
Satu jam berlalu, akhirnya Edgar tiba di Sekolah Salsa dengan wajah khawatir sekaligus geram. Edgar berlari menuju ketiga sahabatnya Salsa.
"Bagaimana apa sudah ada kabar tentang keberadaan Salsa?" tanya Edgar dengan wajah cemas.
"Belum, para panitia sedang mencari Salsa menuju hutan,"sahut Vini dengan mata nanar.
Edgar tak menghiraukan kata Vini, ia langsung bergegas lari menuju hutan.
***
Sementara itu,Salsa terduduk memeluk kedua lututnya.Ia benar-benar ketakutan dengan tubuh gemetar dan menggigil karena mungkin udara yang begitu sangat dingin. Ia terus membasahi pipinya tak henti memanggil nama Edgar dan kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian, Salsa beranjak berdiri karena mendengar suara teriakan Edgar memanggilnya.Ia berusaha berteriak sekuat tenaga karena tubuhnya mulai terasa lemah.
"Edgarrrrr... aku disini, aku takut," Salsa berteriak, sekilas pandangannya mulai buram.
"Kamu dimana sayang? Kamu dimana?" teriak Edgar.
"A-a-aku disini,"
Barusan aku mendengar suaranya, tapi dimana? Aku merindukanmu, semoga semua baik-baik saja.
Edgar terus menelusuri hutan hingga akhirnya ia melihat tubuh Salsa tergeletak di kumpulan dedaunan. Edgar berlari menuju Salsa, air mata yang sudah membendung mulai membasahi pipinya.
"Sayang, bangun!!!" sahut Edgar setengah berteriak menggoyang-goyang tubuh Salsa.
Perasaan Edgar antara cemas dan khawatir karena tubuh Salsa begitu dingin dengan wajah pucat. Ia berlari menggendong Salsa keluar dari hutan tersebut.
Ketika sampai di sekolah Edgar di bantu oleh sekumpulan panitia dan petugas kesehatan. Tubuhnya dipenuhi keringat karena berlari sekuat tenaga menggendong Salsa. Tim kesehatan membawa Salsa keruangan dan langsung memanggil dokter.
Tak lama kemudian datang kedua orang tua Salsa, berlari menuju ruang dimana Salsa terbaring lemah. Ibu Meila terus menangis dipelukan suaminya, ia sangat khawatir begitu pun Pak Romi. Davin yang cukup sudah mengerti akan hal seperti ini,dia pun ikut menangis juga.
Kamu pasti kuat sayang, kamu mentariku. Ayo cepat sadar demi aku dan kedua orang tuamu.
Setelah berapa lama seorang dokter keluar dan memberitahu bahwa Salsa tidak apa-apa. Ia hanya trauma dan butuh istirahat. Mendengar kabar itu mereka cukup tenang. Satu per satu mulai memasuki ruangan untuk melihat kondisi Salsa. Setelah semua selesai, giliran Edgar bertemu dengan Salsa.
Edgar memasuki ruangan dan mendapati Salsa terbaring lemah dengan wajah yang masih sedikit pucat.Ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata di depan kekasihnya.
"Sayang, kamu tidak papa kan?" tanya Edgar menatap wajah Salsa dan menggenggam tangannya erat.
"Aku tidak papa sayang, kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawab Salsa tersenyum.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Bahkan orang yang berharga dalam hidupku jadi seperti ini."
"Aku gak papa sayang, aku hanya khawatir sama kamu.Setelah ini aku tidak mengijinkanmu untuk ikutan yang gitu lagi!" sahut Edgar dengan muka masam.
"Iya sayang, terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku dan menyelamatkanku sekaligus menggendongku," sahut Salsa tersenyum satu kecupan mendarat di bibir Edgar.Muaahhh.
"Ehh mulai bandel ya kamu awas nanti ya!" ancam Edgar sebari tertawa.
Bahkan dalam kondisi apa pun kamu tetap berusaha menunjukkan senyum padaku. Ahh, berapa beruntungnya aku memilikimu.
***
Sementara itu anak buah Edgar sudah menemukan informasi tentang pemuda misterius. Mereka langsung menelpon Edgar.
**
Seketika bercanda dengan Salsa, membuat hati Edgar sudah cukup senang. Tak lama ponsel Edgar berdering.
"Sayang, aku angkat telpon dulu ya,"
"Iya sayang,"
Edgar beranjak pergi keluar dari ruangan Salsa. Ketiga sahabat Salsa bergiliran memasuki ruangan.
"Hallo, ada apa?" tanya Edgar setengah berbisik.
"Tuan, kami sudah menemukan petunjuk tentang latar belakang pemuda misterius itu,"
"Siapa dia? katakan!"
"Dia bernama Leondra Wijaya, seorang anak dari pak Ramlan yang bekerja di salah satu perusahaan ayah anda tuan,"
"Terus apalagi informasi yang lain? apa hubungan pemuda itu dengan Salsa?"
"Maaf kalau saya lancang mengatakannya tuan, pemuda itu mencintai nona Salsa, tapi mungkin nona Salsa tidak mencintainya jadi ia berusaha untuk terus mendapatkan nona Salsa."
Tapi kenapa Salsa belum pernah menceritakan masalah ini padaku? ini kan sangat berbahaya baginya. Aku akan menanyakannya nanti.
"Bagus! saya suka kerja kalian, selidiki terua dia jangan sampai dia punya celah untuk menyentuh wanita yang saya cintai," tegas Edgar.
"Baik Tuan."
Edgar menutup telponnya dan kembali menuju ruangan. Salsa sedang tertawa bersama ketiga sahabatnya. Ia selalu tersenyum dalam kondisi apapun tak pernah menunjukkan kesedihannya.