
Edgar yang menggendong Zia sedangkan Salsa di sampingnya saling berpegangan seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Mereka berlalu masuk ke dalam rumah menuju ruang makan. Edgar dan Zia duduk sementara Salsa sibuk memasak di dapur.
Ia membujuk Zia untuk bermain dulu dengan mainannya supaya tidak bosan menunggu. Edgar beranjak menuju dapur. Di dalam sana Salsa sedang membuat spageti,aroma makanan yang mengundang perut.
Edgar melingkarkan tangannya di pinggang Salsa lalu dagunya berada di bahu kanan Salsa.
"Sayang, aku rasa sebaiknya kita cepat menikah,"bisiknya.
"Sayang diam dulu, aku lagi masak,"
"Aku bantuin ya, gini-gini juga aku jago masak loh," ujarnya sesekali menciumi leher Salsa yang terbuka.
"Sayang diam ya,"
Edgar mengambil alih posisinya memasak untuk wanita yang di cintainya. Salsa sempat melarangnya tapi apalah daya Edgar tetap pada pendiriannya.
Selesai memasak mereka kembali ke ruang makan. Zia masih sibuk dengan mainannya.
"Zia sayang, ayo kita makan dulu!" ajak Salsa.
Zia menghampiri Salsa dan Edgar. Mereka menyantap makanan bersama.
"Gimana sayang, enak?" tanyanya mengkerutkan dahi.
"Enak Ed, aku gak nyangka kamu bisa masak," puji Salsa.
"Eh gini-gini juga aku dari kecil sering bantu bunda,"
Setelah habis makanannya, Zia menonton video kartun Upin dan Ipin. Edgar menarik pinggang Salsa hingga wanita itu masuk dalam pelukannya. Mereka saling menatap lekat hingga akhirnya saling berciuman mesra.
"Sayang, maukah kamu pulang bersamaku?" ajaknya menatap Salsa.
"A-aku tidak bisa Ed," lirihnya.
"Kenapa? Apa ayahmu tidak membolehkanmu kembali ke rumahnya?" tanya Edgar dengan nada serius.
"Bukan begitu, tapi kedua orang tua Zia sedang pergi ke luar negeri karena urusan bisnis jadi aku gak bisa ninggalin dia sendiri disini."
"Kita kan bisa bawa Zia ke sana, sayang aku tidak bisa berlama-lama disini karena sebentar lagi aku akan menggantikan ayah di perusahaannya,"ujarnya dengan nada lesu.
"Bukan karena itu saja alasannya Ed, ayahku sudah menyuruhku disini dan mencari pekerjaan," ujar Salsa berusaha membendung air matanya saat ingat kejadian beberapa hari lalu.
"Aku tidak bisa jauh darimu Sa," lirih Edgar.
***
Flasback
Saat pak Romi sudah memutuskan akan menitipkan Salsa pada saudaranya. Ia sempat menolak dan tidak mau pergi ke sana. Karena meski pun hatinya terluka, ia masih enggan bila harus berjauhan dengan Edgar.
"Aku tidak mau kesana pak, aku mau disini. Aku bahkan masih mencintai Edgar," sahut Salsa.
"APA KAU BILANG? MASIH BERANI KAU MENGATAKAN NAMA PRIA BA*INGAN ITU!" ketus pak Romi dengan emosi yang membara.
Plakkk..
Pak Romi tidak bisa mengontrol emosinya, ia menampar pipi Salsa hingga Salsa tersungkur jatuh ke lantai. Salsa memegangi pipinya yang terasa panas dan bengkak akibat tamparan keras, air yang sudah membendung di pelupuk matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.
Baru pertama kalinya pak Romi menampar anaknya. Ia dipenuhi emosi tidak bisa mengontrol dirinya. Bu Meila yang melihat itu melirik suaminya dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Bu Meila menghampiri Salsa dan mendekap memeluknya erat dalam isak tangis. Seorang ibu bisa merasakan kepedihan dan rasa sakit yang di alami anaknya. Ia sangat tidak menyangka suaminya akan berbuat seperti itu pada darah dagingnya sendiri.
"Bapak nampar Salsa? bapak tega sama Salsa, aku benci bapak," sahutnya terus menitikkan air mata.
Bu Meila membantu Salsa bangun lalu Salsa berlari menuju kamarnya.
Pak Romi yang baru menyadari apa yang sudah dilakukannya terkulai lemas di lantai. Ia melihat tangannya sendiri yang menampar putri semata wayangnya. Bu Meila menghampiri suaminya.
"Ibu kecewa sama bapak," sahut bu Meila menangis dan beranjak pergi dari suaminya.
Pak Romi hanya berdiam tak bergeming.
Apa yang sudah aku lakukakan pada anakku? Gumamnya merasa menyesali perbuatannya.
Flasback off
***
"Kenapa kamu menangis sayang? apa aku salah bicara?" tanyanya bingung.
Salsa tidak bergeming, ia terus menangis dalam dekapan Edgar. Mungkin sekarang ia sedang memikirkan bagaimana ke depannya hubungannya dengan Edgar karena ia tahu ayahnya pasti tidak akan merestui hubungannya.
Edgar yang dipenuhi tanda tanya tidak berani menanyakan kembali pada Salsa karena ia takut Salsa khawatir dengannya. Ia terus memeluknya erat sebari mengusap-usap punggung Salsa supaya lebih tenang.
Setelah beberapa menit, Salsa menatap dan mencium bibir Edgar sekilas.
"Ayolah sayang jangan menangis lagi, kalau terus menangis nanti aku tidak akan peluk lagi," godanya.
Salsa tersenyum dan mencubit perut Edgar itu.
"Eh mulai berani cubit-cubit ya," goda Edgar.
Edgar menggelitik Salsa hingga Salsa tertawa dan berusaha membalasnya. Asyik sekali mereka berduaan hingga lupa pada Zia.
Hampir tiga puluh menit mereka melupakan Zia dan baru tersadar bahwa anak kecil itu tidak bergeming. Salsa langsung berlari menuju Zia, ternyata anak itu sudah terlelap tidur di depan layar laptop yang masih menyala dengan tayangan film kartun.
Salsa menghampirinya diikitu oleh Edgar disampingnya. Mereka berdua duduk di samping Zia yang tertidur lalu membelai lembut rambutnya.
Edgar melingkarkan tangannya pada bahu Salsa.
"Sayang, kalau kita sudah menikah,kamu mau anak berapa?" tanyanya tersenyum.
"Kamu ini sudah bahas anak saja!"Salsa menjewer telinga Edgar.
"Auuu...sakit sayang, aku serius, gak apa-apa kan kita berencana dulu," ujarnya.
"Dua anak lebih baik Ed," jawabnya.
"Lah sedikit banget sayang, aku maunya sepuluh anak,"
"isss... memangnya aku mesin pencetak anak apa?"
"Tidak ada salahnya sayang kalau kita mencoba," godanya.
"Stop Ed, otak kamu harus di cuci biar gak mesum!"
"Aku pria normal sayang, boleh yah?" godanya menciumi pipi Salsa.
"Jangan! atau aku tendang ya," Salsa berdiri dan mengarahkan kakinya ke arah kepunyaan Edgar.
Edgar refleks menutupi dengan tangannya. Salsa yang melihat itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalau si spike kamu tendang, nanti kita bikin anaknya pake apa?"
"Siapa spike?" tanya Salsa bingung.
Edgar beranjak dari duduknya dan menghampiri Salsa akan tetapi Salsa menghindar dan berlari lalu Edgar mengejarnya. Mereka seperti anak kecil yang sedang bermain lari-larian.
Di sela larinya itu diiringi gelak tawa diantara keduanya. Edgar sangat bahagia melihat senyum dan tawa yang selalu terukir di wajah Salsa. Apalagi jika tertawa dan senyumnya itu karena dirinya.
Ia sudah berjanji pada dirinya, tidak akan membuat wanita yang paling berharga dalam hidupnya menangis karenanya. Setelah selesai main kejar-kejaran mereka membaringkan tubuhnya di sofa, nafas mereka tersengal-sengal. Edgar mendekatkan dirinya pada Salsa.
"Sayang,kamu tadi kan nanyain siapa spike," sahutnya menggoda Salsa.
"Iya, memang kenapa?"tanya Salsa mengangkat sebelah pelipisnya.
"Apa kamu mau berkenalan lagi dengannya?"
Aaaaaaa... Edgar mesum.
***
Terimakasih untuk dukungan kakak semua yang sampai sekarang masih setia dengan novel Menikah Muda😍 Maaf jika banyak yang typo atau ceritanya kurang greget😃 Author masih pemula 😊jadi mohon untuk kritik dan sarannya yang membangun😍
jangan lupa like, vote, rate dan juga dijadikan Favorit supaya bisa terus mengikuti jejak Author💪😚
Terimakasih untuk semuanya😚Happy Reading😉