Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
MM (7)


Sampainya di ambang pintu kamar tamu, Edgar dan Ridwan masuk ke dalam secara bersamaan.


Ternyata dua wanita itu berteriak saling pandang dengan mimik wajah terkejut. Masih terdengar suara teriakan yang begitu nyaring.


Edgar dan Ridwan hanya tertawa melihat kedua wanita itu. Setelah mendengar suara tertawa dua pria, mereka berdua saling memandang ke arah Edgar dan Ridwan.


"Ed, kenapa tertawa?" tanya Salsa dengan nafas tersengal.


"Kalian berdua lucu, sama-sama wanita tapi saling terkejut."


"Ih Ridwan, hentikan!" pekik Sri.


Saat Salsa melirik kembali pada Sri, ia mengingat wanita di depannya ini yang tengah duduk di atas ranjang dengan jarak lumayan dekat seolah-olah mengingatkan pada seseorang. Begitu pun dengan Sri pandangannya beralih menatap Salsa dengan tatapan lekat satu sama lain. Sementara itu kedua pria berhenti tertawa, melongo melihat Salsa dan Sri.


"Hah, kamu Salsa kan?" tanya Sri, setelah teringat kembali teman satu perusahaannya.


"Ah iya benar, kamu Sri," ujar Salsa tersenyum seraya berjalan mendekati Sri.


Kedua wanita itu berpelukan membuat kedua pria yang tengah melihatnya kebingungan.


"Ed, kenapa dua macan itu bisa saling mengenal?" bisik Riwdan.


"Mana gue tahu."


"Lah ... lo kan, pacar Salsa masa lo gak tahu sih?"


"Hei, kalian jangan bicara yang macam-macam ya," ujar Sri menatap tajam pada Ridwan.


Ridwan melirik ke arah Sri sebari menelan ludah dalam-dalam.


"A-ah iya, gue lagi bercanda saja sama si koplak ini," ujar Ridwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebari menyenggol lengan Edgar.


"Ridwan bohong, dia bilang kenapa kalian bisa saling mengenal?" tanya Edgar, melirik sekilas ke arah Ridwan menampakkan seringai senyum.


"Dasar koplak lo, gue tendang juga si joni lo," pekik Ridwan mendengus kesal.


Edgar hanya tertawa melihat Ridwan sementara kedua wanita itu masih saling merangkul melihat kedua pria yang tengah saling meledek.


"Kita kan, satu perusahaan. Lah, bos Ridwan yang terhormat masa kamu gak tahu?" sahut Sri menyerngitkan dahinya.


"HAH?" jawab kedua pria itu secara bersamaan.


Edgar menghampiri Salsa lalu menarik tangan wanita itu.


"Honey, katakan apa benar kau bekerja di perusahaan si cunguk ini?"


"Woy, dasar koplak, panggilan apalagi itu?" Sela Ridwan memotong pembicaraan Edgar dan Salsa.


Sementara Sri melihat Edgar dan Salsa dengan tatapan tidak suka.


Sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua? gumamnya dalam hati.


Salsa menatap wajah Edgar, mengelus wajah itu dengan jari tangannya.


"Aku juga tidak tahu Ed, apa mungkin Ridwan itu bos aku ya?" tanyanya melirik ke arah Ridwan.


Iiisshh ... dasar tidak tahu malu, ternyata lo ini saingan gue. Pantas saja Edgar tidak mau berdekatan sama gue. Gerutu Sri dalam hati.


"Ya, memang Salsa bekerja di perusahaan yang Ridwan pimpin makanya aku bisa mengenalnya," jawab Sri.


Edgar melirik sekilas ke arah Sri. Saat pandangan mata itu bertemu, Sri mengedipkan sebelah matanya pada Edgar namun pria itu kembali menatap wajah kekasihnya.


"Wah, kalau begitu lo kerja di tempat gue ya Sa?" tanya Ridwan.


"Ya, kalau itu kejelasannya memang benar aku bekerja di tempatmu."


"Kenapa lo gak kerja di perusahaan si curut kaya ini?" ketus Ridwan melirik ke arah Edgar sementara Edgar memberikan tatapan tajam pada Ridwan.


"Ah itu, aku punya alasan sendiri kenapa tidak bekerja di tempat Edgar," sahutnya seraya tersenyum.


Sementara Sri menatap tidak suka pada Salsa namun Salsa hanya tersenyum menanggapinya meskipun ada sesuatu hal yang berbeda.


"Sebentar, kalian berdua ada hubungan apa?" tanya Sri menatap Edgar dan Salsa.


Edgar menarik pinggang Salsa hingga jarak mereka begitu dekat.


"Kenalkan ini pacar gue sekaligus calon istri gue," sahut Edgar dengan seringai senyum diwajahnya.


Dengan keterkejutan, Sri memegangi dadanya yang terasa sesak. Sakit namun tak berdarah.


"Ja-jadi kalian?" sahutnya terbata-bata.


Ridwan memotong pembicaraan mereka.


"Iya, si curut ini akan segera menikah."


Sementara Edgar menyeringai menatap Ridwan, begitu pun pria itu berusaha membuat Sri cemburu. Benar saja, kedua pria itu berhasil seketika Sri meneteskan air mata. Dengan tatapan bingung, Salsa melepaskan pegangan Edgar lalu menghampiri Sri.


"Sri, kamu kenapa?" tanya Salsa.


"Tidak, gue gak apa-apa," jawabnya dengan nada tidak suka.


Sementara Salsa dengan tatapan kebingungan terkejut ketika mendengar Sri mengucapkan kata gue dan lo.


Kenapa Sri jadi begini, apa ada yang salah? gumam Salsa.


Salsa memegangi bahu Sri, menatap lekat wanita dihadapannya. Ada sorot tidak suka terlihat jelas di pancaran mata binar itu, Salsa memeluk Sri. Walau bagaimanapun Sri adalah sahabat keduanya setelah ketiga sahabatnya. Namun Sri dengan cepat menepis pelukan Salsa, mendorong tubuh mungil itu hingga tersungkur ke lantai.


Edgar dan Ridwan terkejut ketika melihat itu. Edgar mulai menahan emosi yang membara, ia menghampiri Salsa membantunya berdiri.


"Honey, apa kau tidak apa-apa?" tanya Edgar khawatir, memegangi bahu Salsa lalu memeluknya.


Salsa hanya menangis melihat kenyataan perlakuan Sri padanya. Ia terus berpikir,


Kenapa Sri jadi berubah seperti ini, apa aku salah tapi dimana letak kesalahanku bahkan aku tidak tahu. Gumamnya membenamkan wajah di dada bidang milik Edgar.


Sementara Ridwan dan Edgar melirik ke arah Sri dengan tatapan tajam. Sri hanya menunduk ketika mendapat tatapan tajam dari kedua pria itu.


"Woy ... lo sudah saraf, apa yang sudah lo lakukan pada Salsa?" tanya Ridwan dengan tatapan begitu tajam.


"Gue mau sendiri, lebih baik kalian keluar dari sini!"


Salsa melepaskan pelukannya dari Edgar lalu kembali melangkahkan kaki mendekati Sri. Ia menatap lekat mata itu.


"Sri, salahku apa?" lirihnya.


Sri hanya diam tidak menanggapi. Salsa semakin terisak melihat perubahan sikap Sri. Meski mereka baru saling kenal tapi Salsa tahu Sri orang yang baik.


"Sri katakan, aku salah apa sama kamu?"


Edgar menarik tangan Salsa namun kekasihnya itu tidak melirik ke arahnya. Ia hanya terus menatap ke arah Sri meminta penjelasan padanya. Ridwan menggeram melihat Sri yang hanya menunduk dan tidak mau menjelaskan.


"Woy, Salsa nanya sama, lo kok diam saja?"


Gue diam bukan berarti gue gak berani menjawab tapi untuk saat ini hati gue sedang terluka. Kenapa takdir begitu jahat sama gue. Gumam Sri kembali menitikkan air mata.


Sementara Edgar dengan cepat menarik lengan Salsa hingga wanita itu kembali jatuh dalam pelukannya.


Salsa menatap lekat ke arah Edgar lalu kembali membenamkan wajah kecewanya di dada bidang milik kekasihnya.


"Ed ..." lirihnya.


"Sudah honey jangan memikirkan orang lain, ayo kita keluar dari sini!" sahut Edgar yang tengah menahan emosi.


Ridwan pun menatap kecewa ke arah Sri, meski ia menyukai wanita mana saja tapi ia paling tidak suka pada wanita yang kasar. Sementara Salsa kembali melirik ke arah Sri namun Sri tidak menatapnya sama sekali. Salsa melangkahkan kaki bersamaan dengan Edgar yang terus memeluk pinggangnya keluar dari kamar itu.


KALIAN SEMUA JAHAT!