridwan merasakan sesuatu yang merinding seketika ia menyuruh Sri dan Susi untuk ikut keluar dari sana.


Mereka bertiga pun keluar lalu berlari kecil mengejar Edgar dan Salsa yang berjalan tidak jauh dari mereka.


Saat berada di dalam toko oleh-oleh, mereka dengan nafas memburu mendekati Edgar dan Salsa.


Saat Salsa hendak mengambil jeruk secara bersamaan seorang wanita tengah mengambil jeruk.


"Maaf," ucapnya secara bersamaan.


Saat Salsa melihat ke sampingnya dan tiba-tiba ...


"Salsa," seorang wanita bertubuh ideal memeluknya.


"Vini, kamu ada disini juga?" tanya Salsa sebari membalas pelukan Vini.


"Iya Sa, aku kemari sama Hazrina dan Lia."


Vini melambaikan tangan memanggil Hazrina dan Lia. Kedua wanita itu berlarian ke arah Vini dan Salsa lalu saling menghamburkan pelukan.


Sri yang melihat ke arah mereka yang tengah berpelukan mengenali Vini, Lia dan Hazrina. Ia berjalan mendekati ke arah mereka.


"Kalian ada di sini juga?" tanya Sri membuat mereka saling melepaskan pelukan.


"Hei Sri, kalian berdua bareng kesini ya?" tanya Lia.


Salsa tersenyum canggung lalu mengangguk sementara Sri hanya mendelik memberikan tatapan tidak suka.


Mereka bertiga mengobrol bersama lalu Vini, Lida dan Hazrina memutuskan untuk ikut menginap di rumah Salsa. Setelah beberapa bulan mereka sudah lama tidak berkumpul bersama.


Lima belas menit berlalu, mereka keluar dari toko oleh-oleh itu dengan beberapa bingkisan di tangan masing-masing.


Mereka berlima masuk ke dalam mobil Edgar sedangkan Vini, Hazrina dan Lia naik ke mobil baru Hazrina.


Kedua mobil itu melaju dengan kecepatan sedang hingga satu jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah Salsa.


Mereka semua keluar dari mobil menuju ke rumah Salsa. Salsa mengetuk pintu lalu pintu itu terbuka ternyata bu Meila datang memeluk Salsa.


Bu Meila menatap bingung ke arah semua teman Salsa lalu Salsa menjelaskan mereka semua akan menginap di rumahnya untuk bakar-bakar ikan yang sempat di beli oleh Hazrina.


Bu Meila menyetujuinya, mereka semua masuk ke dalam rumah. Disana ada pak Romi yang tengah terduduk di kursi ruang tamu. Edgar menundukkan pandangannya namun pelukan hangat yang Edgar dapatkan dari pria tua itu.


"Maafkan bapak nak," lirih pak Romi.


Edgar bingung menanggapi sikap pak Romi yang kian berubah.


"Iya pak tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena telah membuat anak bapak terluka," ujar Edgar membalas pelukan pak Romi.


Pak Romi melepas pelukannya lalu menepuk bahu Edgar dan tersenyum.


Tak berapa lama, Davin keluar dari kamarnya lalu menghampiri Edgar dan memeluknya. Edgar menggendong Davin. Anak kecil itu di sambut oleh semua teman Salsa. Davin menatap kosong ke arah Sri lalu ia membenamkan wajahnya ke bahu Edgar dan berbisik pada Edgar.


"Om Ed, itu siapa yang ada dibelakang kakak itu?" bisik Davin bertanya sebari menunjuk ke arah Sri.


Edgar mengalihkan pandangannya pada orang yang ditunjuk oleh Davin, namun di belakang Sri tidak ada siapa-siapa.


****


Hiiii serem banget ... Jangan lewatkan ya tetap stay baca.. Yoo siapa yg mau Edgar sama Salsa cepat menikah? sabar ya nanti ada waktunya mereka berdua menikah kok, ya novel ini judulnya memang menikah muda cuman aku ceritainnya dari awal pertemuan lalu menajalin asmara hingga nnti mereka semua menikah dan ceritanya masih panjang setelah kehidupan dimana mereka berumah tangga.


Terimakasih untuk semua, jangan lupa like, vote dan komentarnya.