
Fajar mulai keluar dari persembunyiannya. Kicauan burung merdu, udara yang sejuk menyengat tubuh. Semoga saja suasana hati mulai membaik.
Edgar yang sudah bersiap-siap menuju suatu tempat. Ia tampak berseri dan segera bergegas menyambar sebuah kunci mobil di mejanya. Berlari tanpa mengingat sarapan. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tiga jam kemudian sampailah disebuah tempat dimana ada seorang gadis dan anak kecil disampingnya. Edgar menghampiri mereka.
"Sayang," lirihnya.
Gadis itu terkejut, ia sangat tahu siapa yang selalu memanggilnya seperti itu dan suara itu hanya ada pada diri seseorang. Seketika menoleh ke belakang dan ternyata benar. Ia beranjak berdiri dan berusaha menghindar tapi Edgar menarik tangannya hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Aku mohon dengarkan penjelasanku," lirihnya kembali memeluk gadis itu sangat erat.
Ya, gadis itu Salsa, ia sudah tidak bisa membendungnya lagi. Cairan bening keluar membasahi pipinya. Ia membalas pelukan Edgar dengan sama eratnya, membenamkan wajahnya dalam dada bidang milik Edgar.
"Aku sangat merindukanmu, aku tidak akan sanggup berlama-lama jauh darimu. Aku akan jelaskan semuanya, beri aku kesempatan," lirihnya dengan nada serius.
Salsa menatap pria di hadapannya, terlihat jelas dimatanya bahwa prianya ini benar-benar tidak berbohong. Ia menganggukkan kepala, Edgar melihatnya tersenyum dan terus menciumi puncak kepala Salsa.
"Terimakasih," lirihnya menatap lekat Salsa.
Edgar memandangnya penuh rasa rindu seketika ia mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Salsa. Hembusan nafas mulai terasa di wajah Salsa, ia memejamkan matanya. Edgar tersenyum dan mulai mendaratkan bibirnya tapi..
sedari tadi anak kecil itu tidak menghiraukan kedua orang dewasa dihadapannya karena masih polos untuk mencerna percakapan itu. Ia asyik sekali bermain barbie. Mungkin karena semakin lama, ia mulai bosan.
Ya anak itu Zia, meski usianya masih balita tetapi anak itu memiliki kelebihan. Ia anak yang pintar dan menggemaskan dengan tingkah polosnya. Karena sudah bosan Zia berlari menuju dapur dan membuka kulkas mengambil sebuah coklat lalu memakannya hingga wajahnya itu belepotan dipenuhi coklat.
Zia melihat cermin, ia tersenyum sendiri melihat wajahnya. Entah apa yang dipikirkannya. Setelah selesai memakan coklat dan berceceran dimana mana, ia berlari keluar.
Sedangkan Edgar memandang Salsa penuh rasa rindu seketika ia mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Salsa. Hembusan nafas mulai terasa di wajah Salsa, ia memejamkan matanya. Edgar tersenyum dan mulai mendaratkan bibirnya tapi..
"Ateu, Zia mau cuci muka, lengket," rengek Zia menarik baju Salsa.
Seketika Salsa melepaskan pelukannya dan berlutut melihat wajah Zia yang dipenuhi coklat.
Edgar melihat itu kebingungan, mungkin pikirannya bertanya-tanya siapa anak kecil ini. Tapi ia mendengus kesal karena setelah beberapa hari tidak bertemu, seketika di saat bertemu malah gagal.
"Zia sayang, kamu makan coklat ya? Kenapa belepotan gini?" tanya Salsa sebari mengelap coklat di wajah Zia.
"Iya ateu, tadi Zia makan coklat. Zia bosan main itu," menunjuk ke arah mainannya.
Salsa melihat anak kecil itu menatapnya sangat lekat, ia mencubit pipi anak kecil itu dan Zia pun menangis.
"Eh Zia sayang kenapa menangis?" Salsa kaget dan mendekap tubuh Zia, mengusap-usap punggungnya berusaha menenangkannya.
Dalam isak tangis, Zia melihat Salsa, " Ateu cubit Zia, berarti Zia ada salah? Maafin Zia ateu," sahutnya polos.
Salsa tidak menyangka ternyata Zia menangis gara-gara di cubit olehnya. Akan tetapi maksudnya ia sangat gemas jadi tangannya refleks mencubit pipi anak kecil itu.
Edgar berlutut di samping Salsa dan menyapa anak kecil itu.
"Hey anak manis, kenapa menangis?" tanya Edgar.
Seketika pandangan Zia beralih menatap Edgar.
"Zia di cubit sama ateu, om," ucapnya dalam isak tangis sangat polos mengadukan Salsa pada Edgar.
Edgar tersenyum, "Mau beli es krim sama om enggak?" ajaknya.
Disambut dengan senyum yang mengembang, "mau om mau," jawabnya bersemangat dan memeluk tubuh Edgar.
Edgar tersenyum ke arah Salsa, tapi Salsa masih enggan menatapnya kembali, rasa sakit di hatinya masih menjalar. Edgar menggendong berjalan menuju orang yang berjualan es krim.
"Namaku Zia om,"sahutnya polos sambil membawa dua es krim di tangannya.
"Nama yang manis, jangan menangis lagi ya, kasihan ateu nya."
"Iya om, Zia enggak nangis ko,"
Setelah membeli es krim, Edgar dan Zia menghampiri Salsa tengah terduduk di bangku taman depan rumahnya.
"Zia manis, kamu main di sana dulu ya," bujuk Edgar menunjuk ayunan.
Zia mengangguk menuruti perintah Edgar. ia memeluk Edgar dan mencium pipinya. Edgar terperanjat kaget karena baru pertama kali di cium oleh anak kecil. Ia tersenyum dan mencium puncak kepala Zia. Anak kecil itu berlari menuju sebuah ayunan.
Jadi seperti ini ya rasanya, aahh gue harus cepat menikah dan mempunyai anak. Gumamnya.
Edgar menghampiri Salsa, duduk di sebelahnya sebari menyodorkan sebuah es krim. Salsa menerima es krim itu.
"Kamu tahu dari mana kalau aku ada di sini?" ujarnya.
"Sayang itu gak penting, sekarang aku akan menunjukan sesuatu," ujar Edgar serius.
Edgar meraih ponselnya dan menyalakan sebuah video. Salsa melihat isi video itu dengan raut wajah penuh penyesalan, ia memeluk Edgar begitu erat.
"Maaf," lirihnya.
Edgar tersenyum dan membalas pelukan Salsa, mengusap-usap punggung Salsa.
"Maaf, aku sempat tidak mempercayaimu," lirihnya kembali dalam isak tangis.
"Sudah sayang tidak apa-apa ko, kamu gak salah karena begitu aku bisa melihat kecemburuan kamu," sahut Edgar mencubit hidung Salsa.
Salsa tersenyum menatapnya lekat. Edgar membalas senyuman itu mendaratkan bibirnya di bibir imut milik Salsa.
Salsa memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Edgar, semakin lama ia membalasnya dengan pagutan lebih dalam sampai nafasnya memburu. Edgar sejenak melepaskan ciumannya untuk memasok oksigen lalu kembali ******* bibir Salsa. Mereka berciuman sangat mesra.
Tampak seorang anak kecil melihatnya dan menghampirinya.
"Ateu, om lagi ngapain?" tanyanya polos.
issstt... sial ini anak. Gumam Edgar.
Edgar dan Salsa terkejut seketika melepaskan ciumannya, melihat ke arah anak kecil itu.
"Ateunya lagi jilat es krim tadi nempel di bibir om," jawab Edgar gelagapan.
"Oh gitu, kok Zia gak jilat ateu?"
Salsa melotot tajam ke arah Edgar sedangkan Edgar terkekeh geli mendengar pertanyaan Salsa.
"Eh Zia belum makan siang ya? yuu makan dulu," ajaknya mengalihkan pembicaraan.
Zia mengangguk. Terdengar suara perut yang keroncongan, tatapan Salsa beralih pada Edgar.
"Sayang kamu sudah makan?"
Edgar menggeleng kepala, ia lupa ternyata belum makan sedari pagi karena tidak sabarnya untuk menemui Salsa. Sampai tidak ingat dengan perutnya yang demo meminta haknya.
Salsa pun tertawa mendengar keroncongan perut Edgar. Senyum dan tawanya kembali mengukir indah di wajahnya.