Misteri Cinta Remaja

Misteri Cinta Remaja
MM (6)


Jarak wajah yang cukup dekat di antara keduanya. Salsa tersenyum mengusap lembut wajah tampan Edgar.


"Kenapa aku baru menyadari jika kekasihku ini begitu tampan?" Ungkapnya menggoda, mengelus pipi kekasihnya.


Edgar menarik pinggang Salsa hingga tubuh mereka semakin rapat. Kening yang saling menempel, hembusan nafas yang saling menerpa wajah.


"Aku sudah tampan dari lahir, kau tidak perlu berkata jujur seperti itu!" Edgar tersenyum, sungguh manis bibirnya itu.


"Wah benarkah tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya, aku kira dulu kamu itu jelek ...." ujar Salsa terkekeh.


"Kau ini ya!"


Saat Edgar hendak mendaratkan benda kenyal itu. Sepasang suami istri melewati mereka berdua dan melihat apa yang akan Edgar lakukan pada Salsa.


***


"Tuh kan, lihatlah mereka romantis sekali. Ayah sekarang tidak begitu lagi sama bunda. Ayah selalu sibuk bermain game hingga melupakan bunda," ujarnya memasang wajah cemberut lalu menyenggol lengan suaminya


Suaminya yang sedang fokus bermain game tiba-tiba teralihkan mendengar ucapan istrinya.


"Bu-bukan begitu bunda," Tidak sempat menjelaskan, istrinya itu berjalan cepat meninggalkan suaminya.


Sementara suaminya kalang kabut mengejar langkah istrinya lalu mendecak kesal karena kalah bermain game.


***


Sedangkan Edgar dan Salsa tidak jadi melakukan hal itu. Mereka tertawa melihat tingkah sepasang suami istri.


"Ed ... nanti kau jangan begitu ya!"


"Eh ... kok jadi aku?"


Salsa berlalu dari sana. Edgar mengikuti langkahnya dari belakang hingga tepat berhenti di pinggir jalan dimana mobil Edgar berada. Edgar mendekat memeluk Salsa dari belakang, membenamkan wajahnya di bahu Salsa.


"Honey, kau tadi naik apa kemari?"


"Memang kau pikir aku naik apa?"


"Naik angkot, naik sepeda mungkin," ledek Edgar.


"Ih ..." Salsa mendengus kesal, melipat kedua tangannya di dada.


"Karena kau tidak mungkin mengendarai motor, ya kan?"


"Aku kesini jalan kaki, lihatlah!" Salsa menunjuk ke arah kakinya, mengangkat sedikit kakinya lalu memperlihatkan tanda merah di sana.


Edgar tidak menyangka, ia membalikkan tubuh Salsa untuk menghadap padanya. Setelah mereka saling berhadapan, Edgar berjongkok memegangi pergelangan kaki Salsa.


"Honey, kakimu terluka, mengapa tidak mengabariku?"


"Isssh ... bagaimana mau mengabarimu, jika kamu saja sedang marah ke padaku."


Edgar mendongkakkan kepalanya menatap lekat bola hitam itu. Edgar berdiri lalu memegangi kedua pipi Salsa.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," sahutnya meminta maaf, menyesali perbuatannya.


Salsa hanya mengangguk lalu kembali memeluk Edgar.


"Honey, marilah ikut denganku. Kita ke rumah Ridwan dulu karena ponselku ketinggalan di sana."


"Ridwan, siapa dia?"


"Kau dulu mengenalnya, dia sahabatku. Aku seperti ini karena dia menyadarkanku dimana letak kesalahanku."


"Oh iya, aku ingat Ridwan yang dulu pernah kita temui di sekolah kamu, kan?"


Edgar membalas dengan anggukkan membenarkan perkataan Salsa. Kakinya yang lecet akibat berjalan jauh dari rumah menuju danau. Itulah cinta membutakan segalanya.


Edgar dengan sigap menggendong Salsa masuk ke dalam mobilnya. Salsa hanya tersenyum bahagia.


Saat di dalam mobil, Edgar paling senang menggoda apalagi meledek Salsa karena sikapnya yang selalu menggemaskan.


"Honey, tubuhmu sangat bau, apa kau tidak mandi?" ledek Edgar terkekeh dengan pertanyaannya sendiri.


"Memangnya kenapa kalau dua hari ini aku tidak mandi," ketusnya memasang wajah masam.


"Kau jorok sekali, pantas saja kau bau."


"Bukankah pasangan yang bertahan lama itu harus selalu diawali dengan kejujuran, nah saat ini aku sedang berkata jujur." Ungkap Edgar berhasil memancing Salsa hingga wanita itu mendengus kesal dan memukul lengan Edgar yang tengah melajukan mobil.


"Sudah honey, sudah ... aku sedang mengendarai mobil. Aku hanya bercanda, hahaha ...." Edgar tertawa, benar saja Salsa sangat menggemaskan.


Terjadi keheningan sesaat sampai akhirnya Salsa mulai mengeluarkan suara kembali.


"Ed ...."


"Iya, honey?" Masih terfokus pada jalanan.


"Nanti, aku boleh ..." ucapnya ragu.


"Boleh apa, kau mau aku menciummu?"


"Aku mau mandi, badanku lengket dan bau."


"Tuh kan, aku tadi sudah katakan kamu memang bau. Sudah nanti kamu mandi di rumah Ridwan saja."


Salsa kembali mendengus kesal, memasang mimik wajah semasam mungkin. Edgar hanya terkekeh melihat kekasihnya itu.


***


Rumah kediaman Ridwan Zaelani


Tiga puluh menit kemudian, mobil Edgar sudah terparkir di halaman rumah Ridwan. Mereka berdua turun dari mobil lalu Salsa menyelipkan tangannya di lengan Edgar. Ia sangat malu karena wajahnya begitu pucat dan mata yang sembab, badannya pun bau karena tidak mandi.


Namanya juga cinta, Edgar tidak protes ya cinta-cinta saja meskipun memang iya badan Salsa bau asam.


Edgar menekan tombol bel rumah Ridwan. Tak berapa lama Ridwan muncul di balik pintu.


"Ay, Ay ada yang baru baikan nih," ledek Ridwan mendapat tatapan tajam dari Edgar.


"Berisik tahu lo, gue sumpel juga tuh mulut."


Ridwan pura-pura bergidik ketakutan sementara Salsa bersembunyi di balik punggung Edgar menyembunyikan wajahnya yang kian memerah.


"Yaelah marah mulu, lihat noh Sa, pacar lo sensi banget dari pagi. Belum lo kasih susu ya?" ledek Ridwan.


Edgar mendengus kesal, ia memukul kepala Ridwan.


Plukk ....


Ridwan meringgis kesakitan, memegangi kepalanya.


"Hahaha ... makanya lo diam, jangan ngomong mulu. Gue mau masuk," sahut Edgar menyingkirkan tubuh Ridwan dari ambang pintu berlalu masuk ke dalam rumah.


"Woy Edgar Atmaja, ini rumah gue. Dasar tak tahu diri," teriak Ridwan memenuhi isi rumahnya, menggerutu memaki Edgar berlalu menutup pintu.


Sementara Salsa terus menggengam lengan Edgar, ia menjadi malu atas perbuatan kekasihnya ini. Meskipun wajar juga dan masih beruntung ini di rumah sahabatnya sendiri.


"Honey, semalam aku tidur di kamar tamu di sebelah sana. Kamu bisa mandi di sana," ujarnya menunjuk ke arah kamar itu.


"Baiklah tapi kamu tunggu di sini ya!" ucap Salsa ragu karena rumah Ridwan semewah dan sebesar ini. Ia belum pernah mandi di rumah orang lain kecuali di rumahnya sendiri ataupun di rumah tante Maria.


"Ya, aku tunggu disinilah honey, memang kau mau aku temani mandi?" godanya.


"Ih ... enak saja," ketus Salsa.


Edgar terkekeh sungguh menggemaskan sekali kekasihnya ini. Salsa mencubit lengan Edgar sampai pria itu meringgis kesakitan.


Salsa berlalu menuju kamar tamu itu namun ia lupa menanyakan sebelah mana kamar tamunya karena di sana ada dua pintu kamar.


Salsa membuka salah satu kamar itu, berjalan memasuki kamar itu, ia melihat kaki jenjang putih dan mulus. Saat melihatnya ia terkejut dan menjerit begitupun dengan wanita yang tengah menelungkup itu.


"Aaaaaaa ...." teriaknya secara bersamaan.


Sementara Edgar dan Ridwan yang berada di ruang tamu tengah terduduk sebari menyeruput secangkir kopi, tersedak ketika mendengar teriakan itu. Kedua pria ini kalang kabut berlarian menuju suara teriakan itu.


***


Hai readers setia Menikah Muda, untuk bab awal banyak yang aku revisi dan ditambahkan ceritanya.. bisa kalian cek dan bacanya semoga suka. Aku baru revisi sebagian belum semua juga karena awal nulis itu sangat belepotan entahlah pertama bkin novel ini aku hanya iseng gk ngerti ini itu dan alhasil cape sndiri. wkwk.


Maaf ya jika part ini membosankan, gk dapat feel nya.. Imajinasiku sedang melemah karena sehari aku up 3 novel yang berbeda.


Jangan lupa dukungannya Like, vote dan komen ya. terimakasih.