Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
Lupa


Setelah Edgar selesai menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya, kini pria dan wanita paruh baya itu mengerti. Bunda Elia merasa sangat iba pada perempuan itu.


Tak berapa lama terdengar suara teriakan tangis histeris dibalik pintu kamar. Sontak membuat Edgar, bunda Elia dan pak Erwan terkejut. Mereka beriringan segera memasuki kamar itu.


Saat dibuka, ternyata perempuan itu sudah sadarkan diri, ia sedang menangis sebari menekuk memeluk kakinya. Kelihatan sekali betapa terpuruknya perempuan itu. Bunda Elia mencoba mendekatinya lalu duduk di sisi ranjang. Ia mengelus rambut perempuan itu, suara tangisannya pun semakin histeris seperti orang yang sedang depresi.


Perempuan itu memeluk bunda Elia, mendekapnya dengan pelukan erat membenamkan wajahnya menumpahkan air mata disana. Begitupun dengan bunda Elia mengusap-usap punggung perempuan itu berusaha untuk menenangkannya.


Sementara pak Erwan hanya memandangi kedua wanita yang sedang berpelukan itu merasa ikut iba. Sementara Edgar memalingkan wajah tak perduli.


Lalu apa artinya pada saat di lokasi kecelakaan?


Jika ia tidak memperdulikannya, mengapa sampai membawa perempuan itu ke rumahnya?


Salsa saja kekasihnya belum pernah di bawa ke rumahmya menemui kedua orang tua Edgar.


Edgar terlihat bodo amat, ia berlalu dari kamar itu menuju kamarnya bergegas untuk mandi. Sesekali ia memijat pelipisnya merasakan sangat pusing dan lelah sekali hari ini.


***


Sementara di luar sana Vini, Lia dan Hazrina sudah sampai di depan rumah Edgar. Mereka saling menunjuk siapa yang duluan masuk ke rumah itu.


Ya, rumah yang megah dan mewah membuat nyali mereka bertiga menciut karena pikirannya mereka tidak akan di terima masuk dengan baju gembel seperti ini. Padahal baju mereka ini yang paling bagus sedunia di dalam lemarinya.


Lah kok jadi ngurusin baju si?


Emang kalau bajunya jelek, mau masuk rumah ini harus di copot dulu terus telanjang gitu? Enggak juga kan.


Alasan yang tidak logis. Mereka saling mendorong satu sama lain. Akhirnya Vini jengah dan mulai melerai masalah.


"Jadi sekarang masalahnya di sini apa?" tanyanya yang seketika membuat kedua temannya itu menatapnya dengan menyeringitkan dahi.


"Mana ku tahu," sahut Hazrina dan Lia bersamaan.


Vini yang melihat raut wajah kedua temannya itu menghela nafas. Memang harus sabar menghadapi kepolosan dua anak ini. Lalu Vini memberanikan diri berjalan menuju gerbang utama rumah Edgar. Kedua temannya melongo melihat keberanian Vini. Mereka berdua mengikuti dibelakangnya.


"Heeelllooo!" Sahut Hazrina memanggil dengan nada tinggi.


Sontak Vini terkejut mendengarnya karena suara Hazrina sangat nyaring mengenai telinganya. Ia membalikkan tubuhnya lalu sorot tajam matanya mengarah pada Hazrina. Seketika Hazrina menciut, menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara Lia mengumpat di belakang tubuh Hazrina karena takut melihat wajah Vini yang menjadi menyeramkan melebihi hantu sadako. Seram sekali rasanya jantungnya mau copot.


Vini menghela nafas mencoba menenangkan dirinya dan berbalik menatap pagar hitam besar yang menjulang tinggi.


"Assalammualaikum, permisi." Sahutnya.


"Assalammualaikum, ada orang tidak?" sahut Hazrina dan Lia bersamaan.


"Permisi, permisi,"


Mereka bertiga mendengus kesal setelah lima belas menit berada di sana tapi tidak ada yang membukakan pintu gerbang, seperti seorang murid sekolahan yang telat datang.


Hazrina dan Lia mulai lelah, mereka bolak-balik kesana kemari.


"Hei, kalian bisa duduk gak si? semenjak tadi kalian cuma mondar mandir kesana kesini." Sahut Vini mulai jengah melihat kedua temannya.


Tak berapa lama Hazrina menyandarkan tubuhnya ke tembok di pinggir gerbang itu.


Ting..tong..


Hazrina terkejut dengan suara nyaring itu, begitupun dengan Vini dan Lia mulai mengarahkam pandangannya pada Hazrina. Lalu Vini beranjak berjalan menuju Hazrina. Membalikkan tubuh Hazrina untuk menjauh dari tembok itu. Dilihatnya sebuah benda kecil menempel di tembok itu.


"Ya ampun, kenapa gue ini **** banget ya?"


Sedangkan Hazrina dan Lia saling memberi pandangan tak mengerti.


"Kalian tidak sadar, kalau rumah sebesar ini pasti memiliki banyak bel yang di pasang atau bahkan cctv."


"Oh iy-"


Tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan kedua temannya. Vini langsung saja menekan bel itu berulang kali. Tak berapa lama keluar seorang wanita memakai seragam khusus sepertinya asisten rumah tangga membukakan pintu gerbang.


"Ada keperluan apa ya non?" tanya perempuan itu.


"Eh iya saya kemari ingin menemui Edgar, kalau Edgarnya ada? " tanya Vini.


"Oh, tuan Edgar ada, baru saja tuan kembali bersama seorang gadis."


"WHAATTT?"


Hazrina tersentak kaget mendengar hal itu, seketika pandangan semuanya beralih pada Hazrina. Seketika Hazrina menutupi mulut dengan kedua tangannya.


"Gadis siapa ya bi?" tanya Vini penasaran.


"Bibi si kurang tahu ya, soalnya tadi kelihatannya tuan Edgar menggendong gadis itu sepertinya gadis itu pingsan. Ya sudah non mari masuk,"


"Eh iya bi,"


Mereka berjalan menuju pintu rumah yang dibukakan oleh asisten di rumah ini. Sepanjang melangkahkan kaki, mereka saling pandang berusaha menerawang siapa perempuan itu.


***


Di sebuah kamar yang megah dan luas dengan cat berwarna biru muda dengan beberapa piala mendominasi keindahan kamar tersebut.


Edgar baru keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk dipinggangnya. Melihatkan otot-otot tubuhnya, dengan dada bidang, wajah yang tampan dengan rambut yang terkena percikan air. Ia menuju lemari mengambil pakaian santai untuk di kenakannya.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu.


"Permisi tuan,"


"Iya ada apa bi?"


"Di ruang tamu ada tiga orang perempuan muda katanya mau bertemu dengan tuan,"


Edgar menyeringitkan dahi, ia memikirkan siapa yang malam-malam datang ke rumahnya.


"Baiklah bi, sebentar lagi saya ke sana,"


"Siap tuan, saya permisi," sahutnya dibalik pintu kamar Edgar.


Edgar mulai menyisir rambutnya dan memakai parfum lalu beranjak keluar kamar menuju ruang tamu.


Saat menuruni tangga pandangannya tertuju pada tiga perempuan itu, Ia mengenalinya lalu menghampiri mereka bertiga.


"Hey, ada apa kalian kemari?" tanyanya seraya duduk di sofa.


"Eh kami kemari di suruh Salsa," sahut Vini.


"Ya ampun dah gue lupa." jawabnya dengan raut wajah terkejut.


"Ya ampun bisa-bisanya lo sampai lupa sama Salsa," celetuk Lia.


"Kata Salsa, lo gak bisa dihubungi," sahut Vini.


"Terus siapa perempuan yang dibawa lo?"tanya Hazrina dengan raut wajah dibuat seseram mungkin tapi malah kelihatan menggemaskan.


Sederet pertanyaan terlontar dari ketiga mulut sahabat Salsa. Edgar merasa tersudutkan, tapi ini semua memang kesalahan dirinya, tidak mengabari Salsa. Perempuan yang dia bilang sangat berharga bagi dirinya. Mungkin disana Salsa sedang mencemaskannya.