
Setelah di obati oleh dokter dan sebagian perawat, Edgar kembali menuju ruang UGD ternyata Salsa dipindahkan ke ruang rawat, ia sudah sadar. Edgar segera berlari menuju ruangan Salsa. Ia mendekati Salsa, disana ada ketiga sahabatnya dan bu Meila. Mereka yang berada di ruangan itu mengerti dan meninggalkan Salsa bersama Edgar.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"tanya Edgar khawatir seketika memegang tangan Salsa tapi di tepis oleh Salsa.
"Ngapain kamu kesini? Aku sudah tidak mau lagi bertemu dengan pria sepertimu!" dengus Salsa memalingkan wajahnya.
"Aku minta maaf Sa, aku bisa jelasin semuanya, aku bakalan buktikan sama kamu."lirihnya.
"Keluar!! Keluar!! Aku tidak mau mendengar ucapanmu lagi," cairan bening itu kembali menetes.
"Tapi Sa,," lirih Edgar.
"AKU BILANG KELUAR!!!"tegas Salsa dengan intonasi tinggi.
"Baik,jika itu mau mu,aku akan pergi." Sahut Edgar geram, merasa sakit hati mendengar Salsa yang menyuruhnya pergi.
Edgar berlalu meninggalkan Salsa. Isak tangis terdengar dengan gemetarnya tubuh Salsa. Setelah kepergian Edgar, ketiga sahabatnya pun masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat Salsa yang tampak kalut dengan derai air mata yang membasahi pipinya. Mereka bertiga mendekat dan memeluk Salsa berusaha menenangkannya. Sudah lama sekali mereka berpelukan tidak ada yang berbicara hanya isak tangis Salsa yang terdengar. Lalu Vini memecah suasana mulai berbicara.
"Sebenarnya ada apa Sa? Bilang sama kita, jangan di pendem sendiri," lirihnya.
Salsa pun mulai berbicara mengungkapkan kepedihannya.
"Aku sakit hati sama Edgar, setelah sekian lama aku menjalin hubungan ini dengannya dan selama itu juga aku menyimpan sebuah rasa percaya yang begitu besar tapi hari ini dengan mudahnya ia menghancurkan semua itu," lirih Salsa.
"Maksudnya Edgar mengkhianatimu Sa?"tanya Lia terkejut.
"Iya... Dia tega mengkhianati ketulusanku setelah apa yang aku berikan padanya dengan mudahnya ia menyakitiku,"lirihnya dengan isak tangis yang tak henti membasahi pipinya.
"Astaga... Edgar bren*sek! Aku kira dia pria baik-baik!" sahut Vini mulai terbawa emosi.
"Aku gak nyangka Edgar setega itu sama kamu Sa," sahut Hazrina tidak percaya.
***
Sementara setelah keluar dari rumah sakit Edgar menuju suatu tempat. Tibalah di sebuah rumah mewah dan elegan kawasan elite. Edgar mengetuk pintu dan seorang wanita bertubuh tinggi ideal dengan rambut sebahu membukakan pintu.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga," sahut wanita itu melingkarkan tangannya di leher Edgar tetapi segera Edgar tepis.
"Enggak usah banyak bac*t maksud lo apa ngirim pesan ke gue?" tanya Edgar menahan Emosi yang sudah mulai bergemuruh.
"Tenang dong sayang, mendingan kita masuk dulu. Aku rindu lagi ke pengen dimanjain kamu," ucap wanita itu berusaha menggoda
Edgar mendecih. "Harusnya lo tahu diri! gue gak suka kalau lo mengganggu hubungan gue sama Salsa!"
"Aku mencintaimu sayang, kita bisa ngomong baik-baik. Maaf kalau aku sempat membuatmu kecewa," lirih wanita itu seketika menundukkan pandangannya berusaha meyakinkan Edgar.
Cihh!!
"Bahkan sekalipun lo berusaha memisahkan gue sama Salsa. Gue gak akan tinggal diam! Dan harus lo ingat kalau lo itu bukan selera gue! Camkan itu wanita j*lang!!" Ancam Edgar dengan wajah penuh emosi yang kian membara.
"Aku gak akan nyerah buat dapetin kamu!!" Sahutnya.
Kita lihat saja nanti siapa yang akan memohon cintaku. Gumam wanita itu.
Edgar tidak menanggapinya, ia beranjak pergi tetapi wanita itu tiba-tiba memeluknya dari belakang. Edgar yang sudah dikuasai oleh amarah melepaskan pelukan itu hingga akhirnya wanita itu tersungkur jatuh dan meringgis kesakitan.
"Jangan pernah berani lo sentuh gue!! Sekali lo sentuh gue, lihat apa yang akan terjadi pada diri lo." Ancam Edgar seketika membuat wanita itu gemetar hebat karena takut dengan ancaman Edgar.Tapi wanita itu selalu berusaha menunjukkan keberaniannya.
"Aku tidak akan pernah nyerah untuk kembali mendapatkanmu!!" Ucapnya dengan nada tinggi.
Edgar tidak menghiraukan, ia bergegas menuju motornya dan berlalu meninggalkan wanita itu.