
Hai aku balik lagii...
Happy reading ya! Semangat untuk hari ini...
****
Bu Meila hanya terdiam, tidak menjawab. Salsa yang menyadari akan hal itu, mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudah bu, kalau begitu ibu jaga kesehatan ya, aku sayang sama ibu. Sudah dulu ya bu, Assalammualaikum."
"Ah iya nak, waalaikumsalam."
Sambungan telpon pun terputus, tak berapa lama Salsa melamun kembali memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia memikirkan bagaimana hubungan ke depannya dengan Edgar.
Semoga saja semuanya baik-baik saja, berjalan sesuai rencananya. Amiin. Gumamnya dalam hati.
Tak berapa lama ponselnya kembali berdering menandakan sebuah pesan masuk. Siapa lagi kalau bukan kekasih hatinya. Suasana hati yang semula kembali mengukir senyum di wajahnya.
Edgar: Honey, bersiaplah sebentar lagi aku akan ke sana.
Apa-apaan pria ini, dasar Edgar ya selalu mendadak.
Salsa: Memang kita mau kemana lagi honey?
Edgar: Sudahlah honey, kamu nurut aja sekarang dandan yang cantik. Aku akan menjemputmu.
Salsa : Ya sudah baiklah.
Salsa pun beranjak memilih gaun yang berjejer di dalam lemarinya. Ia mencoba satu persatu-satu gaun yang akan dikenakannya. Setelah 10 menit berlalu, masih belum juga menemukan baju yang cocok menurutnya. Dan sisa satu gaun terakhir berwarna pink muda yang panjangnya hanya mampu menutupi setengah pahanya.
Tak berapa lama pun, ponselnya kembali berdering.
Edgar: Ingat honey, jangan memakai gaun ataupun pakaian yang terbuka! Aku gak mau tubuh kamu dilihat pria lain!
Salsa mendengus kesal, padahal ia sudah cape-cape mencoba semua gaun. Giliran sudah dapat yang cocok Edgar malah melarang memakai gaun.
Isshhh, dari mana dia bisa tahu, kalau aku memakai gaun!
Salsa: Tapi aku sudah hampir 10 menit loh nyoba semua gaun, terus giliran aku nemu yang cocok, kamu malah bilang jangan pakai gaun. Dari mana kamu tahu kalau aku saat ini memakai gaun?
Egdar: Haha.. Maafkan aku honey, tapi aku tidak mau tubuh calon istriku di tonton oleh pria lain. Cepat ganti honey. Aku selalu tahu kamu pakai apapun, karena aku pasang cctv di kamarmu.
Salsa terkejut saat membaca kata terakhir dari isi pesan Edgar. Ia langsung mengedarkan matanya ke seluruh sudut ruangan di kamarnya. Tapi ia tidak menemukan cctv atau kamera apapun disana.
Ponselnya kembali berdering.
Edgar: Aku hanya bercanda honey, mana mungkin aku pasang cctv di kamarmu. Kalau aku pasang pun, aku akan memasangnya di kamar mandi mu.
Salsa: Iiisshh... EDGAR ATMAJA!
Salsa terus mendengus kesal, tak berapa lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Salsa pun terburu-buru segera mengambil baju santai dan tertutup, ia pun berdandan sangat sederhana. Akan tetapi masih selalu terlihat cantik.
Setelah selesai, ia langsung keluar dari kamar dan menuruni tangga rumah. Di sana sudah ada Zia yang sedang sarapan di suapi oleh baby sisternya.
"Ateu, mau kemana?" tanya Zia menghampirinya, mendongkakkan wajahnya ke atas menatap Salsa.
Salsa berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Zia.
"Ateu mau pergi dulu, Zia jangan nakal ya, harus nurut sama bibi."
"Siap Ateu, tapi jangan lama ya ateu!"
"Iya Zia sayang, kalau begitu Zia makan yang banyak ya terus nanti main sama bibi."
Zia mengangguk dan mengucup pipi Salsa lalu dibalas oleh Salsa dengan satu kecupan di kening Zia.
"Bi, titip Zia ya, jaga baik-baik!"
"Baik non."
"Ateu hati-hati ya,"
Salsa tersenyum dan melambaikan tangan ke Zia berlalu keluar rumah. Di sana sudah ada Edgar yang menyandarkan tubuhnya di depan mobilnya.
"Ihh apa si Ed, kamu ini," sahut Salsa menghampiri Edgar, memukul bahunya.
Seketika Edgar menarik pinggang Salsa, ia menatap lekat kekasihnya dengan jarak wajah yang sangat dekat hingga hembusan nafas saling menerpa masing-masing wajahnya. Salsa melingkarkan kedua tangannya di leher Edgar.
"Honey, kau begitu cantik,"
"Apa si Ed," Salsa menunduk menyembunyikan wajahnya yang berubah menjadi merah merona.
"Apa kau sedang malu honey? Wajahmu imut sekali kalau merah begitu,"
"Ih sudah ah Ed jangan gombal deh, ayo kita jalan!" Sahut Salsa malu, mencoba mengalihkan pembicaraan dan mulai melepaskan pelukan Edgar. Namun di tahan oleh Edgar.
"Tunggu honey!" Tak memakan waktu lama, Edgar langsung melahap bibir imut milik Salsa, ciu*an itu berlangsung lama. Salsa membalas ciu*an Edgar, ia benar-benar menikmati setiap sentuhan kekasihnya.
Setelah beberapa menit, Salsa tersadar bahwa ini di tempat terbuka, ia langsung melepaskan ciumannya itu dengan nafas yang masih memburu.
"Honey, kenapa kau hentikan?"
"Malu ih, ini tempat terbuka, coba lihat!" Salsa memandang ke semua arah, untung saja tidak ada orang.
"Kenapa harus malu honey? Ayolah kau kan juga menikmatinya," sahut Edgar kembali menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya.
"Ed ih,"
"Diam honey!"
Saat Edgar kembali mendaratkan bibirnya, tiba-tiba terdengar suara,
Tok... tok... Baksooo...
Mereka berdua langsung melepaskan pelukannya dan bergegas memasuki mobil. Dengan nafas terengah-engah, saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Edgar tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Salsa cemberut, melipat kedua tangannya di dadanya.
"Kamu kenapa honey?"
"Tuh kan sudah aku bilang, ini itu tempat terbuka tapi kamu masih aja nekat mau cium aku!" ketusnya.
"Terus kalau sekarang kan sudah tertutup, apa kamu menginginkannya kembali honey? Mari lanjutkan!"
"Ih Edgar," seketika pipi Salsa kembali merah merona.
"Honey, pipimu merah lagi, apa kau sedang malu?"
"Iya ih aku malu, dari tadi kamu gombal terus,"
"Tapi kamu menyukainya kan honey? Kamu lucu honey malu-malu kucing."
Salsa menunduk dan tersenyum mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil. Edgar hanya tersenyum dan mulai menyalakan mobilnya.
"Tunggu dulu Ed,"
"Ada apa honey? Apa ada yang tertinggal,"
"Iya, aku lupa kita sudah lama tidak foto berdua, mari foto dulu! Hehe," sahut Salsa mengeluarkan ponselnya membuka kamera.
"Dasar ya, aku kira apa." Edgar tersenyum mengacak-acak rambut Salsa.
Salsa hanya membalas dengan senyuman dan merapikan dulu rambut yang sempat berantakan karena ulah Edgar. Mereka pun berfoto bersama.
Ciiissss..cekrek.
Hasil foto yang bagus, kedua pasangan yang serasi tetap cantik dan ganteng walau hanya dibalut pakaian sederhana.
Salsa tersenyum memandangi wajah kekasihnya lalu mencium bibirnya sekilas. Edgar pun membalasnya. Namun Edgar membalas ciu*an itu sangat lama, akhirnya Salsa melepaskan pagutan yang semakin panas itu.
"Sudah sayang ih," lagi-lagi pipinya kembali merah merona.
Edgar tersenyum memegangi pipi Salsa yang memerah. Seketika ia langsung kembali menghidupkan mobilnya, melajukan dengan kecepatan sedang menuju sebuah tempat.