
Wanita di balik sana menghapus air yang mengalir itu, berjalan menghampiri Edgar yang tengah bernyanyi. Suaranya terdengar sangat parau, mungkin pria ini sedang bersedih. Ia berdiri tepat di belakang punggung Edgar.
Air matanya benar-benar meleleh tak bisa di tahan lagi.
"Ed ..." lirihnya.
Edgar yang mendengar suara di balik punggungnya segera berdiri menyimpan gitarnya lalu ia berbalik. Edgar melihat seorang wanita dengan rambut panjang terikat ke atas, wajah cantik yang kini terlihat pucat, mata yang sembab dan bengkak dengan hidungnya yang merah.
Edgar terdiam menatap wanita itu hingga tidak lama wanita itu berjalan mendekat, ia mendongkakkan wajahnya menatap lekat mata Edgar. Sorot mata yang selama ini sangat di rindukan. Ia tidak ingin kehilangan sorot mata ini yang selalu memberikan kenyamanan.
Wanita itu menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Edgar, menangis dan terus menangis, mempererat pelukannya. Semula Edgar hanya terdiam, ia menahan hati tengah bergejolak.
Hingga telaga bening itu mengalirkan air mata kepedihannya. Baru pertama kali, Edgar menangis karena seorang wanita. Ia benar-benar tidak bisa melihat wanita yang dicintainya menderita atau bahkan merasakan sakit.
Apa yang sudah gue perbuat, gue mohon jangan nangis Sa. Gumamnya dalam hati.
"Ed ..." lirih Salsa tetap membenamkan wajahnya di dada bidang Edgar.
Edgar tak kuasa, ia membalas pelukan Salsa. Mereka saling mengeratkan pelukan hanya ada isak tangis yang mewarnai suasana danau itu.
Setelah lama berpelukan, Edgar melonggarkan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Salsa, memberikan jarak untuk mereka saling menatap satu sama lain. Keheningan beberapa saat diantara mereka.
Salsa memecahkan keheningan itu.
"Ed ... katakan sesuatu!" sahutnya menatap bola mata hitam itu yang membendung air mata.
"Sa, gue minta maaf?" sahut Edgar melepaskan pegangannya.
Edgar berjalan, memberi jarak cukup jauh. Salsa melihat itu semakin terisak, ia berjalan kembali mendekati Edgar.
"Kenapa Ed ... apa kamu sudah tidak mau memperjuangkan cinta kita?" lirihnya.
"Bukan Sa, bukan begitu ...."
"Lalu apa Ed ... katakan!"
Edgar hanya terdiam membelakangi Salsa. Saat ini ia meneteskan air mata. Edgar tidak ingin Salsa melihat dirinya lemah seperti ini.
Gue sayang sama lo, tapi gue takut membuat hati lo kembali terluka. Gumam Edgar.
Salsa menatap lurus pada punggung Edgar, ia menangis dan terus menangis. Hanya itu yang kini bisa lebih menenangkan hatinya.
"Ed, aku rindu ... " Terdengar isak tangis yang cukup kencang.
"Aku rindu melewati semuanya bersamamu, aku rindu kamu panggil aku dengan sebutan sayang atau pun honey. Aku rindu di peluk sama kamu, bercanda sama kamu dan aku ingat di danau ini, aku benar-benar merasakan kenyamanan yang kamu berikan," lirih Salsa mengingat semua kenangan yang selama ini telah mereka lewati bersama.
Edgar benar-benar merasakan sakit mendengar suara tangis dari kekasihnya itu. Ia berbalik namun Salsa kini menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah pucat dengan mata yang sembab.
Edgar melangkah mendekati Salsa lalu ia menarik tubuh wanitanya, dipeluknya begitu erat. Salsa kembali melingkarkan tangannya pada tubuh Edgar, membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Edgar.
"Aku minta maaf honey," sahut Edgar dengan suara parau.
"Aku merindukan sebutan itu, Ed ..." lirih Salsa.
"Aku menyayangimu. Jadi, berhetilah menangis karena aku tidak ingin melihatmu terluka seperti ini."
Saat ini perasaan dan hati Salsa cukup tenang mendengar semua yang dulu selalu Edgar ucapkan padanya.
"Aku mohon Ed, jangan pernah berniat untuk pergi dari hidupku. Aku tidak menginginkan apa-apa selain bersamamu."
"Sudahlah honey, jangan menangis lagi. Simpanlah air matamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Salsa melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Edgar. Sorot mata yang selalu berkata jujur dan tulus.
"Tetaplah disini Ed, mari kita bersama mempertahankan apa yang selama ini kita perjuangkan."
Edgar mengulas senyum di wajahnya. Dengan tangannya mengelus pipi Salsa, menghapus air yang mengalir itu. Salsa membalasnya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Berjanjilah untuk tidak menangis apapun alasannya," ujar Edgar.
Salsa membalasnya dengan sebuah anggukan. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang milik kekasihnya yang setelah beberapa hari ini sangat ia rindukan.
Setelah cukup lama mereka berpelukan, saling merindukan satu sama lain akhirnya Edgar kembali berbicara.
"Honey kenapa kamu tahu jika aku berada disini?"
"Kita kan, sudah lama pacaran masa aku tidak pernah tahu tentang kamu," jawabnya dengan kembali tersenyum.
"Semua juga aku tahu kok, bagian ini, ini dan ini." Ungkap Salsa tak kalah menggoda.
Lalu ia melepaskan pelukannya dan berlari kecil. Sementara Edgar kembali mengulas senyum.
"Hei, apa kau menggodaku?" teriaknya.
"Siapa juga yang menggodamu, gede rasa banget si!" teriaknya disela berlarian.
"Hei, awas kau ya!"
Edgar mengejar Salsa, mereka saling tergelak tawa. Edgar menangkap tubuh Salsa, memeluknya dari belakang. Mereka terdiam sesaat saling melepas rindu.
"Honey, apa kau ingat saat aku pertama kali mengajakmu kemari?"
Salsa terkekeh geli, ia berkata," haha ... iya aku ingat saat kamu mendadak menciumku tanpa izin."
"Hei, bukankah kamu juga menikmatinya?"
Salsa membalikkan tubuhnya menghadap Edgar. Menatap lekat ke arah bola mata hitam itu. Edgar tersenyum nakal saat Salsa memandangnya.
"Tidak! siapa bilang aku menikmatinya."
"Honey, apa kau tidak sadar matamu mengerjap-ngerjap saat aku menyentuh bibir ini."
Wajah Salsa seketika memerah, ia tersipu malu dengan ucapan Edgar.
"Tidak!" Masih tetap mengelak.
Edgar mengamati setiap inci wajah Salsa. Wajah yang anggun terlihat tampak pucat, mata yang sembab dan bengkak.
"Honey, berapa hari kau menangis dan apa kau tidak makan?"
"Semenjak kamu pergi, aku tidak berselera makan atau melakukan aktivitas lain."
"Pantas saja wajahmu seperti mayat hidup," celetuk Edgar berhasil membuat Salsa memasang wajah masam.
"Kamu mengatakan kalau aku mayat hidup, lantas kamu yang membuat aku seperti mayat hidup ini, Iblis kah?" ketus Salsa.
"Hei, jaga mulutmu. Memang kamu bersedia memiliki calon suami iblis?"
Salsa tersenyum menggoda, ia berkata "Sepertinya kalau iblisnya tampan dan baik begini, aku tidak perlu mikir lagi."
"Honey, apa kamu serius?"
Salsa dengan sengaja mengangguk menyetujui ucapannya.
"Baiklah jika itu maumu maka aku akan menjadi iblis."
"Ih jangan ... aku kan, hanya bercanda." Ungkapnya memasang wajah cemberut.
"Honey, hentikan jangan begitu."
"Memang kenapa?" Salsa sengaja meledek Edgar dengan menjulurkan lidahnya.
"Kau benar-benar menggodaku."
Edgar menggelitik pinggang Salsa hingga Salsa tertawa terpingkal-pingkal.
"Ed ..."
Edgar dengan senangnya terus menggelitik tak henti.
"Hentikan geli, Ed ... ku mohon hentikan."
"Masih berani kau menggodaku?"
Salsa menggeleng dengan cepat. ia menjawab, "Tidak ... aku mohon hentikan, nanti aku pingsan karena kebanyakan tertawa."
Edgar seketika menghentikan aksinya. Ia menatap lekat wajah kekasihnya. hembusan nafas saling menerpa wajah masing-masing.
***
Yee akhirnya baikan juga.. begitulah org yang sedang jatuh cinta.. wkwk.